Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biden Belum Ada Rencana Temui Pemimpin Israel dan Arab Saudi, Dikucilkan AS?

Tidak adanya kontak langsung antara presiden Amerika Serikat dan pemimpin Israel telah memicu spekulasi di Israel dan di antara analis Timur Tengah.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 14 Februari 2021  |  08:20 WIB
Gedung Putih di Washington DC, AS - Reuters/Jason Reed
Gedung Putih di Washington DC, AS - Reuters/Jason Reed

Bisnis.com, JAKARTA - Gedung Putih membantah bahwa Presiden Amerika Serikat Joe Biden dengan sengaja menghina Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tidak memasukannya ke dalam daftar para pemimpin dunia yang dihubungi sejak dia menjabat pada 20 Januari lalu.

Tidak adanya kontak langsung antara presiden Amerika Serikat dan pemimpin Israel telah memicu spekulasi di Israel dan di antara analis Timur Tengah bahwa pemerintahan baru menunjukkan ketidaksenangannya atas hubungan dekat yang dibangun Netanyahu dengan pendahulu Biden, mantan presiden Donald Trump.

"Dia menanti untuk berbicara dengan Perdana Menteri Netanyahu," kata juru bicara Gedung Putih Jen Psaki kepada wartawan pada briefing seperti dikutip Aljazeera.com, Minggu (14/2/2021).

Menjawab pertanyaan wartawan soal hubungan kedua negara, dia mengatakan bahwa dirinya bisa meyakinkan bahwa Biden akan mengunjungi Israel, tetapi pihaknya belum punya waktu yang spesifik.

Ketika ditanya apakah penundaan kunjungan kehormatan Biden dimaksudkan untuk tidak menghormati pemimpin Israel, Psaki mengatakan hal ini bukan disengaja, pasalnya Perdana Menteri Netanyahu adalah seseorang yang baru dikenal presiden AS tersebut.

Biden, katanya, menanti-nantikan waktu bisa berjumpa dengan PM Israel. Israel adalah salah satu sekutu terdekat Washington. Trump dan pendahulunya, Barack Obama dan Biden yang menjabat sebagai wakil presiden, menelepon Netanyahu dalam beberapa hari setelah menjabat.

Sejauh ini Biden telah menghubungi sejumlah pemimpin asing, termasuk dari China, Meksiko, Inggris, India, Prancis, Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Rusia.

Akan tetapi Netanyahu sendiri meremehkan anggapan bahwa dia diremehkan. Meski Netanyahu sering sejalan dengan Trump terkait kebijakan Timur Tengah, namun dia bisa berada dalam hubungan yang lebih terbatas dengan Biden.

Biden telah lama dianggap di Israel sebagai teman di Washington, tetapi dia dan Netanyahu terkadang tidak saling sejalan.

Netanyahu akan kecewa jika Biden memulihkan partisipasi AS dalam kesepakatan nuklir Iran yang dibatalkan Trump. Di bawah Biden, AS berjanji akan meningkatkan hubungan Washington yang rapuh dengan Palestina seperti yang dia janjikan dan menentang pembangunan permukiman Israel di tanah yang diduduki tempat Palestina mencari status kenegaraan.

Netanyahu juga menggunakan hubungannya dengan Trump dalam pemilihan umum baru-baru ini untuk mempromosikan kemampuannya menjaga agar Amerika Serikat selaras dengan kebijakannya. Namun, dengan pemilu keempat Israel dalam dua tahun yang dijadwalkan pada 23 Maret, dia mungkin tidak lagi memiliki keuntungan politik itu.

Psaki juga mengatakan tidak ada kunjungan yang direncanakan untuk pemimpin Arab Saudi Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

“Ya, jelas ada tinjauan atas kebijakan kami yang terkait dengan Arab Saudi. Tidak ada rencana kunjungan yang saya tahu," katanya.

Psaki sebelumnya mengesampingkan pertanyaan tentang apakah pemerintah akan menjatuhkan sanksi pada Arab Saudi atas pembunuhan kolumnis Washington Post tahun 2018, Jamal Khashoggi oleh agen Arab Saudi di konsulat kerajaan di Istanbul.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat arab saudi israel Joe Biden

Sumber : Aljazeera.com

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top