Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KPAI Beberkan 8 Penyebab Anak Indonesia Belum Merdeka

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus masih kontraproduktif untuk kemerdekaan anak Indonesia.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Agustus 2015  |  11:43 WIB
KPAI Beberkan 8 Penyebab Anak Indonesia Belum Merdeka
Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus masih kontraproduktif untuk kemerdekaan anak Indonesia.

"Beberapa hal masih kontraproduktif dengan spirit kemerdekaan, kata Susanto, Minggu (16/8/2015).

Mendefinisikan kata kemerdekaan, katanya, tidak semudah mengatakannya sebagai slogan apalagi bila kita kaitkan dengan penyelenggaraan perlindungan anak.

Menurutnya, KPAI masih mencatat berbagai tindakan yang merugikan anak. Pertama, masih banyak anak menjadi korban eksploitasi ekonomi seperti menjadi pengemis, peminta-minta, korban jasa eksploitasi seksual karena dipaksa oleh orang dewasa.

Anak dinilai tidak berdaya melawan, menghindar apalagi menentang. Anak demikian harus dimerdekakan.

Kedua, lanjutnya, masih banyak anak yang menjadi korban pola pengasuhan yang salah. "Tidak sedikit anak yang dicubit, ditendang, dipukul, bahkan diciderai oleh orang terdekat dengan alasan mendidik," katanya.

Ketiga, banyak anak menjadi korban sistem sekolah yang bernuansa kekerasan dan senioritas. "Junior tidak kuasa melindungi dirinya dari kultur primitif kekerasan yang dibungkus kegiatan masa orientasi sekolah, pengenalan sekolah atau bahkan alasan pengkaderan," kata Susanto.

Keempat, masih banyak anak menjadi korban tontonan pornografi, kekerasan, konflik, bahkan kejahatan. Kondisi tontonan demikian harus dihapus untuk kepentingan terbaik anak.

Kelima, lanjut Susanto, masih banyak anak yang menjadi korban bisnis atas nama kebahagiaan dan keceriaan anak. Tidak sedikit arena bermain justru tidak sesuai dengan tumbuh kembang anak. Mainan berkonten peperangan, berkelahi, pembunuhan, banyak ditemukan dimainkan oleh anak.

Keenam, kata dia, masih banyak anak menjadi korban dari perilaku hidup yang tidak sehat untuk anak. Anak seringkali jadi korban perokok aktif yang berakhir sakit.

Ketujuh, kata Susanto, masih banyak anak menjadi korban eksploitasi politik. Seringkali anak dijadikan alat kampanye, juru kampenye bahkan ikut memobilisasi massa kampanye. Anak demikian harus dimerdekakan.

Kedelapan, masih banyak anak menjadi korban produk mainan yang bermasalah. Tidak sedikit anak bermain dengan media mainan tidak sehat, bau, dan mengandung bahan berbahaya untuk anak.

"Secara prinsip, anak memiliki hak untuk dimerdekakan. Semua pihak harus memastikan bahwa anak tidak menjadi korban kebijakan yang salah. Negara tidak boleh kalah," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kpai 17 agustus

Sumber : Antara

Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top