Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

WAPRES : Pendaftaran paten Indonesia paling rendah di antara negara maju

JAKARTA: Wapres Boediono mengungkapan jumlah pendaftaran hak paten atau hak kekayaan intelektual (HKI) Indonesia paling rendah di antara negara maju anggota G-20. Jumlah hak paten Indonesia yang didaftarkan pada 2009 tercatat hanya enam buah. Jumlah
Aprilian Hermawan
Aprilian Hermawan - Bisnis.com 08 Mei 2012  |  15:46 WIB

JAKARTA: Wapres Boediono mengungkapan jumlah pendaftaran hak paten atau hak kekayaan intelektual (HKI) Indonesia paling rendah di antara negara maju anggota G-20. Jumlah hak paten Indonesia yang didaftarkan pada 2009 tercatat hanya enam buah. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan hak paten yang dicatat oleh negara-negara dengan ekonomi terbesar di dunia (G-20) lain seperti Turki, Afrika Selatan atau India. Di tempat tertinggi adalah Jepang dengan jumlah paten sebesar 224.795 buah pada tahun yang sama, dan di tempat kedua adalah Amerika Serikat sebanyak 135.193 buah.  “Dari seluruh anggota G-20, kita dinomor 20 soal paten. Fakta ini jangan membuat kita sedih, tapi harus membuat kita sadar dan mengejar ketertinggalan. Kita harus menyatukan langkah dan mengupayakan bagaimana agar kekayaan intelektual bisa segera didaftarkan, secepat mungkin ditingkatkan,” katanya pada puncak peringatan Hari Kekayaan Intelektual Sedunia ke-12, hari ini. Pada 2010, Indonesia juga tercatat masih menempati posisi terendah yakni 15 paten dan1575 merk dagang (trade marks) yang didaftarkan. Namun, dalam kategori desain industri Indonesia tercatat sudah mendaftarkan 3.977 produk, lebih maju daripada dua negara tetangga yakni Filipina (451 produk) dan Thailand (3.901 produk). Wapres juga meminta pelaku usaha dan regulator melihat upaya China yang agresif mematenkan merek-merek dagangnya. Pada 2010, produk merek dagang yang dipatenkan di China bisa mencapai 1.27 juta produk. Pada kesempatan itu, Boediono  juga menegaskan di Indonesia, paradigma motor penggerak perekonomian belum mengandalkan sisi inovasi dan kreativitas, namun masih mengutamakan pada pemanfaatan sumber daya alam yang suatu saat nanti akan habis.Padahal, lanjutnya, sejarah dunia menunjukan kemajuan bangsa yang berkelanjutan adalah bersumber dari inovasi dan krativitas manusia. "Itu adalah dalil sejarah yang perlu kita jadikan pegangan kalau ingin maju secara berkelanjutan, sehingga tidak boleh tidak, harus ubah sumber kemajuan ekonomi dari yang sekarang menjadi yang didasarkan inovasi dan kreativitas manusia," ujarnya.(mmh)

Baca Juga :

Industri kreatif enggan mengurus paten


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top