Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KAA BANDUNG: Pengusaha Jabar Minta Tingkatkan Ekspor

Kalangan pengusaha di Jawa Barat meminta momen Konferensi Asia Afrika mampu memacu kinerja ekspor berbagai produk Indonesia.
Adi Ginanjar Maulana, Hedi Ardhia & Maman Abdu
Adi Ginanjar Maulana, Hedi Ardhia & Maman Abdu - Bisnis.com 20 April 2015  |  15:41 WIB
Menteri Sekertaris Negara Pratikno (ketiga kiri), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (tengah), dan Menteri Pariwisata Arief Yahya (kedua kiri) melihat stan Pameran Kerjasama Selatan-Selatan Triangular (KSST) di Jakarta Covention Center, Minggu (19/4/2015). Pameran tersebut merupakan rangkaian dari Konferensi Tingkat-Tinggi (KTT) Asia Afrika 2015 yang berlangsung hingga tanggal 23 April 2015. - Antara
Menteri Sekertaris Negara Pratikno (ketiga kiri), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (tengah), dan Menteri Pariwisata Arief Yahya (kedua kiri) melihat stan Pameran Kerjasama Selatan-Selatan Triangular (KSST) di Jakarta Covention Center, Minggu (19/4/2015). Pameran tersebut merupakan rangkaian dari Konferensi Tingkat-Tinggi (KTT) Asia Afrika 2015 yang berlangsung hingga tanggal 23 April 2015. - Antara

Bisnis.com, BANDUNG—Kalangan pengusaha di Jawa Barat meminta momen Konferensi Asia Afrika mampu memacu kinerja ekspor berbagai produk Indonesia.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar Dedy Widjaja mengatakan selama ini ekspor dalam negeri masih mengandalkan negara Eropa dan Amerika sebagai negara tujuan pasar. Padahal, pasar seperti Afrika selama ini masih belum banyak dilirik.

Adanya momen KAA pemerintah harus bisa meyakinkan negara-negara itu untuk menjalin kesepakatan ekonomi bersama Indonesia.  

"Seperti ekspor makanan jadi, tekstil, dan sebagainya selama ini Indonesia mengalami penurunan ke negara Eropa dan Amerika. Sehingga adanya pasar baru seperti Afrika bisa mendongkrak kembali pasar ekspor dari Indonesia," katanya kepada Bisnis, Senin (20/4).

Menurutnya, China telah lama melakukan ekspor ke sejumlah negara Afrika, sehingga hal ini patut dicontoh oleh Indonesia.

Dia beralasan selama ini beberapa negara di Afrika masih berupa barang kebutuhan dasar. Sehingga penguatan penguatan kerja sama perlu dilakukan agar menumbuhkan keuntungan di antara kedua belah pihak.

“Pemerintah harus banyak memfasilitasi pengusaha lebih aktif menggelar pertemuan bilateral ke depannya bersama sejumlah negara Afrika," ujarnya.

Dia melanjutkan adanya Asean Economic Community (AEC) mulai Desember tahun ini beberapa negara Afrika juga dapat membantu Indonesia dalam meningkatkan kualitas industri dan sumber daya manusia.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinana Indonesia (Asmindo) Jabar Sumartja menyatakan KAA merupakan momentum tepat untuk memperlihatkan Indonesia yang sebenarnya kepada perwakilan negara yang hadir.

Dia mengatakan dari derasnya pemberitaan media tentang isu terorisme, kondisi politik dan masalah bencana alam sehingga ada anggapan dari sejumlah negara di Asia dan Afrika bahwa Indonesia adalah negara yang rawan.

Dia menuturkan dengan hadir di KAA perwakilan sejumlah negara tentunya bisa melihat langsung tentang kondisi positif yang ada di Indonesia seperti kondisi ekonomi yang stabil, stabilitas keamanan yang terjaga dan alam yang relatif bersahabat.

 “Bisa dibilang, KAA momentum memperbaiki citra atau kesan negatif dari pemberitaan tentang Indonesia,” katanya.

Sumartja mengungkapkan untuk mengambil manfaat secara langsung mungkin sulit dilakukan dari momentum KAA 2015 karena selama ini hubungan kerja sama di bidang ekonomi Indonesia dengan negara-negara di Asia dan Afrika masih terjaga dengan baik.

“Belum ada yang menyulitkan saat ekspor barang ke Asia dan Afrika, sekarang tinggal butuh perbaiki citra agar kepercayaan publik dunia semakin bertambah,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar mencatat, nilai ekspor Jabar Maret 2015 mencapai US$2,23 miliar, naik 8,91 % dibanding Februari 2015 yang mencapai US$2,05 miliar.

Kenaikan tersebut ditunjang oleh ekspor nonmigas yang naik 11,48% dibanding Februari 2015 menjadi U$S2,18 miliar dari US$1,96 miliar. Sementara, ekspor migas mencapai US$48,49 juta, turun 46,47% dibanding Februari 2015.

Adapun pangsa pasar terbesar ekspor nonmigas pada periode ini adalah Amerika Serikat, Jepang, dan Thailand yang masing-masing membukukan nilai US$431,44 juta, US$242,84 juta, dan US$139,11 juta.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Poppy Rufaidah mengatakan KAA merupakan momen tepat bagi pemerintah daerah terutama yang berada di Jabar aktif dalam memasarkan produk unggulan mereka.

Meski begitu, daerah di luar Bandung tidak menutup kemungkinan untuk bisa mengambil momen untuk untuk memperkenalkan potensi investasi yang ada di daerahnya.

Dia menjelaskan produk unggulan yang bisa dipasarkan ke beberapa negara yang menghadiri KAA terutama Afrika  antara lain kesenian, makanan, hingga fesyen.

Selama ini Afrika selalu identik dengan stigma negatif yang melekat pada negara-negaranya. Padahal dari data yang ada pertumbuhan ekonominya menunjukkan angka yang sangat baik. (k3/k6/k29)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Konferensi Asia Afrika
Editor : Bastanul Siregar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top