Istana bahas banjir, gempa, dan gunung api

JAKARTA: Sebagai negara yang berada pada zona patahan tektonik aktif dan jalur lingkaran gunung berapi terpanjang di dunia, Indonesia memiliki potensi bencana gempa dan letusan gunung berapi yang lebih tinggi dibandingkan berbagai negara lain. Letusan
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 10 Desember 2010  |  04:39 WIB

JAKARTA: Sebagai negara yang berada pada zona patahan tektonik aktif dan jalur lingkaran gunung berapi terpanjang di dunia, Indonesia memiliki potensi bencana gempa dan letusan gunung berapi yang lebih tinggi dibandingkan berbagai negara lain. Letusan Gunung Sinabung dan Merapi serta gempa dan tsunami Mentawai yang terjadi pada 2010 menjadi bukti bahwa Indonesia berada dalam situasi "rawan bencana" tersebut.Bahkan, kondisi geologis Indonesia juga disinyalir turut memudahkan terjadinya banjir bandang, seperti yang terjadi di Wasior (Papua), Padang, dan Aceh, beberapa waktu lalu. "Keunikan posisi geografis dan kondisi geologis Indonesia itu harus kita jadikan acuan dalam pengarusutamaan mitigasi bencana, sebagai prioritas utama dalam upaya penyelamatan masyarakat. Kita juga perlu membicarakan konsep mitigasi bencana yang ada secara komprehensif," kata Erick Ridzky, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), dalam keterangan persnya, hari ini.Sebab, lanjutnya, ada dugaan kuat bahwa antara bencana tektonik, vulkanik, juga banjir bandang, memiliki kaitan dengan karakteristik geologis. Untuk membahas antisipasi risiko kebencanaan dan pola mitigasi atas potensi bencana di beberapa lokasi yang menjadi hot spot, seperti Siberut, Sumatra, dan Gunung Anak Karakatau, Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana bersama berbagai lembaga pemerintah dan kalangan pakar kebencanaan.Acara yang digelar siang ini di Istana Presiden itu, menurut rencana akan dihadiri petinggi-petinggi lembaga pemerintah yang memiliki tugas dan fungsi pokok penanganan bencana. Acara juga akan dihadiri ahli kebencanaan tingkat nasional dan internasional, termasuk pakar gempa bumi kenamaan dari Earth Observatory of Singapore (EOS), Prof. Kerry Sieh.Professor Sieh yang pernah menjadi nara sumber dalam pembuatan program dokumenter mengenai Tsunami Asia di National Geographic, akan membuka hasil penelitiannya mengenai potensi gempa bumi di Siberut, Sumatra Barat. Banyak ahli yang mempercayai bahwa terjadi gempa besar setiap dua ratus tahun sekali di patahan tektonik Sumatra tersebut, ujar Erick Ridzky.Selain itu, Rektor UGM Prof. Sudjarwadi dan pakar geologi asal UGM, Prof. Dwi Korita Karnawati, juga direncanakan hadir. Kehadiran rombongan pakar kebencanaan dari UGM itu terkait dengan rencana pembangunan Pusat Riset Kegunungapian di Yogyakarta, sebagai antisipasi terhadap fenomena keaktifan kembali berbagai gunung berapi di Indonesia.Sebelumnya, Istana juga terlibat aktif mendukung pembangunan Pusat Riset Kegempabumian di Bandung. Pusat Riset Kegempabumian tersebut direncanakan segera memulai aktifitasnya pada awal tahun depan.(yn)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top