Listrik di KIMA Dihantui Pemadaman, PLN Janji Segera Perbaiki

Bisnis.com, MAKASSAR - Direktur Utama PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) Bachder Djohan mengkhawatirkan pelayanan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) ke kawasan industri.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 28 Agustus 2013  |  20:57 WIB

Bisnis.com, MAKASSAR - Direktur Utama PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) Bachder Djohan mengkhawatirkan pelayanan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) ke kawasan industri.

Menurut Bachder, sebagai salah satu pengguna terbesar, kawasan industri masih menghadapi risiko pemadaman karena masalah teknis.

Menurutnya penggunaan listrik di kawasan industri KIMA mencapai 15 mega watt. "Per bulan kurang lebih Rp10 miliar tarifnya," katanya hari ini, Rabu (28/8/2013).

Bahkan, dalam beberapa tahun ke depan masih dibutuhkan tambahan sekitar 10 MW karena 40% kawasan industri yang dikelola PT KIMA saat ini belum terbangun. Pertumbuhan industri bakal butuh lebih banyak listrik.

Meski begitu, katanya, listrik di kawasan industri sangat rentan jika mati, sehingga mempengaruhi produksi dan gerak ekonomi.

"Di KIMA ada 14 perusahaan di sektor industri ikan dengan orientasi ekspor ke Jepang dan AS, juga ada industri lain. Pada saat pemadaman akan berakibat pada kualitas ikan ekspor tak tercapai sehingga pengiriman ditolak," katanya.

General Manager PLN wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat (Sulselrabar) Judi Winardi Widjaja mengakui ada persoalan pada konfigurasi di KIMA.

"Masih dibutuhkan perbaikan konfigurasi di KIMA karena selama ini masih nyantol. Tidak semua pemakainya dari industri," katanya.

Pihaknya menjanjikan akan memperbaiki konfigurasi di KIMA sehingga bisa lebih menjamin pasokan listrik.

Judi juga menyampaikan komitmen PLN ke kalangan industri di Sulsel sejalan surplus daya yang dimiliki saat ini.

Hingga saat ini, total daya terpasang pembangkit pada sistem di Sulsel sebesar 1278,4 MW dengan daya mampu 1272,5 MW.

Judi menuturkan beban puncak pada malam hari pada kisaran 785MW sehingga surplus yang ada dapat disalurkan ke sektor industri dengan tetap mempertimbangkan pertumbuhan pelanggan rumah tangga.

Salah satu bukti PLN mendukung sektor industri, katanya, adalah pendatanganan kerjasama beberapa hari lalu dengan perusahaan pengolahan ata smelter di Kabupaten Bantaeng.

PLN sepakat menjual listrik ke smelter miliki PT Macrolink Nickel Development secara bertahap. Pada tahap petama pada Januari 2016 sampai Desember 2017 akan dipasok 78 MVA.

Dalam perjanjian kerja sama itu, PLN akan menjual listrik kepada perusahaan asal China tersebut dengan harga Rp922 per Kwh.

Pemasangan Baru

PLN Sulselrabar sendiri telah memasang lebih dari 55.000 penyambungan baru di Sulsel hingga akhir Juni 2013 dari target setahun 112.000.

Judi optimis target sampai akhir tahun bakal tercapai. Jumlah pelanggan PLN di Sulsel, katanya, saat ini mencapai 1,5 juta dengan komposisi 93% pelanggan rumah tangga.

Judi menuturkan pelanggan baru PLN banyak yang tertarik dengan listrik prabayar karena dinilai lebih banyak keuntungannya. Diantaranya pemakaian listrik lebih terkendali, tanpa ada sanksi pemutusan, tanpa denda keterlambatan, dan tanpa uang jaminan pelanggan.

Untuk Kota Makassar, jumlah pelanggan listrik prabayar mencapai 68.422 rumah tangga dari total 590.000 pelanggan. Judi tidak menyebut data untuk Sulsel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pln, listrik, makassar, kima

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top