LSI: 87,6% publik ingin figur capres 2014 pelindung keberagaman

JAKARTA-- Hasil survei terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan 87,6 persen publik (responden) menginginkan calon presiden (capres) tahun 2014 adalah figur yang melindungi keberagaman Indonesia, sedangkan tidak menginginkan 9,2 persen
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 Desember 2012  |  05:25 WIB

JAKARTA-- Hasil survei terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan 87,6 persen publik (responden) menginginkan calon presiden (capres) tahun 2014 adalah figur yang melindungi keberagaman Indonesia, sedangkan tidak menginginkan 9,2 persen dan yang tidak tahu (tidak menjawab) sebanyak 3,2%.Peneliti senior LSI Adjie Alraraby didampingi Direktur Yayasan Denny JA (YDJA) Novriantoni Kahar (foto) mengatakan hal tersebut kepada pers di Jakarta, Minggu (23/12/2012).Adjie mengatakan survei itu dikerjakan LSI bersama YDJA yang mengkhususkan diri dalam isu diskriminasi, pada 14--17 Desember 2012 dengan menggunakan 440 responden dari 33 provinsi."Survei ini mengunakan metode multistage random sampling dengan instrumen 'Quick Poll' LSI. Tingkat kesalahan (margin of error) sekitar 4,8%. Survei ini juga melaksanakan riset kualitatif (in depth interview, Focus Discussion Group, analisis media nasional) untuk memperkaya perspektif terhadap fokus kajian," katanya.Hasil survei juga menyebutkan hanya 23,4% publik yang menyatakan pemerintah telah maksimal melindungi keberagaman, sedangkan 67,5% publik menyatakan belum maksimal, dan 9,1% publik tidak menjawab.Adjie mengatakan, sebenarnya hanya minoritas atau kurang dari 10 persen dari publik yang membenarkan kekerasan diskriminasi atas waga negara Indonesia lainnya."Dalam survei bahawa prilaku diskriminatif itu lebih ditemui di kalangan pendidikan rendah (dibandingkan pendidikan tinggi), ekonomi lemah (dibandingkan kelas menengah), di desa (dibandingkan kota), pria dibandingkan wanita. Namun di kalangan itu pun, jumlah populasi prilaku yang diskriminatif sangat minim," katanya.Sementara sesuai hasil survei bahwa frekuensi kekerasan yang dilakukan kelompok diskriminatif membesar karena lemahnya peran pemerintah dan aparat keamanan dalam melakukan represi dan penegakan hukum. Hal tersebut terlihat dari hasil survei bahwa sebanyak 67,5% responden menilai pemerintah belum maksimal dalam melindungi keberagaman.Dalam sejarah presiden Indonesia, kata Adjie, publik menilai bahwa Bung Karno dan Gus dur yang surplues 50%  melindungi keberagaman primordial dan ideologis. Sementara Pak Harto juga surplus 50% persen melindungi keberagaman primordial, tapi minus di atas 50% dalam melindungi keberagaman ideologi.Sebanyak 87,6%  publik berharap bahwa capres 2014 adalah figur yang juga memiliki komitmen melindungi keberagaman seperti Bung Karno dan Gus Dur. "Karena itu, peran seorang presiden sangat berpengaruh membuat frekuensi tindak kekerasan diskriminasi itu membesar atau mengecil," ujar Adjie.(Antara/msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top