Bambang Susantono terpilih jadi Komisaris Utama Garuda Indonesia

JAKARTA: Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono terpilih menjadi Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Tbk melalui rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar hari ini.Dalam RUPST Garuda Indonesia yang kedua pasca pencatatan saham perdana
nonaktive - Arif Gunawan Sulistyono | 27 April 2012 18:37 WIB

JAKARTA: Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono terpilih menjadi Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Tbk melalui rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar hari ini.Dalam RUPST Garuda Indonesia yang kedua pasca pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) ini menyetujui delapan agenda, yang salah satunya penetapan perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris.

VP Corporate Communication Garuda Indonesia Pujobroto mengatakan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono terpilih menjadi Komisaris Utama untuk periode mendatang menggantikan Hadiyanto.

“Adapun susunan Dewan Komisaris Garuda Indonesia yang baru yakni Bambang Susantono (komisaris utama), dan komisaris yakni Bambang Wahyudi, Sonatha Halim Jusuf,  Wendy Aritenang Yazid, dan Betti Alisjahbana (komisaris independen),” katanya, Jumat, 27 April 2012.

Pujobroto menambahkan RUPST Garuda kali ini dihadiri oleh 16,46 miliar lembar saham yang setara dengan 72,17% dari keseluruhan pemegang saham Garuda.

Ditempat terpisah, Bambang Susantono mengatakan belum dapat menyampaikan program kedepan untuk Garuda karena masih harus berkoordinasi dengan direksi perseroan.

“Terimakasih saya sudah terpilih menjadi Komisaris Utama Garuda. Untuk saat ini saya belum bisa menyampaikan apapun, karena masih harus bertemu dengan Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar agar jelas program ke depannya,” kata Bambang.

Dalam RUPST tersebut, Garuda juga mengubah susunan dewan direksinya, namun Direktur Utama masih dipegang Emirsyah Satar. Berikut susunan Direksi Garuda Indonesia berdasarkan hasil RUPST 2012, Emirsyah Satar (Direktur Utama), Handrito Hardjono (Direktur Keuangan), Faik Fahmi (Direktur Layanan), Elisa Lumbantoruan (Direktur Pemasaran dan Penjualan), Heriyanto Agung Putra (Direktur SDM dan Umum), Batara Silaban (Direktur Teknik dan Pengembangan Armada), Judi Rifajantoro (Direktur Strategi Pengembangan Bisnis dan Manajemen Resiko), dan Capt. Novijanto Herupratomo (Direktur Operasi) 

Adapun susunan Direksi Garuda Indonesia sebelumnya: Emirsyah Satar (Direktur Utama), Agus Priyanto (Direktur Niaga), Achirina (Direktur Strategi Pengembangan Bisnis dan Manajemen Resiko), Elisa Lumbantoruan (Direktur Keuangan), Hadinoto Soedigno (Direktur Teknik dan Pengembangan Armada), Capt. Ari Sapari (Direktur Operasi).Pembelian saham 

Terkait dengan masuknya pemegang saham baru di maskapai pelat merah tersebut, Emirsyah mengaku belum mendapatkan informasi resmi karena belum teregister secara formal. “Kami baru mendengar dari media massa. Kami memang sangat menginginkan pengusaha nasional yang masuk karena bisa berdampak positif. Tetapi hingga sekarang saya tidak tahu siapa yang masuk,” katanya.

Berdasarkan data transaksi di Bursa Efek Indonesia pada pukul 10.30 WIB, Jumat 27 April 2012, terjadi pengalihan saham (crossing) saham Garuda dari tiga perusahaan sekuritas BUMN itu. Transaksi pembelian saham Garuda dari tiga perusahaan sekuritas itu difasilitasi oleh Credit Suisse Securities Indonesia. Tiga perusahaan sekuritas itu adalah PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Mandiri Sekuritas.

Pengusaha nasional Chairul Tanjung, melalui PT Trans Airways, resmi menguasai 10,88% atau sekitar 2,47 miliar saham  Garuda Indonesia yang sebelumnya dimiliki tiga perusahaan sekuritas pada harga Rp620. Nilai uang yang dikeluarkan diperkirakan Rp1,53 triliun. Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengatakan nama PT Trans Airways tidak terdaftar sebagai perusahaan maskapai penerbangan baik berjadwal maupun carteran di Kementerian Perhubungan. “Tidak ada nama PT Trans Airways sebagai perusahaan penerbangan. Kalau memang mereka mau beroperasi sebagai maskapai, ya harus mengajukan perizinan ke Kementerian Perhubungan,” kata Herry. Menurutnya, soal pembelian saham Garuda Indonesia oleh PT Trans Airways, itu sah-sah saja tanpa harus perusahaan itu terdaftar sebagai perusahaan penerbangan, asalkan perusahaan itu tidak beroperasi di bidang penerbangan.(mmh)

Tag :
Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top