Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fenomena Kenaikan Suhu dan Hujan Panas, Ini Penjelasan BRIN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan penyebab terjadinya fenomena kenaikan suhu dan hujan panas yang terjadi di wilayah Bandung, Jawa Barat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 16 Mei 2022  |  15:01 WIB
Fenomena Kenaikan Suhu dan Hujan Panas, Ini Penjelasan BRIN
Ilustrasi cuaca panas dangerah. - bmkg

Bisnis.com, JAKARTA - Fenomena cuaca yang panas dan gerah terjadi di Bandung belakangan ini. Peneliti Klimatologi pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan Bandung mengalami kenaikan suhu rata-rata harian selama tiga tahun terakhir.

“Banyak yang bertanya mengapa akhir-akhir ini cuaca panas dan gerah, tapi sore hari hujan,” katanya seperti dilansir dari Tempo.co, Senin (16/5/2022).

Dia mengatakan dari pengukuran suhu di Bandung pada Sabtu (14/5/2022), pukul 15.30 WIB misalnya, termometernya menunjukkan angka 24 derajat Celcius.

Menurut Erma, besaran suhu itu masih dalam rentang suhu rata-rata di Bandung pada periode April-Mei yang berkisar antara 23-24 derajat Celcius.

Sementara suhu rata-rata tahunan di Bandung berdasarkan data klimatologis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berkisar antara 19-23 derajat Celcius.

Adapun data dari layanan informasi cuaca Ogimet, kata Erma, menunjukkan kenaikan suhu harian rata-rata. Contoh periodenya pada kurun 1-14 Mei.

Dari data pengukuran di Bandara Husein Sastranegara Bandung pada 2020 suhunya 23,4 derajat Celcius, kemudian 23,8 (2021), dan 24,2 (2022).

"Kondisi ini dapat dipahami secara ilmiah karena pada 2020-2022 terjadi La Nina secara global. Pendinginan suhu di Samudera Pasifik berdampak pada fenomena kemarau basah pada Mei,” ujarnya.

Menurut Erma, kenaikan tersebut menyebabkan suhu udara belakangan ini di Bandung terasa panas menyengat. Selain itu, parameter cuaca lain yang mengalami perubahan signifikan di kota Bandung adalah kelembapan udara pada saat terjadi hujan yang mengalami penurunan.

“Berdasarkan teori, hujan bisa terjadi ketika kelembapan relatif udara mencapai atau mendekati 100 persen,” kata dia.

Meski demikian, terdapat tendensi bahwa kelembapan relatif saat terjadi hujan di kota Bandung mengalami penurunan selama Mei pada kurun waktu tiga tahun terakhir. Kelembapan relatif yang terdata, yaitu 89 persen pada 2020, kemudian 87 persen (2021), dan 84 persen (2022).

Hal ini menunjukkan hujan yang terjadi merupakan jenis hujan hangat atau hujan panas.

"Hujan seperti itu tidak dibangkitkan oleh proses konveksi yang optimum melainkan oleh peningkatan panas yang antara lain disebabkan oleh penghangatan suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa," imbuhnya.

Cuaca yang dikenal orag Jawa dengan sebutan hujan selak itu berintensitas ringan meskipun tidak ada awan mendung. Selama hujan itu udara tetap terasa panas selama hujan tersebut turun.

Kondisi lainnya, kata dia, hujan itu berpotensi disertai petir sehingga muncul istilah lain seperti gerimis berpetir. Penyebabnya karena awan mendung yang dihasilkan awan cumulus tunggal kemudian bercampur dengan awan cumulus lain yang masih tumbuh dan berwarna putih terang.

Karakteristik hujan panas itu, menurut Erma, yaitu cuaca yang panas pada siang hari karena sedikit tutupan awan dengan angin berembus tenang. Sementara hujan dibangkitkan oleh peningkatan panas dan suhu permukaan laut.

“Selama tidak terjadi gangguan yang bersifat sinoptik atau skala luas, maka cuaca seperti ini dapat bertahan hingga beberapa hari mendatang," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cuaca ekstrem kenaikan suhu Badan Riset dan Inovasi Nasional-BRIN

Sumber : Tempo.co

Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top