Menristek akan resmikan pilot plant bioetanol

 
Adhitya Noviardi | 30 April 2012 19:44 WIB

 

JAKARTA: Menteri Riset dan Teknologi  Gusti Muhammad Hatta besok akan meresmikan pilot plant bioetanol di Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang Selatan, Banten. 

 

Pilot plant bioetanol tersebut mampu menghasilkan etanol dengan kemurnian 99,5% sebanyak 10 liter per hari.

 

Agus Haryono, Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia-LIPI), menuturkan kebutuhan energi Indonesia saat ini sebagian besar masih bertumpu pada bahan bakar fosil.

 

Kebutuhan energi nasional ditopang minyak bumi sekitar 51,66%, gas alam 28,57%, dan batubara 15,34%. Persediaan bahan bakar tersebut kian waktu semakin berkurang.

 

Cadangan minyak bumi akan habis sekitar 12 tahun lagi, gas hanya tinggal 30 tahun, dan batu bara masih bisa dimanfaatkan hingga 70 tahun ke depan.

 

“Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil ini menjadi masalah besar, dan perlu solusi yang mendesak. Salah satu langkahnya adalah memanfatkan bioetanol lignoselulosa sebagai alternatif penggantinya,” kata Agus seperti dikutip dari rilis Kemenristek hari ini.

 

Untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, katanya, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang kebijakan energi nasional.

 

Kebijakan tersebut dikeluarkan untuk mendorong pengembangan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak.

 

Pada 2025, katanya, pemenuhan kebutuhan energi Indonesia diharapkan 17% berasal dari energi baru terbarukan. “Salah satunya dengan memanfaatkan etanol sebagai alternatif, khususnya bioetanol berbasis lignoselulosa,” ujarnya. 

 

Dia menuturkan penggunaan etanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan bahan bakar minyak (BBM). Di antaranya kandungan oksigen yang tinggi (35%), sehingga bila dibakar sangat bersih.

 

Ramah lingkungan karena emisi gas karbon-mono-oksida lebih rendah 19-25% ketimbang BBM, sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer dan bersifat terbarukan.

 

Selain itu angka oktan Etanol yang cukup tinggi (129), menghasilkan kestabilan proses pembakaran, karenanya daya yang diperoleh lebih stabil. Dan proses pembakaran dengan daya yang lebih sempurna akan mengurangi emisi gas karbon monoksida.

 

“Campuran bioetanol 3% saja mampu menurunkan emisi karbonmonoksida menjadi hanya 1,3%,” ungkapnya. (ea)

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top