Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KONFLIK AIR: Kebutuhan Sawah Vs Perikanan Di Sumsel Berlanjut

PALEMBANG: Konflik pemanfaatan air antara kebutuhan air irigasi untuk sawah dan kebutuhan air perikanan di Sumsel terus berlangsung, sehingga mengakibatkan terganggunya pertanian pangan.Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Sumatra Selatan mencatat sedikitnya
Dimas Priyanto
Dimas Priyanto - Bisnis.com 10 Desember 2012  |  21:22 WIB

PALEMBANG: Konflik pemanfaatan air antara kebutuhan air irigasi untuk sawah dan kebutuhan air perikanan di Sumsel terus berlangsung, sehingga mengakibatkan terganggunya pertanian pangan.Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Sumatra Selatan mencatat sedikitnya 10% dari total saluran irigasi seluas 216.989 ha yang ada di Sumsel telah dibobol oleh masyarakat untuk kepentingan air perikanan.Kepala Dinas PU Pengairan Surkani Mastulen mengatakan pembobolan yang dilakukan oleh masyarakat itu paling banyak terjadi di Kabupaten Musi Rawas.“Hampir 60% irigasi yang ada di Musi Rawas sudah dibobol warga, karena mereka beralih ke kolam ikan. Tindakan itu membuat petani padi di sana tidak bisa panen karena tidak ada air yang mengalir ke lahan padi mereka,” jelasnya, Senin (10/12/2012).Luas area irigasi di Kabupaten Musi Rawas mencapai 38.726 hektare sementara kebobolan irigasi di sana sudah mencapai  23.000 ha.   Adapun sawah yang diairi oleh saluran irigasi di daerah itu seluas 10.000 ha. Kondisi tersebut juga terjadi di beberapa daerah lainnya, seperti Lubuk Linggau, Lahat dan Pagar Alam.“Mereka tidak hanya melubangi pipanya tetapi juga membelokkan saluran untuk kepentingan tambak mereka. Padahal sudah peraturan daerah (Perda) yang melarang pembobolan saluran dan ada sanksinya ,” katanya.Konflik pemanfaatan air tersebut juga membuat pemerintah dilematis untuk mengambil tindakan. Pasalnya konflik ini terjadi antara masyarakat setempat.  Pemerintah pun sudah berulang kali memberikan sosialisasi terkait penggunaan saluran irigasi itu.Surkani menambahkan padahal kebutuhan air sawah masih kurang, terutama di Kab. OKU Selatan, Empat Lawan, Muara Enim dan Lahat sehingga menyebabkan petani di daerah tersebut hanya mampu menanam padi satu kali dan hasilnya pun tergolong sedikit.Dinas PU Pengairan telah berupaya merehabilitasi saluran irigasi yang mengairi 14.000 ha lahan pada tahun ini.Sementara itu Kasubag Program Perencanaan Dinas PU Pengairan Sumsel, Vivin Indirasari, mengatakan konflik kepentingan air terus meningkat selama beberapa tahun terakhir.“Yang paling besar memang terjadi di Musi Rawas tetapi saat ini sudah menyebar ke daerah lainnya,” katanya.Dia mengemukakan akar permasalahan konflik tersebut adalah debit air yang semakin kecil  sejak tiga tahun terakhir, serta kerusakan bendungan.  Penurunan debit air sendiri tidak terlepas dari isu global warming, salah satunya maraknya penggundulan hutan.Vivin mengemukakan konflik pemakaian air ini timbul pula karena kondisi jaringan irigasi dan pengoperasian pintu air yang masih kurang pemeliharaan.“Kurangnya pemeliharaan itu menyebabkan fungsi jaringan irigasi tidak optimal dalam mengalirkan air irigasi,” katanya.Dia melanjutkan masyarakat petani saling berebut air dengan menyekat atau menutup aliran air di hulu atau di tengah yang menyebabkan sawah di bagian hilir tidak mendapat air. (bas) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Aang Ananda Suherman

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top