Suap Panitera PN Jakarta Pusat: MA Persilakan KPK Buktikan Dugaan Penyembunyian Royani

Juru bicara Mahkamah Agung (MA) Suhadi meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan soal dugaan penyembunyian saksi yang diduga dilakukan oleh salah satu oknum di lembaga tersebut.
Edi Suwiknyo | 17 Mei 2016 18:13 WIB
Lambang Mahkamah Agung - Antara/Andika Wahyu

Kabar24.com, JAKARTA – Juru bicara Mahkamah Agung (MA) Suhadi meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan soal dugaan penyembunyian saksi yang diduga dilakukan oleh salah satu oknum di lembaga tersebut.

Dia menyatakan, kalau memang KPK berniat mencarinya, pihaknya tidak akan menghalang-halangi.

Suhadi menambahkan, MA sebagai lembaga tidak pernah menghambat proses penyidikan yang dilakukan oleh lembaga antikorupsi tersebut. Kalaupun ada dugaan penyembunyian saksi itu bukan bagian dari institusi, tetapi oknum.

“Kalau disembunyikan ya dicari, dicari di mana lokasi persembunyiannya, kami di MA tidak pernah melakukannya,” ujar Suhadi, Selasa (17/5/2016).

Dia menolak berkomentar soal lokasi keberadaan Nurhadi dan orang dekatnya tersebut saat ini.

Dia mengatakan, sejak minggu lalu tidak tahu menahu soal perkembangan kasus tersebut karena sedang berada di luar kota.

“Saya masih ada kegiatan sejak seminggu yang lalu. Jadi tidak tahu perkembangan kasus tersebut,” tandas Suhadi.

Sebelumya, KPK menduga salah satu saksi terkait suap penitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (Jakpus) Royani disembunyikan oleh Sekretaris Jenderal MA Nurhadi.

Dugaan itu muncul, setelah orang yang dikenal dekat dengan Sekjen MA itu tak memenuhi panggilan penyidik lembaga antikorupsi.

Royani diduga disembunyikan, karena mempunyai informasi yang cukup penting, terutama keterlibatan Nurhadi dalam kasus tersebut.

Nama Nurhadi diketahui diduga terlibat dalam skandal suap tersebut setelah KPK mencegahnya ke luar negeri selama enam bulan ke depan.

Penyidik antirasuah juga menggeledah rumah dan ruang kerja Nurhadi.

Dalam penggeledahan itu mereka menyita uang senilai Rp1,7 miliar. KPK masih menelisik soal dugaan asal-usul uang tersebut.

Secara terpisah, Komisioner KPK La Ode M. Syarief berharap Royani segera datang memenuhi panggilan penyidik.

Dia tak memungkiri, ada sejumlah informasi yang dibutuhkan oleh KPK dari Royani.

“Dia sangat dicari oleh KPK. Karena ada info yang memang dibutuhkan dan ingin diketahui oleh penyidik,” kata Syarief.

Syarief memaparkan, kalau Royani tak kunjung memenuhi panggilan penyidik, KPK akan mengirimkan surat kepada MA.

Surat tersebut dimaksudkan agar MA menghadirkan Royani.

“Koordinasinya memang belum, tetapi kami akan mengirimkan surat kepada Mahkamah Agung,” jelas Syarief.

Namun demikian, saat dikonfirmasi soal pemanggilan terhadap Nurhadi, Syarief menjelaskan bahwa komisi antirasuah hingga saat ini belum akan memanggil Sekjen MA tersebut.

Kemarin KPK juga memeriksa tersangka Doddy Aryanto Supeno. Doddy diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk tersangka Edy Nasution.

Di dalam jadwal pemeriksaan dia juga diketahui sebagai pegawai PT Artha Pratama Anugerah.

Dalam kasus tersebut, selain Doddy, saksi yang berasal dari perusahaan tersebut adalah Wresti Kristian Hesti.

Komisioner KPK La Ode M. Syarief menyatakan, pihaknya belum mengetahui kaitan antara Doddy dengan perusahaan tersebut.

Namun demikian, penyidik masih mencari tahu soal keterkaitan antara PT Artha Pratama Anugerah dengan skandal suap tersebut.

KPK telah mencegah tiga orang saksi. Tiga orang itu yakni Sekjen MA Nurhadi, Royani, dan Chairman PT Paramount Enterprise International yang merupakan bekas petinggi Lippo Eddy Sindoro.

Adapun KPK telah menetapkan dua orang tersangka yakni panitera PN Jakpus Edy Nasution dan Doddy Aryanto Supeno.

Tag : Suap Panitera PN Jakpus
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top