Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

FBI: Pencurian Uang Kripto Rp8,9 Triliun Juta Terkait Korea Utara 

FBI menuduh peretas yang terkait dengan pemerintah Korea Utara telah mencuri lebih dari US$620 juta atau setara dengan Rp8,9 triliun (kurs Rp14.395/dolar AS) uang kripto.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 15 April 2022  |  11:32 WIB
Ilustrasi aset kripto Bitcoin, Ether, dan Altcoin - Istimewa
Ilustrasi aset kripto Bitcoin, Ether, dan Altcoin - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Badan Intelijen Federal AS (FBI) menuduh peretas yang terkait dengan pemerintah Korea Utara telah mencuri lebih dari US$620 juta atau setara dengan Rp8,9 triliun (kurs Rp14.395/dolar AS) dalam mata uang kripto pada bulan lalu dari sebuah perusahaan video game.

Kasus itu merupakan kejahatan siber terbaru dalam serangkaian perampokan dunia maya yang berani terkait dengan Pyongyang.

"Melalui penyelidikan kami, kami dapat mengonfirmasi Lazarus Group dan APT38, aktor siber yang terkait dengan DPRK, bertanggung jawab atas pencurian US$620 juta di Ethereum yang dilaporkan pada 29 Maret," menurut FBI dalam sebuah pernyataan seperti dikutip CNN.com, Jumat (15/4).

DPRK adalah singkatan dari nama resmi Korea Utara, Republik Rakyat Demokratik Korea, dan Ethereum adalah platform teknologi yang terkait dengan jenis mata uang kripto. FBI mengacu pada peretasan jaringan komputer baru-baru ini yang digunakan oleh Axie Infinity, sebuah video game yang memungkinkan pemain mendapatkan mata uang kripto (cryptocurrency).

Sky Mavis, perusahaan yang menciptakan Axie Infinity, mengumumkan pada tanggal 29 Maret bahwa peretas tak dikenal telah mencuri sekitar US$600 juta. Jumlah itu senilai dengan pada saat peretasan tersebut ditemukan pada 23 Maret dari "jembatan", atau jaringan yang memungkinkan pengguna untuk mengirim cryptocurrency dari satu blockchain ke pihak lain.

Departemen Keuangan AS kemarin menjatuhkan sanksi pada Lazarus Group, sekelompok besar peretas yang diyakini bekerja atas nama pemerintah Korea Utara. Departemen Keuangan menyetujui "dompet" atau alamat cryptocurrency tertentu yang digunakan untuk menguangkan peretasan Axie Infinity.

Serangan siber telah menjadi sumber pendapatan penting bagi rezim Korea Utara selama bertahun-tahun karena pemimpinnya, Kim Jong Un terus mengembangkan senjata nuklir, menurut panel PBB dan pakar keamanan siber luar.

Korea Utara bulan lalu menembakkan apa yang diyakini sebagai rudal balistik antarbenua pertamanya dalam lebih dari empat tahun.
Lazarus Group telah mencuri cryptocurrency senilai sekitar US$1,75 miliar dalam beberapa tahun terakhir, menurut Chainalysis, sebuah perusahaan yang melacak transaksi mata uang digital.

“Peretasan bisnis cryptocurrency, tidak seperti pengecer, misalnya, pada dasarnya adalah perampokan bank dengan kecepatan internet dan mendanai aktivitas destabilisasi dan proliferasi senjata Korea Utara. Selama mereka sukses dan menguntungkan, mereka tidak akan berhenti,” kata Ari Redbord, kepala urusan hukum di TRM Labs, sebuah perusahaan yang menyelidiki kejahatan keuangan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Korea Utara hacker fbi aset kripto
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top