Bisnis.com, JAKARTA - Polis Diraja Malaysia (PDRM) melakukan pendalaman terhadap 12 WNI yang dicekal keberangkatannya ke Turki melalui Malaysia untuk bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebelum akhirnya dideportasi.
"PDRM melakukan pemeriksaan 12 hari sejak penangkapan pada 2 Desember, didalami di sana kemudian diputuskan dikirim kembali ke Indonesia," kata Kabag Penerangan Umum Humas Mabes Polri Kombes Pol Agus Rianto, Rabu (17/12/2014).
Untuk mendalami pemeriksaan tersebut, para interpol di kedua negara saling berbagi informasi untuk membuktikan keterlibatan WNI yang akan Suriah melalui jalur Istanbul Turki tersebut.
Menurutnya, para interpol dan PDRM mencurigai WNI itu akan bergabung dengan ISIS, melihat dari jalur perjalanan yang akan ditempuh. "Hasil komunikasi kita sama negara sahabat, interpol ada hal yang dicermati, terutama mereka yang terlibat dan sudah divonis sehingga diawasi intensif," ujarnya.
Saat ini, lanjutnya, para WNI masih didalami motifnya terkait dengan terorisme hingga 6 hari ke depan di Mako Brimob Kelapa Dua, Jawa Barat. Mereka masih dimintai keterangan.
Jika tidak terbukti adanya tindak pidana terorisme selama pemeriksaan 7x24 jam maka Polri berkewajiban melepaskan ke-12 WNI. Selain itu, penyidik juga dalam pemeriksaan menyita barang bukti, khususnya yang berkaitan dengan ISIS. "Tidak ada, bendera juga tidak ada," jelas Agus.
Dari 12 WNI yang terdiri dari tiga laki-laki dewasa, empat wanita dewasa, dan lima anak-anak itu, salah satunya ialah mantan napi, M Sibgotuloh, yang baru saja keluar lapas atas hukuman kasus terorisme dengan merampok Bank CIMB Niaga. Selain itu, para wanita dewasa dan anak-anak yang berada dalam rombongan itu ditengarai akan menyusul suaminya yang sudah terlebih dahulu berangkat ke Suriah.
Para WNI tersebut rata-rata berasal dari Surabaya, Magetan, Blitar, dan Kutai Kartanegara.