Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KRISIS EROPA: IMF yakin penolakan penghematan tak selesaikan masalah

LONDON: Direktur Eksekutif IMF Christine Lagarde, Selasa, mengatakan bahwa sayap kiri Yunani harus menghadapi kebijakan fiskal sulit bahkan jika mereka menolak persyaratan penghematan yang datang dengan program dana talangan negara itu.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 23 Mei 2012  |  04:01 WIB

LONDON: Direktur Eksekutif IMF Christine Lagarde, Selasa, mengatakan bahwa sayap kiri Yunani harus menghadapi kebijakan fiskal sulit bahkan jika mereka menolak persyaratan penghematan yang datang dengan program dana talangan negara itu.

 

Berbicara kepada penyiar ITV Inggris, Lagarde mengatakan partisipasi di euro memiliki sebuah harga, lapor AFP.

 

"Harga itu adalah peningkatan produktivitas tenaga kerja; itu adalah reformasi struktural; itu adalah konsolidasi fiskal apabila suatu negara berjalan pada seperti defisit tinggi; itu adalah pada beberapa tahap, kembali ke pasar keuangan untuk membiayai utang-utangnya," katanya.

 

Ketika ditanya secara khusus tentang kemungkinan penolakan pemerintahan kiri Yunani dari program penghematan yang disyaratkan dari pinjaman talangan 130 miliar euro (165,5 miliar dolar AS) Uni Eropa-IMF bagi negara itu, Lagarde menyatakan bahwa penyesuaian menyakitkan tak terelakkan.

 

Pemerintahan sayap kiri bisa menolak penghematan, "Tetapi untuk apa?" mengatakan kepada ITV. "Mungkin untuk langkah-langkah yang lebih sulit yang harus diambil juga."

 

Sebelumnya pada Selasa 22 Mei 2012, pemimpin sayap kiri anti-penghematan Yunani, Alexis Tsipras mengatakan partainya tidak berusaha untuk meninggalkan euro jika pihaknya mengambil kekuasaan setelah pemilu mendatang.

 

"Sebuah pemungutan suara untuk sayap kiri tidak berarti bahwa kita akan meninggalkan euro. Justru sebaliknya, kami akan terus di euro," kata pemimpin partai Syriza, yang diperkirakan memenangkan putaran pemilu lain pada 17 Juni.

 

Tetapi Tsipras juga meminta Prancis dan Jerman untuk "menghentikan kebijakan penghematan mereka sebagai solidaritas dengan orang-orang Yunani."

 

"Eropa memiliki kewajiban untuk menghindari tragedi baru," katanya.

 

Tetapi Lagarde mengatakan bahwa negara itu masih harus melaksanakan reformasi untuk mendapatkan ekonomi berjalan.

 

Tanpa reformasi struktural "tidak ada yang akan membantu negara itu dalam jangka panjang," katanya. (Antara/Bsi)

 

BERITA FINANSIAL PILIHAN REDAKSI:

METRODATA ELECTRONICS Siapkan Right Issue

PASAR SURAT UTANG: Investor Cenderung Wait & See

Danareksa Investment Rilis RDPT Infrastruktur

AKSI ALIBABA: Berniat Beli Sahamnya Dari Yahoo! Senilai US$7 Miliar

HARGA EMAS: Pasar Keuangan Tertekan, Logam Mulia Melonjak

TRANSAKSI AFILIASI: Adi Karya Pinjamkan APR Rp57,1 Miliar

TOPIK AKTUAL PILIHAN REDAKSI:

KASUS NARKOBA: Sabu-Sabu Di Sumut Banyak Berasal Dari Malaysia

TRAGEDI SUKHOI: Wah.. Ada Dugaan Penipuan Jamsostek!

JUSUF KALLA: Memimpin Bisnis Beda Dengan Pemerintahan

DAUD YORDAN Naik Ring Lagi Juli

 

ENGLISH NEWS:

PALM OIL Climbs As Biggest Weekly Drop In 5 Months Lures Buyers

PLN To Spend IDR2.54 Trillion For VILLAGE ELECTRICITY Program

ARC Broadens Relationship With ANGLO AMERICAN In Indonesia

MARKET OPENING: Index Fall 46.79 Point

MARKET MOVING: BCA Eyes IDR4 Trillion Infrastructure Loans

RUPIAH Advances Most In Two Weeks On CHINA Pledge

JANGAN LEWATKAN5 Kanal TERPOPULER Bisnis.Com


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top