Bank syariah mengaku kesulitan di Bali

DENPASAR: Perbankan syariah yang beroperasi di Provinsi Bali mengaku akses pengucuran pembiayaan masih terkendala pengenalan sistem simpan pinjam yang masih bersifat konvensional.Pemimpin Cabang Bank Negara Indonesia (BNI) Syiarah Denpasar, Achmad Djunaedy
Matroji
Matroji - Bisnis.com 29 September 2011  |  13:59 WIB

DENPASAR: Perbankan syariah yang beroperasi di Provinsi Bali mengaku akses pengucuran pembiayaan masih terkendala pengenalan sistem simpan pinjam yang masih bersifat konvensional.Pemimpin Cabang Bank Negara Indonesia (BNI) Syiarah Denpasar, Achmad Djunaedy mengatakan pada tahap awal pembukaan unit bisnis syariah dari PT Bank BNI Persero Tbk di Provinsi Bali masih mempunyai tantangan minimnya pengetahuan tentang pembiayaan berbasis syariah.“Masyarakat disini kurang mengenal perbankan syariah,” katanya kepada Bisnis, hari ini.Pada awal pembukaan basis bisnis syariah, lanjut dia, masih jauh dari ekspektasi target. Terinci per Agustus 2011 BNI Syariah kantor enpasar hanya menyalurkan pembiayaan sebanyak Rp5 miliar dari target sebanyak Rp16,6 miliar.Pada nilai nominal capaian, secara keseluruhan disalurkan pada pembiayaan berbasis konsumsi, terutama pembiayaan kepemilikan rumah. “Namun, kami masih yakin penyaluran pembiayaan akan terus tumbuh hingga akhir 2011.”Sebagai bentuk optimistis, pada 2012, tahun kedua BNI Syariah yang beroperasi di Provinsi Bali ini, kata Djunaedy, akan menargetkan kredit jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 2011 yakni sebanyak Rp75 miliar.“Pada tahun mendatang, pembiayaan akan difokuskan pada pembiayaan perumahan seperi kredit keemilian rumah seperti yang dimliki perbankan konvensional.”Selain itu untuk menduung akses pembiayaan dan penyimpanan tabungan, kata dia, BNI Syariah Denpasar sedang merampungkan pembangunan satu outlet syariah di bagian utara pulau Bali, Kabupaten Singaraja.“Pada pembangunan outlet pada 2012, pendanaan seluruhnya ditopang oleh pusat dengan estimasi biaya Rp1 miliar.”Sementara itu, Pemimpin cabang Bank Syariah Mandiri Denpasar, Abdul Yazid mengatakan unit usaha PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan kenaikan pembiayaan menjadi Rp60 miliar per Juli 2011 dari target tahunan sebesar Rp113 miliar.Secara perkembangan, kata dia, Bank Syariah Mandiri Denpasar tengah merampungkan relaisasi target penambahan kantor kas di Provinsi Bali. Pada 2011 ditarget sebanyak empat kantor kas dibangun. “Hingga Juli 2011, dua kantor kas sudah berdiri di Jalan WR Supratman dan kawasan Kuta. Pada semester II/2011, salah satunya akan dibangun di pasar Sanglah, Denpasar,” katanya, beberapa waktu lalu.Sementara itu, tercatat pada data kantor Bank Indonesia Denpasar, kenaikan pembiayaan perbankan syariah yang beroperasi di Bali menjadi Rp250 miliar atau tumbuh sebesar 152,08% yang mempengaruhi financing to deposit ratio/FDR menjadi 130,59%.Ekspansi pembiayaan bank syariah lebih difokuskan pada jenis konsumsi yang mencapai Rp223 miliar atau 51,75% dari total pembiayaan diikuti dengan jenis modal kerja sebesar Rp201 miliar atau 46,85%.Sementara untuk kegiatan investasi alokasi pembiayaan syariah masih sangat terbatas sebesar Rp6 miliar dengan andil 1,40% dari total pembiayaan.Hingga saat ini tercatat lima bank syariah yang beroperasi di Bali dengan pertumbuhan indikator yang sangat cepat. Hal ini disebabkan oleh makin meningkatnya minat masyarakat terhadap jasa-jasa perbankan syariah yang dianggap lebih menguntungkan bagi sebagian kalangan masyarakat.Terkait dengan aset, secara keseluruhan bank syariah tercatat sebesar Rp454 miliar atau tumbuh sebesar 127,21%, pertumbuhan yang sangat tinggi ini disebabkan oleh bertambahnya bank syariah baru pada satu tahun terakhir.Selain hal tersebut, pertumbuhan ini juga disebabkan oleh semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap jasa-jasa perbanan syariah yang dianggap lebih menguntungkan oleh sebagian kalangan masyarakat.Berdasarkan data BI, pertumbuhan aset terutama didorong oleh peningkatan kemampuan bank dalam menghimpun DPK yang tumbuh sebesar 101,88% mencapai Rp330 miliar. Pertumbuhan dana terbesar terjadi pada giro sebesar 403,31% mencapai Rp56 miliar. Namun, konsentrasi terbesar DPK terdapat pada simpanan dalam bentuk deposito sejumlah Rp146 miliar atau 44,09% dari total DPK, dengan pertumbuhan sebesar 85,35%.Sedangkan tabungan tercatat sebesar Rp115 miliar dengan pangsa sebesar 34,71% dari total kredit dan tercatat tumbuh sebesar 61,16%. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top