Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PEMILU 2014: Megawati Capres Terunggul Sementara Versi LSI

BISNIS.COM, JAKARTA—Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan jika pelaksanaan pemilihan umum presiden dilaksanakan pada bulan ini, maka Megawati Soekarnoputri menjadi pemenang dengan perolehan suara 20,7% disusul Aburizal Bakrie 20,3%,
Sepudin Zuhri
Sepudin Zuhri - Bisnis.com 17 Maret 2013  |  16:52 WIB
PEMILU 2014: Megawati Capres Terunggul Sementara Versi LSI
Bagikan

BISNIS.COM, JAKARTA—Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan jika pelaksanaan pemilihan umum presiden dilaksanakan pada bulan ini, maka Megawati Soekarnoputri menjadi pemenang dengan perolehan suara 20,7% disusul Aburizal Bakrie 20,3%, dan Prabowo Subianto 19,2%.

Survei LSI itu dilakukan pada 1-8 Maret 2013 dengan menggunakan 1.200 responden di seluruh Indonesia.

Metode sampling yaitu multistage random sampling dengan jumlah dengan margin of error plus minus 2,9%.

Peneliti LSI Adjie Alfaraby mengatakan selain soal survei calon presiden, wakil presiden, partai politik, dalam survei itu menyimpulkan lemahnya dukungan publik terhadap figur parpol Islam baik pada posisi capres, cawapres maupun perolehan suara partai Islam itu sendiri.

“Jika pemilu presiden dilaksanakan pada Maret 2013 ini, maka empat kandidat terkuat capres [calon presiden] semuanya didominasi oleh tokoh dari partai nasionalis,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (17/3/2013).

Hasil dari survei itu menunjukkan perolehan dukungan keempat tokoh yaitu Megawati 20,7%, Aburizal 20,3%, Prabowo 19,2%, dan Wiranto 8,2%.

Sementara itu, para tokoh partai Islam hanya berada di urutan kelima dan ke bawah. Menurutnya, figur parpol Islam kalah pamor dengan para tokoh nasionalis.

Ketua Umum PAN Hatta Rajasa hanya memperoleh suara 6,4%, Ketum PPP Suryadarma Ali 1,9%, Ketum PKS Anis Matta 1,1%, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar 1,6%, sedangkan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh 2,1%.

Hal serupa juga terjadi pada calon wakil presiden (cawapres) yang masih didominasi oleh partai nasionalis. Dari keempat kandidat cawapres terkuat, hanya terdapat satu tokoh dari partai islam, keempat tokoh tersebut, Jokowi memperoleh suara 35,2%, Jusuf Kalla 21,2%, Hatta Rajasa 17,1%, dan Mahfud M.D. 15,1%. Mahfud MD diklasifikasi sebagai tokoh non partai meski pernah aktif sebagai anggota dan pengurus salah satu parta Islam.

Ketua umum parpol islam lainnya hanya di bawah 5% suara dukungan sebagai cawapres. Suryadarma hanya memperoleh suara 2,9%, Anis Matta 1,9%, dan Muhaimin Iskandar 2,2%.

Adjie menambahkan kurangnya pamor tokoh partai Islam juga paralel dengan perolehan suara partainya. Temuan survei LSI pada Maret 2013 juga menunjukkan bahwa tidak ada satupun partai Islam di empat besar perolehan suara.

Seluruh parpol Islam yang telah dinyatakan lolos sebagai peserta pemilu yaitu PPP, PKB, PAN, dan PKS hanya memperoleh dukungan suara di bawah 5%.

Menurutnya, Golkar masih kokoh di urutan pertama dengan perolehan suara 22,2%, naik 9% dibandingkan dengan perolehan suara pada pemilu 2009 14,5%. “Golkar mencapai angka psikologis pemenang pemilu.”

Pada pemilu 2004 dan 2009, partai pemenang pemilu selalu mencapai persentase di atas 20%. Pemenang pemilu 2004 yaitu Golkar dengan suara 21,85%, kedua PDI-P 18,8%.

Berdasarkan hasil survei LSI, sejak Februari 2012, PDI-P stabil pada posisi kedua di bawah Golkar dan di atas Partai Demokrat.

Perolehan suara PDI-P dalam survei ini mirip dengan perolehan partai itu pada pemilu 2004 18,53%. Dalam survei ini suara PDI-P mengalami kenaikan 4% dibandingkan dengan perolehan suara pada pemilu 2009.

Khusus Demokrat, katanya, seperti yang telah berulang kali disampaikan, prahara korupsi yang melibatkan banyak petinggi partai termasuk ketua umum telah membuat elektabilitas partai itu terjun bebas.

Kini sesuai dengan survei LSI pada Maret 2013, perolehan parpol itu hanya 11,7% turun 9% dibandingkan dengan perolehan  pada 2009 sebanyak 20,85%.

“Penurunan suara Demokrat telah di-warning sejak Juni 2011, di mana dalam survei Juni 2011 tersebut perolehan Demokrat telah disalip Golkar dan hanya berada posisi kedua perolehan suara.”

LSI, katanya, menyimpulkan publik mulai menghukum Demokrat dengan dugaan kasus korupsi berjamaah melalui kesaksian M. Nazaruddin yang ramai diberitakan media massa.

Dia menuturkan jika kecenderungan dalam survei itu bertahan sampai pemilu 2014, maka Demokrat berpeluang mematahkan tradisi runner up pemenang pemilu pasca reformasi.

Bahwa parpol yang menjadi pemenang pemilu sebelumnya, menjadi runner up dalam pemilu berikutnya. Pada pemilu 1999, PDI-P adalah pemenang pemilu, tetapi menjadi runner up pada pemilu 2004. Pada pemiulu 2004, Golkar pemenang, tetapi menjadi runner up pada pemilu 2009.

Survei Calon Presiden

Megawati Soekarnoputri 20,7%

Aburizal bakrie 20,3%

Prabowo Subianto 19,2%

Wiranto 8,2%

Hatta Rajasa 6,4%

Ani Yudhoyono 2,4%

Surya Paloh 2,1%

Suryadarma Ali 1,9%

Muhaimin Iskandar 1,6%

Anis Matta 1,1%

Belum memutuskan 16,1%


Sumber: survei LSI Maret 2013

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pemilu 2014 survei capres

Sumber : Sepudin Zuhri

Editor : Others
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top