Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

432 Orang Tewas, Biden: Militer Myanmar Benar-Benar Keterlaluan!

Myanmar mengalami kekacauan sejak militer menggulingkan dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 29 Maret 2021  |  11:20 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. - Antara/Reuters
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengecam pertumpahan darah yang dilancarkan terhadap pengunjuk rasa anti-kudeta di Myanmar sebagai langkah "benar-benar keterlaluan" setelah pasukan keamanan menewaskan lebih dari 100 orang termasuk sedikitnya tujuh anak-anak.

Myanmar mengalami kekacauan sejak militer menggulingkan dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021.

Tindakan itu memicu protes massa menuntut kembali ke demokrasi.

Pada Sabtu (27/3/2021), setidaknya 107 orang tewas di seluruh Myanmar, ketika pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa.

"Ini mengerikan," kata Biden kepada wartawan dalam sambutan singkat yang dia berikan di negara bagian asalnya, Delaware.

"Benar-benar memalukan, dan berdasarkan laporan yang saya dapatkan, banyak sekali orang terbunuh yang sama sekali tidak perlu," katanya.

Pembunuhan pada Sabtu  (27/3/2021) terjadi setelah junta menggelar unjuk rasa besar pada Hari Angkatan Bersenjata tahunannya.

Sedangkan, Uni Eropa menggambarkan kekerasan mematikan itu sebagai "tidak bisa diterima".

"Jauh dari semangat merayakan, militer Myanmar kemarin telah membuat hari yang mengerikan dan memalukan," kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell dalam sebuah pernyataan seperti ikutip ChannelNewsAsia.com, Senin (29/3/2021).

Kecaman itu muncul setelah kepala pertahanan 12 negara termasuk AS, Inggris, Jepang, dan Australia mengecam militer Myanmar.

"Seorang militer profesional mengikuti standar perilaku internasional dan bertanggung jawab untuk melindungi, bukan merugikan orang-orang yang dilayaninya," menurut pernyataan bersama yang jarang itu.

"Kami mendesak Angkatan Bersenjata Myanmar untuk menghentikan kekerasan dan bekerja untuk memulihkan rasa hormat dan kredibilitas dengan rakyat Myanmar yang telah hilang melalui tindakannya."

Sedangkan, menurut kelompok pemantau lokal, jumlah korban tewas akibat tindakan keras sejak kudeta telah meningkat menjadi sedikitnya 423 orang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

myanmar Joe Biden
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top