Russia segera bergabung WTO

JENEWA: Langkah Russia untuk masuk menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) kian dekat, menyusul telah dicapainya kesepakatan dengan Uni Eropa mengenai keanggotaan Russia di organisasi itu. Presiden Russia Dmitry Medvedev dan para pemimpin
News Editor | 07 Desember 2010 12:45 WIB

JENEWA: Langkah Russia untuk masuk menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) kian dekat, menyusul telah dicapainya kesepakatan dengan Uni Eropa mengenai keanggotaan Russia di organisasi itu. Presiden Russia Dmitry Medvedev dan para pemimpin UE, termasuk Presiden UE Herman Van Rompuy dan Presiden Komisi UE Jose Barroso, akan menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang berisi sejumlah syarat untuk menyelesaikan sejumlah isu antara Russia dan UE.Russia secara resmi mengajukan diri untuk menjadi anggota WTO pada Juni 1993. John Clancy, juru bicara Komisi UE bidang Perdagangan, mengungkapkan UE telah merampungkan negosiasi dengan Russia mengenai sejumlah syarat bilateral masuknya negara itu ke WTO. "Kesepakatan bilateral ini menjawab sejumlah kekhawatiran utama UE dan membuat masuknya Russia ke WTO kian dekat," tegasnya di Brussel, kemarin.Yang menjadi kekhawatiran besar UE kalau Russia masuk ke WTO di antaranya kebijakan tarif negara tersebut untuk produk ekspor kayu dan rel kereta api. Negara seperti Finlandia dan kawasan Baltik komplain atas kebijakan itu. Mereka menilai kebijakan tersebut tidak adil karena justru menguntungkan perusahaan Russia dengan mematok tarif lebih mahal bagi perusahaan lawan dari UE.Negeri yang beribukota Moskow itu sepakat menurunkan tarif produk kayu impor menjadi sekitar 15% dari sebelumnya 25%. Tarif ini baru akan berlaku setelah Russia masuk ke WTO. UE, yang beranggotakan 27 negara, merupakan mitra dagang terbesar Russia.Biro Kepabeanan Russia mencatat perdagangan dengan UE selama 9 bulan pertama 2010 mencakup 50,4% dari total volume perdagangan luar negeri. Perdagangan barang dan jasa kedua pihak melonjak hampir 35% selama periode itu menjadi US$217,8 miliar. (dea/bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top