Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS dan Inggris Resmi Larang Impor Minyak dari Rusia, Apa Dampaknya?

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden memberlakukan larangan langsung impor minyak dari Rusia dan impor energi lainnya sebagai pembalasan atas invasi Rusia ke Ukraina.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 09 Maret 2022  |  14:32 WIB
AS dan Inggris Resmi Larang Impor Minyak dari Rusia, Apa Dampaknya?
Presiden Amerika Serikat Joe Biden - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Joe Biden memberlakukan larangan langsung impor minyak dari Rusia dan impor energi lainnya sebagai pembalasan atas invasi Rusia ke Ukraina, sementara Inggris mengatakan akan menghapus impor secara bertahap hingga akhir 2022.

Sanksi terbaru kemungkinan akan mendorong harga minyak ke harga yang lebih tinggi lagi. Pengumuman Pemerintah AS itu merupakan bagian dari larangan yang lebih luas yang mencakup gas alam dan batu bara.

“Minyak Rusia tidak akan lagi dapat diterima di pelabuhan AS dan rakyat Amerika akan memberikan pukulan kuat lainnya terhadap mesin perang Putin,” kata Biden sebagaimana dikutip Aljazeera.com, Rabu (9/3/2022).

Biden menyatakan bahwa keputusan larangan impor minyak dan impor energi lainnya dari Rusia itu diambil dengan konsultasi erat bersama sekutu.

Rusia adalah pengekspor gabungan produk minyak mentah dan minyak dunia yang menghasilkan sekitar 7 juta barel per hari (bph), atau 7 persen dari pasokan global.

Pada tahun 2021, AS mengimpor rata-rata 209.000 barel per hari minyak mentah dan 500.000 barel per hari produk minyak lainnya dari Rusia, menurut asosiasi perdagangan Produsen Bahan Bakar dan Petrokimia Amerika.

Jumlah ini mewakili 3 persen dari impor minyak mentah AS dan 1 persen dari total minyak mentah yang diproses oleh kilang AS. Untuk Rusia, angka ini mewakili 3 persen dari total ekspornya.

Cornelia Meyer, Chief Executive Officer Meyer Resources mengatakan larangan itu adalah sesuatu yang mampu dilakukan AS. Dengan nilai tukar saat ini, AS mampu membelinya, tetapi itu akan jauh lebih sulit untuk benua Eropa.

"Dalam hal total ekspor Rusia ke AS, itu juga tidak terlalu penting. Namun, apa yang ditunjukkan adalah bahwa ada tekad dari aliansi Barat, dan jika Eropa mau melakukannya, itu akan menjadi sangat penting,” ujar Meyer.

Dia menambahkan bahwa China dan India kemungkinan akan membeli minyak Rusia yang dialihkan dari Barat.

Adapun, prospek larangan telah membuat harga minyak naik 30 persen bulan lalu, dengan harga minyak berkisar sekitar US$130 per barel dan satu galon (4,5 liter) penjualan gas reguler rata-rata US$4,17 pada hari Selasa di AS.

Analis energi memperingatkan bahwa harga bisa mencapai US$160 atau bahkan US$200 per barel jika pembeli terus menghindari minyak mentah Rusia, yang menyebabkan harga bensin AS lebih dari US$5 per galon.

“Pasar berjalan dengan keserakahan dan ketakutan dan saat ini ada banyak ketakutan,” ujar Adam Pankratz, seorang profesor di Sekolah Bisnis Sauder Universitas British Columbia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak minyak amerika serikat Rusia Perang Rusia Ukraina
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top