Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ditjen Bea Cukai Gugat Kurator PT Bosaeng Jaya

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah Jakarta Pusat mengajukan permohonan keberatan atas kekurangan pembayaran tagihan PT Bosaeng Jaya yang telah berstatus pailit.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 23 April 2015  |  21:11 WIB
Ilustrasi - JIBI
Ilustrasi - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA--Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah Jakarta Pusat mengajukan permohonan keberatan atas kekurangan pembayaran tagihan PT Bosaeng Jaya yang telah berstatus pailit.

Kuasa hukum Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kantor Wilayah Jakarta Pusat Wahyu Kurniawan mengatakan tim kurator debitur belum melunasi tagihan yang telah diajukan saat proses kepailitan. Adapun, nilai tagihan yang telah diakui senilai Rp1,4 miliar.

"Alasan kami mengajukan permohonan keberatan ya karena tim kurator hanya membayar 50% dari total nilai tagihan yang telah diakui," kata Wahyu kepada Bisnis, Kamis (23/4/2015).

Dia menambahkan tagihan tersebut muncul dari bea masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRA) perusahaan pembuat sepatu tersebut. DJBC baru mendapatkan pembayaran tagihan tersebut pada 3 Maret 2015.

Dalam kesempatan yang sama, kuasa hukum tim kurator M. Prasetio mengatakan permohonan keberatan yang diajukan oleh DJBC sudah daluarsa. Keberatan paling lambat diajukan selang 5 hari setelah pembagian hasil penjualan aset diumumkan di media massa.

"Kami telah mengumumkan sejak 27 Februari 2015, tetapi kesempatan yang mereka punyai selama 5 hari ke depan ternyata tidak dipergunakan," kata Prasetio.

Lima hari setelah pengumuman tersebut, aset langsung dibagikan kepada para kreditur secara proporsional dan proses kepailitan dinyatakan telah berakhir. Proses pemberesan sudah selesai seiring dengan sudah mengikatnya pembagian hasil lelang boedel pailit.

Dia mengungkapkan kedua pihak sebenarnya telah menempuh upaya mediasi terkait dengan kekurangan pembayaran tersebut. DJBC sudah diberitahu bahwa menurut norma hukum yang berlaku mereka sudah tidak bisa mengajukan permohonan keberatan.

Tim kurator telah mengakui bahwa nilai aset debitur sangat tidak mencukupi untuk melunasi seluruh tagihan kreditur yang mencapai Rp130 miliar. Namun, pihak DJBC nyatanya tetap bersikukuh untuk mengajukan keberatannya.

Pihaknya mengaku langsung membagikan dana segar hasil penjualan aset debitur secara langsung sesuai dengan data yang telah diumumkan kepada publik. Pembagiannya dirasa tidak ada kesalahan.

Terlebih, lanjutnya, dalam proses kepailitan tersebut nominal rupiah yang dibayarkan sesuai kemampuan aset yang berhasil dikumpulkan oleh tim kurator. Adapun, boedel aset yang dimiliki Bosaeng hanya berupa sebuah pabrik beserta mesin-mesin produksi sepatu.

Prasetio menuturkan seluruh aset tersebut telah berhasil dijual dengan nilai sebesar Rp50 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan tim kurator yakni senilai Rp80 miliar.

"Bagaimana mau membayar kalau asetnya sudah habis, lagipula kreditur dari bank juga [dibayar] tidak penuh tetapi tetap legowo," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hukum ditjen bea cukai
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top