Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Varian Delta Dorong Selandia Baru dan Australia Timbang Ulang Strategi Covid

Baik Selandia Baru maupun Australia telah menjadi pendukung strategi Covid Zero sejak awal pandemi. Taktik mereka untuk menutup perbatasan dan menghentikan kasus penularan komunitas melalui tindakan pembatasan yang ketat.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 22 Agustus 2021  |  16:33 WIB
Papan pemberitahuan yang memperingatkan
Papan pemberitahuan yang memperingatkan "Kita semua bisa menjadi pembawa Covid-19" berada di tempat publik di Sydney, Australia, Selasa (27/7/2021). Setelah sebulan melakukan Lockdown, kasus harian Covid-19 di kota Sydney tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Bloomberg - Brendon Thorne

Bisnis.com, JAKARTA - Varian delta Covid-19 telah memaksa Australia dan Selandia Baru untuk meninjau kembali strategi untuk menghilangkan infeksi virus, dan mendorong Perdana Menteri Australia Scott Morrison untuk mengatakan bahwa sangat tidak mungkin negaranya akan kembali ke nol kasus.

Morrison mengatakan fokus Australia perlu beralih ke tingkat rawat inap daripada jumlah kasus. Sifat varian delta yang sangat menular menimbulkan beberapa pertanyaan cukup besar tentang pendekatan Selandia Baru untuk menghilangkan penyakit ini.

Baik Selandia Baru maupun Australia telah menjadi pendukung strategi Covid Zero sejak awal pandemi. Taktik mereka untuk menutup perbatasan dan menghentikan kasus penularan komunitas melalui tindakan pembatasan yang ketat mencegah gelombang kematian yang terlihat di sebagian besar negara lain.

Penyebaran varian delta baru-baru ini telah menantang strategi mereka, dengan Australia pada Minggu (22/8/2021), melaporkan jumlah infeksi harian tertinggi untuk hari kedua berturut-turut dan Selandia Baru di bawah tingkat penguncian tertinggi.

“Dengan virus yang dapat menular dalam waktu 24 jam setelah seseorang mendapatkannya, itu sedikit mengubah permainan,” kata Menteri Tanggap Covid-19 Selandia Baru Chris Hipkins, dilansir Bloomberg.

Hipkins mengatakan saat ini negaranya berada di penguncian level empat, tetapi hal itu tidak akan mungkin lagi dilakukan setiap kali timbul infeksi, mengingat penyebaran delta yang sangat cepat.

Hipkins juga menambahkan sistem telah bekerja dengan baik sebelum adanya varian delta, tetapi sekarang terlihat kurang memadai dan kurang kuat.

Selandia Baru berada pada tingkat penguncian tertinggi sejak Selasa lalu, setelah kasus komunitas virus corona ditemukan di Auckland. Pada hari ini, negara itu melaporkan 21 kasus lokal lebih lanjut, sehingga totalnya menjadi 72.

PM Morrison mengatakan sangat tidak mungkin Australia akan kembali bebas dari infeksi Covid. Ketika tingkat vaksinasi mencapai target 70 persen hingga 80 persen dari populasi yang memenuhi syarat, pembatasan akan mulai dicabut.

“Anda tidak bisa hidup dengan penguncian selamanya, dan pada titik tertentu Anda perlu mengubah strategi itu,” katanya.

Di surat kabar Daily Telegraph, Morrison mengatakan meningkatnya kasus tidak perlu memengaruhi rencana untuk membuka kembali sesegera mungkin.

“Jadi sementara saat ini strategi nasional kita adalah tentang menekan virus dan memvaksinasi sebanyak mungkin orang, fokus pada jumlah kasus saja mengabaikan fakta bahwa lebih sedikit orang yang sakit parah, apalagi sekarat,” katanya.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern pada 12 Agustus menyusun rencana untuk mengurangi pembatasan virus di negara itu, dengan mengatakan pemerintah akan mempercepat peluncuran vaksinnya tahun ini dan memulai pembukaan kembali perbatasan secara bertahap pada awal 2022.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

selandia baru australia Covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top