Pekerja di Tokyo kurang tidur dibanding kota lain

TOKYO: New York mungkin lebih dikenal sebagai kota yang tidak pernah tidur, tetapi pekerja kantoran Tokyo kurang mendapat waktu tidur dibandingkan dengan rekan mereka di New York, Paris, Stockholm, dan Shanghai.
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 08 Desember 2010  |  18:31 WIB

TOKYO: New York mungkin lebih dikenal sebagai kota yang tidak pernah tidur, tetapi pekerja kantoran Tokyo kurang mendapat waktu tidur dibandingkan dengan rekan mereka di New York, Paris, Stockholm, dan Shanghai.

Menurut survei di lima kota besar, orang di Tokyo rata-rata tidur hanya 6 jam pada hari kerja. Demikian jajak pendapat yang dilakukan oleh perusahaan pembuat penyedap masakan Jepang, Ajinomoto.Orang di Shanghai tidur paling lama, yaitu 7 jam 28 menit. Pekerja di New York tidur 6 jam 35 menit, kedua paling singkat setelah Tokyo. "Saya kira orang di Tokyo terlalu sibuk," kata juru bicara Ajinomoto seperti dikutip Antara/Reuters Life!Banyak pekerja kantoran Jepang yang dipaksa untuk bekerja lembur yang disusul oleh acara minum setelah jam kerja dan perjalanan pulang yang jauh, meski survei tersebut menemukan bahwa perjalanan pulang di dalam kota New York juga sama jauhnya.Kereta api Tokyo pada pagi maupun malam hari dipenuhi oleh penumpang yang mengantuk. Bahkan, ada di antara mereka yang terlihat mampu tidur dalam keadaan berdiri sambil mengenggam pegangan penumpang di atas kepala."Di Shanghai, orang hanya tidur terlebih dahulu. Semua orang dalam kota terbangun pada jam yang sama di pagi hari, yaitu antara 6.30 dan 7.00," kata juru bicara Ajinomoto."Di Tokyo, selain melewati hari yang panjang, orang tampak melakukan hal lain saat mereka tiba di rumah, seperti bermain komputer. Mereka tidak tidur hingga lepas tengah malam," jelasnya.Tidak mengejutkan, saat ditanya apa yang terpenting dalam hidup, warga Jepang menjawab 'tidur' dan tercatat kebutuhan peringkat pertama, serupa dengan orang Paris, yang umumnya tidur tujuh jam selama hari kerja.Di lain pihak, warga New York dan Shanghai lebih mengutamakan "waktu bersama keluarga".Survei tersebut dilaksanakan secara online antara Juli dan Agustus, meliputi pekerja pada usia 30-an hingga 50-an berjumlah hampir 900 orang.(yn)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top