Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Taliban Janji Lebih Moderat, Wanita Afghanistan Boleh Bekerja

Sebelumnya di era kepemimpinan Taliban pada 1996 sampai 2001, landasan konservatif ekstrem Taliban berkaitan prinsip-prinsip syariah masih sangat kental. 
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 17 Agustus 2021  |  21:15 WIB
Orang-orang berlarian menuju Terminal Bandara Kabul, setelah gerilyawan Taliban menguasai istana presiden di Kabul, (16/8/2021), dalam gambar diam yang diambil dari video yang diperoleh dari media sosial. ANTARA/Jawad Sukhanyar/via REUTERS - pri.
Orang-orang berlarian menuju Terminal Bandara Kabul, setelah gerilyawan Taliban menguasai istana presiden di Kabul, (16/8/2021), dalam gambar diam yang diambil dari video yang diperoleh dari media sosial. ANTARA/Jawad Sukhanyar/via REUTERS - pri.

Bisnis.com, JAKARTA - Kelompok Taliban yang kini telah kembali menguasai Afghanistan, mengungkap janjinya akan wajah yang lebih moderat.

Sekadar informasi, Taliban resmi menjadi kekuatan pemerintah setelah 10 hari melancarkan serangan kilat di Kabul pada pada Minggu (15/8/2021), seiring penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) atas keputusan Presiden Joe Biden. 

Hal ini setidaknya sempat membuat kepanikan, di mana ribuan warga berbondong-bondong mengerumuni bandara internasional untuk melarikan diri, bahkan ada yang sampai nekat menaiki sisi pesawat saat lepas landas. 

Dilansir Bloomberg, Enamullah Samangani selaku anggota komisi kebudayaan Taliban mengungkap bahwa pihaknya kini menyatakan amnesti bagi seluruh aparatur pemerintahan atau mendukung pihak oposisi dan penjajah.

Taliban pun berjanji tidak akan melakukan pembalasan terhadap mereka yang sebelumnya berada di lingkaran kekuasaan dan negara luar. 

Bahkan, Taliban pun mengungkap akan memperbolehkan wanita untuk sekolah, bekerja, dan berada di pemerintahan dengan syarat tertentu, sesuai syariat Islam dan nilai-nilai budaya setempat. 

"Pemerintahan Emirat Islam Afghanistan tidak ingin perempuan menjadi korban lagi, setelah 40 tahun menjadi korban utama di kala krisis," ungkapnya, dilansir dari Associated Press, Selasa (17/8/2021). 

Hal ini terbilang senada dengan tekanan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Security Council di mana pemerintahan baru Afghanistan harus bersatu, inklusif, representatif, dan mengakomodasi peran wanita. 

Artinya, kelompok Islam fundamentalis ini telah menunjukkan wajah lebih moderat setelah 20 tahun lebih terlibat dalam konflik. 

Sekadar informasi, sebelumnya di era kepemimpinan Taliban pada 1996 sampai 2001, landasan konservatif ekstrem Taliban berkaitan prinsip-prinsip syariah masih sangat kental. 

Perempuan tidak boleh bekerja, bersekolah atau melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas, bahkan harus mengenakan cadar dan ditemani laki-laki muhrimnya apabila keluar ke ranah publik. 

Kala itu, kelompok ultrakonservatif ini pun masih menerapkan hukuman berupa rajam atau pelemparan batu, serta eksekusi dan amputasi di depan umum bagi mereka yang diputuskan bersalah masih berlaku. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

afghanistan taliban

Sumber : Bloomberg

Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top