Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jumlah Wanita Muda di Australia yang Bergabung dengan ISIS Meningkat

Meningkatnya jumlah wanita muda yang bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengubah profil orang-orang Australia, kata Jaksa Agung George Brandis pada Sabtu (24/1/2015), karena mereka terpikat oleh "daya tarik salah" organisasi tersebut.
Redaksi
Redaksi - Bisnis.com 25 Januari 2015  |  07:06 WIB
Wartawan AS Steven Sotloff dipenggal oleh ISIS - Reuters
Wartawan AS Steven Sotloff dipenggal oleh ISIS - Reuters

Bisnis.com, SYDNEY - Meningkatnya jumlah wanita muda Australia yang bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengubah profil orang-orang Australia, kata Jaksa Agung George Brandis pada Sabtu (24/1/2015), karena mereka terpikat oleh "daya tarik salah" organisasi tersebut.

"Pada awalnya, mungkin enam bulan lalu, kami prihatin hampir semuanya merupakan pemuda," kata Brandis, menurut the Australian Broadcasting Corporation (ABC), seperti dikutip dari Antara, Minggu (25/1/2015).

"Tapi perkiraan lebih baru oleh lembaga-lembaga keamanan nasional menyebutkan bahwa jumlah wanita muda yang ikut serta dalam pertempuran itu juga meningkat," tuturnya.

Brandis mengatakan sekitar 90 warga Australia sekarang diyakini ikut dalam konflik itu, dibandingkan dengan 70 orang tahun lalu.

Lebih banyak anak muda yang terbujuk di Australia dengan daya tarik salah untuk berperan serta dalam perang saudara atas nama ISIL atau Daesh," tambahnya, sambil menggunakan akronim grup itu.

"Rakyat Australia hendaknya sadar bahwa ini merupakan masalah rik dan sedang berkembang," katanya.

Canberra telah mengesahkan undang-undang yang mengkriminalisasi mereka apabila melakukan perjalanan ke tempat-tempat konflik tanpa alasan yang dapat diterima pemerintah.  

Australia takut warganya akan menghadapi risiko ketika kembali menjadi radikal. Berdasarkan undang-undang baru, barangsiapa ke tempat-tempat yang akan dituju akan menghadapi hukuman 10 tahun penjara.

Pada Desember 2014, Senator Brandis menuding militan-militan menggunakan petempur-petempur asing sebagai 'alat propaganda' ketika ia mengungkapkan 20 warga Australia terbunuh di Suriah dan Irak, tempat para militan ISIS menguasai kawasan-kawasan luas.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

australia ISIS

Sumber : Antara

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top