Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Waspadai Virus Baru Berbahaya dari Hewan Liar, Corona Varian Baru?

Pakar kesehatan China telah menyerukan pemantauan intensif terhadap hewan liar untuk mengantisipasi munculnya virus varian baru yang lebih berbahaya.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 04 Oktober 2021  |  10:56 WIB
Tenaga medis dengan alat pelindung diri menghadapi warga yang mengantre untuk uji asam nukleat di sebuah halaman perumahan, menyusul kasus impor Covid-19 dari negara tetangga Myanmar, di kota perbatasan Ruili, prefektur Dehong, provinsi Yunnan, China, Rabu (16/9/2020). - Antara/Reuters\r\n
Tenaga medis dengan alat pelindung diri menghadapi warga yang mengantre untuk uji asam nukleat di sebuah halaman perumahan, menyusul kasus impor Covid-19 dari negara tetangga Myanmar, di kota perbatasan Ruili, prefektur Dehong, provinsi Yunnan, China, Rabu (16/9/2020). - Antara/Reuters\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Pakar kesehatan China telah menyerukan pemantauan intensif terhadap hewan liar untuk mengantisipasi munculnya virus varian baru yang lebih berbahaya.

Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China Gao Fu memperingatkan bahwa terdapat potensi penyebaran di antara spesies hewan liar dengan tingkat yang berbeda. Dia menyebut pemantauan perlu dilakukan untuk mengantisipasi risiko timbulnya varian yang lebih berbahaya.

Dikutip melalui South China Morning Post, sejumlah hewan telah ditemukan rentan terhadap Covid-19. Adapun, potensi mutasi virus yang berkelanjutan diyakini terdapat pada hewan liar, salah satunya cerpelai.

"Sejumlah hewan telah ditemukan rentan terhadap Covid-19, dan potensi mutasi virus yang berkelanjutan pada hewan-hewan tersebut sehingga ancaman besar bagi kesehatan masyarakat jika mereka menularkan kembali ke manusia,” ujarnya seperti dikutip Bisnis, Senin (4/10/2021).

Dikutip melalui, buletin mingguan Center for Disease Contol and Prevention (CDC) China, dia juga mengatakan saat ini penting untuk melakukan skrining Sars-CoV-2 skala besar untuk satwa liar darat dan laut, terutama yang rentan. Hal ini untuk merumuskan strategi pencegahan dan pengendalian lebih lanjut.

Dia melanjutkan, skrining menyeluruh pada hewan-hewan terpapar Covid-19 turut menjadi upaya dalam rangka menjadi petunjuk asal sumber dari virus Corona yang masih belum menemukan titik terang.

Adapun, laporan hewan yang terinfeksi SARS-CoV-2 telah didokumentasikan di seluruh dunia. Sebagian besar hewan ini terinfeksi setelah kontak dengan penderita Covid-19, termasuk pemilik, pengasuh, atau orang lain yang pernah melakukan kontak dekat.

Gao memerinci, saat ini tercatat 11 spesies yang terinfeksi Covid-19 yaitu hewan pendamping, termasuk kucing dan anjing peliharaan dan satu musang. Hewan di kebun binatang dan cagar alam, termasuk beberapa jenis kucing besar, berang-berang, dan primata non-manusia, mink di peternakan mink, dan rusa ekor putih liar di beberapa negara bagian Amerika Serikat (AS).

“Mulai dari harimau, gorila, macan tutul, rusa berekor putih, hingga cerpelai. 14 spesies lainnya telah diidentifikasi dapat terinfeksi melalui percobaan laboratorium," ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan banyak penelitian telah dilakukan CDC untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana virus ini dapat mempengaruhi hewan yang berbeda.

Temuan ini didasarkan pada sejumlah kecil hewan, dan tidak menunjukkan apakah hewan dapat menyebarkan infeksi ke manusia.

Penelitian eksperimental terbaru menunjukkan bahwa banyak mamalia, termasuk kucing, anjing, tikus bank, musang, kelelawar buah, hamster, cerpelai, babi, kelinci, anjing rakun, tikus pohon, dan rusa berekor putih dapat terinfeksi virus.

“Kucing, musang, kelelawar buah, hamster, anjing rakun, dan rusa berekor putih juga dapat menyebarkan infeksi ke hewan lain dari spesies yang sama di laboratorium,” katanya.

Bahkan, sejumlah penelitian telah menyelidiki primata non-manusia sebagai model untuk infeksi manusia. Kera rhesus, kera cynomolgus, babon, grivet, dan marmoset biasa dapat terinfeksi SARS-CoV-2 dan menjadi sakit di laboratorium.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa tikus laboratorium, yang tidak dapat terinfeksi dengan strain asli SARS-CoV-2, dapat terinfeksi dengan varian virus baru.

Sementara itu, ayam dan bebek tampaknya tidak terinfeksi atau menyebarkan infeksi berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona Covid-19
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top