Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cegah Ping-Pong Kasus Covid-19 di Jawa dan Sumatra Usai Lebaran

Jumlah pemudik ke Sumatra melalui Pelabuhan Merak pada musim mudik 2021 mencapai 440.000 orang.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 17 Mei 2021  |  12:50 WIB
Cegah Ping-Pong Kasus Covid-19 di Jawa dan Sumatra Usai Lebaran
Ilustrasi - Pelabuhan Bakauheni di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. - Antara/Ardiansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Peniadaan mudik lebaran dinilai memberikan dampak cukup bagus dalam pengendalian arus mudik tahun ini.

Salah satu indikasinya adalah penurunan angka pemudik khususnya dari wilayah Jabodetabek.

Meski kebijakan peniadaan mudik tidak berhasil 100 persen, karena masih ada yang lolos untuk mudik tanpa persyaratan yang sudah ditentukan, bukan berarti kebijakan peniadaan mudik gagal sama sekali.

Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.

Sementara itu, berdasar survei Kementerian Perhubungan jika kebijakan mudik diberlakukan maka 33 persen orang akan pergi mudik. Setelah ada pengumuman larangan mudik tercatat yang berminat mudik turun menjadi 11 persen.

Begitu kebijakan larangan mudik ditetapkan masih ada 7 persen (18 juta warga) yang tetap berkeinginan mudik. Namun melalui kebijakan penyekatan di sejumlah jalur mudik, yang lolos mudik dari Jabodetabek sekitar 1,5 juta.

Angka yang lolos ini diluar dugaan karena perkiraan sebelumya sekitar 3 sampai 4 juta orang akan bisa lolos mudik tahun ini.

Itu sebabnya sejumlah epidemiolog mengingatkan angka sebesar itu akan berisiko meningkatkan kasus penyebaran virus Corona di daerah tujuan mudik.

Covid Jabodetabek

Jabodetabek menjadi sorotan terkait kasus Covid-19. Secara persentase jumlah kasus di DKI Jakarta paling tinggi, per 16 Mei 2021 mencapai 419.047 (24, 1 persen).

Jika ditambah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi, angka kasus Covid di Jabodetabek bisa mencapai 30 persen dari total kasus secara nasional.

Potensi sebaran virus Corona dari mobilitas di wilayah aglomerasi Jabodetabek itu menjadi ancaman daerah lain saat arus mudik. Sekarang, hal sebaliknya berlaku. Mereka yang sudah mudik akan kembali ke wilayahnya masing-masing. Mereka yang kembali menjadi ancaman jika tidak dilakukan skrining ketat melalui uji cepat antigen.

Lonjakan Kasus Harian

Sejauh ini belum bisa dipastikan seberapa besar lonjakan kasus harian Covid-19. Untuk mengetahui angka Covid-19 setelah lebaran, masih harus menunggu dua minggu ke depan.

Hasilnya akan menjadi tanda apakah Covid-19 benar-benar sudah dapat dikendalikan atau memang masih menyimpan bom waktu.

Jumlah spesimen yang diperiksa, sesuai laporan Satgas Covid-19 dalam beberapa hari terakhir, menunjukkan penurunan. Angkanya tidak sebanyak satu bulan sebelumnya sehingga masih belum menggambarkan adanya upaya testing yang meningkat di sejumlah daerah.

Angka spesimen secara nasional pada 13 sampai 16 Mei 2021 masing-masing tercatat 31.550, 18.540, 29.587, 37.473. Itu berarti secara rerata hanya 29.287 spesimen yang diperiksa per hari. Sementara itu, saat larangan mudik berlaku, angka spesimen masih cukup tinggi seperti pada tanggal 10 sampai 12 Mei 2021 tercatat masing-masing 49.483, 75,416, 62.258 atau rata-rata 62.2385 spesimen.

Ini artinya ada penurunan spesimen yang diperiksa sampai 50 persen lebih saat libur lebaran. Padahal, sudah selayaknya testing lebih dilipatgandakan untuk memberikan peta sebaran di daerah tujuan mudik.

Pelandaian kasus harian Covid-19 di Indonesia yang antara lain karena angka testing yang masih rendah belum menggambarkan peta sebenarnya. Ini bisa mengindikasikan tidak ada upaya daerah untuk meningkatkan testing Covid selama libur lebaran, misalnya testing acak di sejumlah titik masuk dan tempat wisata.

Sejumlah epidemiolog menyuarakan pentingnya peningkatan testing yang dilanjutkan dengan tracing dan treatment saat peningkatan mobilitas penduduk. Itu perlu dilakukan mengingat penyebaran virus ini berbanding lurus dengan angka mobilitas warga.

Mobilitas warga tidak hanya tergambar dari pelaku perjalanan mudik tetapi juga kenaikan mobilitas akibat kegiatan silaturahim dan berlibur ke objek wisata yang angka mobilitasnya bisa lebih tinggi lagi.

Tempat Wisata

Tempat wisata menjadi ancaman baru bagi penyebaran Covid-19 pada libur lebaran kali ini. Walaupun di sejumlah daerah banyak lokasi wisata yang ditutup, di lokasi lain di sejumlah daerah mengalami lonjakan luar biasa.

Sayangnya warga juga masih mengabaikan protokol kesehatan seperti jaga jarak dan menggunakan masker.

Pengawasan masyarakat yang ikut memviralkan kepadatan pengunjung di lokasi wisata patut diapresiasi karena akhirnya sejumlah lokasi wisata ditutup paksa Satgas Covid-19 setempat.

Selain itu, mobilitas silaturahim dan liburan di wilayah Jabodetabek selama Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriah dan tiga hari sesudahnya juga melonjak cukup tinggi.

