Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

30 Negara Antre Masuk BRICS, Ambisi Vladimir Putin Makin Membara

Kabarnya, ada 30 negara antre masuk BRICS, tapi tampaknya Indonesia tidak termasuk dalam 30 negara tersebut.
Polisi Afrika Selatan berjalan di depan spanduk acara di luar lokasi KTT BRICS di Sandton Convention Center di distrik Sandton, Johannesburg, Afrika Selatan, Senin, 21 Agustus 2023. KTT BRICS dijadwalkan berlangsung pada 22-24 Agustus di Johannesburg./Bloomberg
Polisi Afrika Selatan berjalan di depan spanduk acara di luar lokasi KTT BRICS di Sandton Convention Center di distrik Sandton, Johannesburg, Afrika Selatan, Senin, 21 Agustus 2023. KTT BRICS dijadwalkan berlangsung pada 22-24 Agustus di Johannesburg./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kabarnya, ada 30 negara antre masuk BRICS, tapi tampaknya Indonesia tidak termasuk dalam 30 negara tersebut.

Sebab, Presiden Joko Widodo disebut telah memutuskan agar RI bergabung dengan anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD).

Seperti diketahui, lima negara termasuk Arab Saudi telah secara resmi mengumumkan bergabung dengan BRICS.

Mengutip Bloomberg, Rabu (3/1/2024) keanggotaan kelompok negara-negara pasar berkembang BRICS bertambah dua kali lipat dengan bergabungnya Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Ethiopia dan Mesir.

Mengacu pada alasan ini, Presiden Rusia Vladimir Putin makin ambisius dengan BRICS. Apalagi menurut News18, saat ini ada 30 negara lainnya yang mengantre untuk gabung dengan kelompok BRICS tersebut.

Ketika Rusia mengambil alih kepemimpinan BRICS, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa anggota baru BRICS ini diyakini akan menambahkan upaya pada modalitas untuk melantik kategori baru negara-negara mitra akan dimulai sekarang.

"Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab bergabung dengan BRICS sebagai anggota penuh baru yang merupakan indikasi kuat tumbuhnya otoritas asosiasi tersebut dan perannya dalam urusan internasional,” kata Putin dalam pidatonya.

Presiden Rusia tersebut mengatakan dan yakini bahwa akan semakin banyak negara yang akan bergabung dengan BRICS.

Mereka ini adalah negara-negara yang berpikiran sama dan memiliki prinsip-prinsip dasar yang sama seperti kesetaraan kedaulatan, keterbukaan, konsensus, aspirasi untuk membentuk tatanan internasional multi-polar dan sistem keuangan dan perdagangan global yang adil.

Pada bulan Agustus 2023 lalu, para pemimpin BRICS pada pertemuan puncak kelompok tersebut di Johannesburg

Pada sambutannya di acara tersebut, Presiden Rusia mengatakan sekitar 30 negara lagi siap bergabung dalam agenda multidimensi BRICS.

“Tentu saja, kami akan mempertimbangkan sejauh mana negara-negara lain, sekitar 30 di antaranya, siap bergabung dengan agenda multi-dimensi BRICS dalam satu atau lain bentuk,” kata Putin.

"Untuk tujuan ini, kami akan mulai mengerjakan modalitas negara mitra BRICS kategori baru,” katanya.

Putin mengatakan, peningkatan peran BRICS dalam sistem moneter internasional, perluasan kerja sama antar bank serta peningkatan penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan timbal balik akan menjadi area fokus kepresidenan Rusia dalam kelompok tersebut.

Orang no.1 di Rusia itu juga menjelaskan bahwa kepemimpinan BRICS Rusia 2024 di bawah moto 'memperkuat multilateralisme untuk pembangunan dan keamanan global yang adil' akan fokus pada kerja sama yang positif dan konstruktif dengan semua negara terkait.

“Kami akan melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa, sambil melestarikan tradisi dan berpedoman pada pengalaman yang diperoleh asosiasi di tahun-tahun sebelumnya, kami memfasilitasi integrasi yang harmonis bagi peserta baru dalam semua format kegiatannya,” katanya.

“Secara umum, Rusia akan terus mempromosikan seluruh aspek kemitraan BRICS di tiga bidang utama: politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, serta kontak budaya dan kemanusiaan,” katanya.

Selain itu, Putin juga berambisi untuk meningkatkan koordinasi kebijakan luar negeri antar-anggota BRICS.

“Tentu saja, kami akan fokus pada peningkatan koordinasi kebijakan luar negeri di antara negara-negara anggota dan bersama-sama mencari respons efektif terhadap tantangan dan ancaman terhadap keamanan dan stabilitas internasional dan regional,” ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper