Pelajaran Charlie Hebdo: Arogansi & Kebebasan Pers Bukan Tanpa Batas

Serangan atas kantor redaksi Charlie Hebdo memberikan pelajaran tentang arogansi dan kebebasan pers yang seharusnya bukan tak terbatas.
M. Syahran W. Lubis | 10 Januari 2015 12:20 WIB
Tokoh muslim dan Kristen di Abidjan, Nigeria, menunjukkan rasa duka dan belasungkawa atas korban tewas akibat penyerangan kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis - Reuters/Thierry Gouegnon

Bisnis.com, JAKARTA - Penyerangan kantor majalah Charlie Hebdo di Paris mengguncang dunia, karena hal seperti itu jarang terjadi di ibu kota Prancis tersebut.

Bagaimana pun, apa pun alasannya, penyerangan sedemikian tidak layak mendapat pembenaran secuil pun. Namun, dengan sangat berat hati, saya harus mengakui bahwa saya bisa memahami mengapa sampai muncul keinginan untuk menyerang dan akhirnya benar-benar merealisasikannya.

Sekali lagi: dapat memahami bukan berarti membenarkannya.

Atas nama kebebasan pers, kerap kali insan yang berkecimpung di dunia jurnalistik, disadari ataupun tidak, melakukan penyerangan terhadap pihak mana pun dan dalam bentuk apa pun.

Jika penyerangan itu masuk wilayah pihak lain yang tak lagi bisa ditoleransi, apa lagi menyangkut hal yang sangat mendasar sehingga mencabut izzah (kemuliaan) seseorang, itulah yang berpotensi memicu resistensi, dan jika ‘dimasak’ lebih jauh lagi, akan timbul pembalasan.

Maknanya, kebebasan pers, seperti yang dilakukan Charlie Hebdo dengan mengolok-olok Rasulullah Muhammad SAW ataupun Paus Fransiskus, seharusnya disadari ada batasannya yakni kehormatan seseorang.

‘Seseorang’, bukan sekadar kelompok kecil atau kelompok besar. Perusakan kehormatan terhadap satu orang hakikatnya sama saja dengan merusak kehormatan beberapa orang ataupun kelompok besar. Yang berbeda adalah potensi pembalasannya. Makin banyak orang yang merasa izzahnya dicabut, maka makin besar pula potensi si pelaku untuk mendapatkan pembalasannya.

Di sisi lain, kasus penyerangan kantor redaksi majalah Charlie Hebdo pun mencerminkan arogansi. Saru arogansi di sisi redaksi Charlie Hebdo yang berpikir kebebasan pers tanpa batasan, di sisi lain kesombongan pelaku penyerangan yang menggunakan hak Allah SWT untuk mencabut nyawa manusia.

Sudah sangat jelas yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW bahwa Islam selalu mengedepankan kasih sayang dalam memberi pengertian terhadap golongan (lain) yang tidak (mau) mengerti.

Arogansi atau kesombongan adalah pakaian, tapi itu adalah pakaian Allah SWT dan manusia sama sekali tidak boleh mengenakannya barang setitik pun. Kasus Charlie Hebdo jelas adalah pelajaran: jangan memakai pakaian Allah dan berhentilah dunia pers untuk berpikir bahwa kemampuannya menulis adalah senjata yang bebas sebebas-bebasnya tanpa batasan apa pun.

Kebebasan pers ada batasnya. Kehormatan seseorang atau sekelompok orang, apa lagi golongan yang demikian banyak jumlahnya, adalah pembatas itu.

Tag : Charlie Hebdo, chmsl
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top