Dua hari pertama Lebaran di sejumlah ruas jalan pinggiran Jakarta terjadi kemacetan luar biasa termasuk akses keluar tol.

Nafsu mudik yang dibatasi akhirnya disalurkan dengan silaturahim jarak dekat dan liburan di lokasi wisata terdekat.

Kawasan Puncak di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur masih menjadi tujuan utama warga Jabodetabek untuk berlibur. Penyekatan yang ketat membuat kawasan menuju puncak mengalami kepadatan lalu lintas yang luar biasa, apalagi petugas juga menjaga jalur alternatif menuju puncak.

Kawasan lain yang menjadi tujuan liburan adalah kawasan wisata pantai mulai dari Anyer sampai pantai Carita di Banten. Sejumlah foto kerumunan di lokasi yang sempat viral membuat Gubernur Banten menutup kawasan wisata itu mulai Sabtu (15/5) malam sampai 30 Mei 2021.

Covid Sumatra Naik

Pemerintah menilai penyebaran Covid di Sumatra menunjukkan kenaikan menjelang Lebaran. Salah satu faktor pelonjak adalah adanya pemudik dini ke sejumlah tujuan mudik di Sumatra. Mereka mudik lebih cepat demi menghindari larangan mudik yang diberlakukan mulai 6 Mei 2021.

Pemudik dini inilah yang diduga menularkan virus Corona yang membuat sejumlah provinsi di Sumatra mengalami lonjakan angka harian Covid. Akibatnya, keterisian ruangan khusus covid juga semakin meningkat.

Saat Ramadan, Kepala BNPB Doni Monardo sampai berkeliling ke sejumlah daerah di Sumatra untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Ia juga meminta pemerintah daerah menyiapkan sarana dan prasana untuk menangani pasien termasuk ruang isolasi di sejumlah rumah sakit.

Doni mengingatkan keterisian rumah sakit di sejumlah provinsi di Pulau Jawa juga sempat kritis akibat lonjakan penyebaran Covid-19 pada awal tahun 2021. Ia tak ingin kejadian serupa terulang di Sumatra.

Prakiraan Doni tepat karena beberapa daerah mengalami lonjakan keterisian seperti di Kepri. Per 16 Mei 2021, Dinas Kesehatan Provinsi Kepri mengungkap tempat tidur isolasi dan tempat tidur ICU Covid-19 di empat rumah sakit di daerah itu sudah penuh.

Keempat rumah sakit dimaksud yakni RS Graha Hermina, RS Sudarsono Dharmosuwito, RS Keluarga Husada Batam, dan RSKI Galang.

Ping Pong Covid Jawa - Sumatra

Saat ini grafik penyebaran Covid-19 di Pulau Jawa cenderung landai. Pemerintah tidak ingin kondisi ini terganggu oleh arus balik pemudik dari Sumatra yang saat ini mempunyai banyak zona merah dan oranye.

Banyak daerah berstatus kuning dan hijau di Jawa, sementara banyak daerah di Sumatra berstatus oranye dan merah. Jadi menurut Doni jangan sampai terjadi “ping pong” antara Jawa dan Sumatra dalam hal penyebaran virus Corona ini.

Kementerian Perhubungan mencatat jumlah pemudik ke Sumatra melalui Pelabuhan Merak pada musim mudik 2021 mencapai 440.000 orang.

Jumlah yang sama diperkirakan akan kembali ke Pulau Jawa sehingga harus ada antisipasi jangan sampai mereka yang kembali juga membawa virus di tubuhnya.

Pemerintah menyiapkan skenario mewajibkan tes cepat antigen di dua pintu masuk ke Pulau Jawa yaitu di Pelabuhan Bakaheuni, Lampung dan Pelabuhan Gilimanuk, Bali.

Di sejumlah titik masuk lainnya dilakukan tes cepat antigen secara acak termasuk di ibu kota provinsi di Jawa.

Untuk pemudik asal Jawa yang bergerak melalui Jalur Pantura tes cepat antigen akan dipusatkan di Balonggandu, Karawang, Jawa Barat atau sekitar 17 kilometer arah timur, Simpang Jomin. Di sejumah rest area jalan tol juga akan dilakukan tes cepat secara acak.

Penyekatan Arus Balik

Kementerian Perhubungan meminta setiap daerah melakukan penyekatan bagi arus balik. Hal itu perlu untuk mengecek apakah pemudik sudah dilengkapi surat negatif Covid-19 baik melalui tes cepat atau GeNose. I

Hal itu akan meringankan pemeriksaan di pos penyekatan di Bakauheni dan Gilimanuk serta posko menjelang masuk Jabodetabek.

Gencarnya pemeriksaan pemudik yang kembali itu merupakan upaya pengendalian pandemik agar pemudik tidak kembali dengan membawa virus yang akhirnya bisa memunculkan klaster baru.

Pemudik yang merasa mempunyai gejala Covid-19 juga lebih baik segera memeriksakan diri sebelum memaksakan kembali. Jika memaksakan diri, mereka bisa membahayakan keselamatan dirinya sendiri serta bepotensi menyebabkan penularan ke orang lain.

Pemerintah juga meminta bantuan semua lapisan masyarakat untuk saling mengingatkan protokol kesehatan di rumah, di lingkungan warga dan tempat umum. Dengan begitu diharapkan lonjakan kasus Corona tidak terjadi seperti kasus yang muncul usai Lebaran tahun lalu.

Semua berharap grafik landai kasus harian Covid-19 khususnya di Pulau Jawa bisa terjaga sampai Agutus 2021. Semoga hal itu menjadi kado di Hari Kemerdekaan RI yang ke-76 mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jabodetabek sumatra jawa Covid-19

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top