Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hadapi Bahaya Radikalisme, Imunisasi Ideologi Diperlukan

Pengentasan radikalisme yang kian berkembang di masyarakat, baik yang bersifat ideologis, kriminal hingga budaya memerlukan upaya yang sistematis, seperti imunisasi ideologi.
Dimas Novita Sari
Dimas Novita Sari - Bisnis.com 11 Mei 2015  |  10:20 WIB
Densus 88. - Antara
Densus 88. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pengentasan radikalisme yang kian berkembang di masyarakat, baik yang bersifat ideologis, kriminal hingga budaya memerlukan upaya yang sistematis, seperti imunisasi ideologi.

Wakil Ketua Fraksi PKS MPR Ahmad Zainuddin mengatakan radikalisme harus dihilangkan. Namun, caranya tidak boleh represif dan sewenang-wenang karena dapat menimbulkan radikalisme baru.

Menurutnya, sistem pertahanan nasional harus terus diperkuat dan sosialisasi tentang ideologi bangsa juga kian ditanamkan dengan langkah yang terukur dan sistematis. Semua elemen masyarakat dan bangsa harus terlibat dalam upaya penguatan ini.

"Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah dengan imunisasi ideologi," ujar Ahmad dalam keterangan tertulis, Senin (11/5/2015).

Direktur Eksekutif Centre for Indonesian Reform (CIR) Sapto Waluyo menambahkan imunisasi ideologi merupakan penanaman nilai atau orientasi yang harus dilakukan sejak dini dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan pergaulan.

Pembentukan karakter kepribadian diri akan membentuk seseorang memiliki pandangan yang jelas tentang masa depan. Pasalnya, bahaya kekosongan ideologi membuat kerentanan terhasut oleh kelompok yang memiliki kepentingan tersembunyi.

"Misalnya kegiatan rohis [rohani Islanm]di sekolah. itu sebenarnya salah satu bentuk imunisasi ideologi, karena kalau tidak ada rohis berbagai ideologi radikal bisa masuk ke sekolah. Banyak anggota rohis yang berprestasi olimpiade. Yang di luar justru terlibat tawuran," jelas Sapto.

Sementara itu, Rektor Universitas Ibnu Khaldun HE Bahruddin menyampaikan radikalisme dipicu faktor politik, ekonomi, pemikiran, hukum, psikologis dan pendidikan yang timpang.

"Eksekutif, legislatif dan yudikatif harus menjadi contoh yang baik dan mengedepankan sikap dan perilaku adil, baik di politik, ekonomi, pendidikan, dan hukum sehingga tidak menjadi penyebab lahirnya radikalisme baru," paparnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sekolah radikalisme ISIS
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top