Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diserbu Covid-19, Tokyo dan Osaka Diambang Status Darurat

Penetatapan status darutat itu akan memungkinkan kota-kota besar di Jepang memberlakukan pembatasan sosial untuk menghentikan penyebaran infeksi virus Corona.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 21 April 2021  |  13:19 WIB
Suasana distrik perbelanjaan dan hiburan Dotonbori di Osaka, Jepang, Rabu (8/4/2020)./Antara - AFLO
Suasana distrik perbelanjaan dan hiburan Dotonbori di Osaka, Jepang, Rabu (8/4/2020)./Antara - AFLO

Bisnis.com, TOKYO - Dua wilayah di Jepang yakni Tokyo dan Osaka berada di ambang penerapan status darurat.

Wabah Covid-19 membuat jumlah kasus di dua wilayah tersebut mengalami lonjakan.

Laporan NHK, Rabu (21/4/2021) menyebutkan pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan status keadaan darurat untuk Tokyo dan Osaka.

Penetatapan status darutat itu akan memungkinkan kota-kota besar di Jepang memberlakukan pembatasan sosial untuk menghentikan penyebaran infeksi virus Corona.

Sejumlah media lokal melaporkan, dengan ribuan kasus baru Covid akibat  jenis virus yang sangat menular, pemerintah Jepang diperkirakan akan mengumumkan keadaan darurat pekan ini untuk Tokyo dan Osaka, juga prefektur tetangganya, Hyogo.

Jepang sejauh ini telah menghindari jenis penyebaran eksplosif dari pandemi yang telah melanda banyak negara Barat.

Total kasus sejauh ini tercatat sekitar 540.000 dan korban meninggal sebanyak 9.707 jiwa.

Namun, peningkatan kasus infeksi terbaru telah memicu kekhawatiran. Lonjakan kasus Covid terjadi hanya tiga bulan sebelum dimulainya Olimpiade Tokyo.

Sementara itu program vaksinasi masih berlangsung lambat.

Gubernur Tokyo Yuriko Koike sedang mempersiapkan untuk meminta periode keadaan darurat diumumkan dari 29 April hingga 9 Mei.

Periode itu mencakup liburan tahunan Jepang 'Golden Week', menurut laporan surat kabar Mainichi.

Osaka, yang menjadi episentrum gelombang keempat pandemi Covid di Jepang, meminta status keadaan darurat baru pada Selasa, serta berusaha membatalkan atau menunda semua acara besar untuk membatasi pergerakan orang.

Langkah-langkah kuasi darurat sudah diberlakukan di 10 dari 47 prefektur Jepang, termasuk wilayah Tokyo dan Osaka.

Pengumuman baru status darurat oleh pemerintah akan menandai keadaan darurat penuh ketiga di Jepang sejak epidemi Covid-19 berlangsung.

Total kerugian ekonomi dari keadaan darurat baru di tiga wilayah akan menjadi 1,156 triliun yen (sekitar Rp155,86 triliun), kata Institut Riset Nomura dalam sebuah laporan.

Pada Rabu, juru bicara utama pemerintah Jepang, Katsunobu Kato mengulangi sikap pemerintah bahwa mereka akan mempertimbangkan setiap permintaan untuk pengumuman keadaan darurat "dengan cepat".

Namun, Kato tidak memberi keterangan terperinci terkait kerangka waktu.

Sementara perusahaan farmasi Pfizer Inc April tahun ini akan menandatangani kontrak untuk memasok tambahan 50 juta dosis vaksin Covid ke Jepang pada September, menurut laporan surat kabar Nikkei.

Perdana Menteri Yoshihide Suga selama kunjungan ke Amerika Serikat melakukan pembicaraan dengan CEO Pfizer pada Sabtu lalu (17/4) untuk mendapatkan lebih banyak vaksin.

Hal itu seiring dengan kontrak yang ada antara Jepang dan Pfizer serta Moderna Inc, yang vaksin Covid-19nya sedang ditinjau oleh regulator domestik.

Juru bicara pemerintah Jepang Katsunobu Kato menolak berkomentar tentang jumlah dosis tambahan dari Pfizer.

Pihak perusahaan farmasi tersebut pun tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang Virus Corona Covid-19

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top