Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Partai Banteng Sapu Bersih Soloraya, Adu Kuat Di Mataraman Selatan

Pilkada 2020 membuktikan kekuatan politik PDI Perjuangan di kawasan Soloraya dan Mataraman Selatan. Akankah kemenangan partai merah ini memberi efek elektoral pada pemilu 2024 nanti?
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 16 Desember 2020  |  10:27 WIB
Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (kanan) bersama Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kiri) menyapa pendukung saat kampanye akbar di Solo, Jawa Tengah, Selasa (9/4/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A
Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (kanan) bersama Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kiri) menyapa pendukung saat kampanye akbar di Solo, Jawa Tengah, Selasa (9/4/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - PDI Perjuangan (PDIP) berhasil menguatkan dominasinya sebagai penguasa dan pemenang di wilayah Mataraman (Jawa Timur), Soloraya.

PDIP hampir dipastikan keluar sebagai pemenang dalam kontestasi pemilihan kepala daerah atau Pilkada 2020 di kawasan telah lama dikenal sebagai basis pendukung partai berlambang banteng alias "Kandang Banteng".

Soloraya menjadi pembuktian kedigdayaan partai banteng. Dalam Pilkada Serentak 9 Desember lalu, PDIP menyapu bersih seluruh kursi kepala daerah dan tak menyisakan sedikitpun ruang bagi lawan-lawan politiknya untuk menang di kawasan tersebut. PDIP bahkan tercatat menang secara mutlak, lebih dari 80 persen, di empat daerah.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dikutip Rabu (16/12/2020) dari pilkada2020.kpu.go.id pukul  09.15 WIB, kemenangan mutlak PDIP itu diperoleh di Kota Surakarta, Sragen, Boyolali, dan Wonogiri. 

Di Surakarta atau Solo, anak mbarep Presiden Joko Widodo Gibran Rakabuming Raka yang berpasangan dengan Teguh Prakosa meraup suara sebanyak 86,5 persen. Tren suara di atas 80 persen juga terjadi Sragen. Calon petahana Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati - Suroto menang sebanyak 80,4 persen.

Kusdinar sebenarnya eks kader PDIP. Dia menjabat sebagai Bupati Sragen diusung oleh Partai Gerindra. Namun pada Pilkada 2020, Kusdinar kembali diusung oleh PDIP, partai yang notabene pernah memecatnya pada 2015 silam.

Sementara itu, di Wonogiri petahana Joko Sutopo dan Setyo Sukarno juga memperoleh suara fantastis. Meski bertarung head to head dengan pasangan Hartanto - Joko Purnomo yang diusung PKB, PKS,dan Gerindra, Bupati Jekek berhasil meraup suara hingga 83,2 persen.

Perolehan suara paling fantastis diperoleh partai banteng itu di Kabupaten Boyolali. Boyolali memang sudah lama menjadi basis PDIP. Maka wajar, jika perolehan suara calon dari PDIP yakni Mohammad Said Hidayat - Wahyu Irawan mencapai 95,5 persen.

PDIP hanya mencatat kemenangan di bawah 60% di Sukoharjo dan Klaten. Di Sukoharjo, pasangan Etik Suryani dan Agus Santosa hanya memperleh suara sebanyak 52,9 persen. Sementara di Klaten calon kepala daerah dari PDIP Sri Mulyani - Yoga Hardaya berhasil memperoleh suara sebanyak 50,2 persen.

Meski demikian, kemenangan enam jagoan banteng di Pilkada 2020 semakin mengukuhkan status Soloraya sebagai "kandang banteng" dan hanya menyisakan wilayah Karangayar yang 'setengahnya' masih dikuasai Partai Golkar. Pasalnya di Karanganyar PDIP hanya kebagian jatah wakil bupati.

Mataraman Selatan

Beda Solo, beda pula wilayah Mataraman Selatan, Jawa Timur. Wilayah Mataraman relatif heterogen. Jika mengacu pada trikotomi ala Clifford Geerrtz, kekuatan politik di wilayah ini dikendalikan oleh golongan santri, priyayi, dan abangan

Maka tak heran, meski kultur 'Mataraman' cukup kuat di wilayah ini, ada beberapa daerah yang 'luput' dari kekuasaan PDIP.  Apalagi setelah munculnya Partai Demokrat yang notabene partai akamsi alias anak kampung sendiri. Kemunculan Demokrat mengubah konstelasi politik khususnya di Mataraman bagian selatan.

Sebelum pilkada 2020, di wilayah Mataraman, persaingan klan-klan politik sangat ketat. Saling rebut wilayah sering terjadi. Wilayah Madiun bisa menjadi contoh. Di Madiun, wilayah kabupatennya dikuasi Partai Demokrat (elit priyayi), sementara kota Madiun dikuasai oleh PDIP yang merepresentasikan abangan alias wong cilik

Kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Pacitan, Magetan dan Ponorogo yang keduanya didominasi Demokrat dan Partai Nasional Demokrat alias Nasdem. Padahal, secara kultur wilayah ini dulunya adalah basis partai abangan.

Kendati dalam beberapa dekade ada pergeseran kekuasaan, posisi PDIP di wilayah Mataraman Selatan tak bisa dianggap remeh. PDIP tercatat masih menguasai wilayah Kediri, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk (Wakil Bupati), Blitar , hingga Ngawi.

Lalu bagaimana setelah Pilkada 2020? 

Kontestasi Pilkada tahun 2020 memang cukup menantang. Selain karena pandemi, Pilkada 2020 juga akan menentukan konstelasi politik tahun 2020.

Berbeda di Solo yang hampir 100 persen dikuasi PDIP,  pada Pilkada 2020, ada pergeseran-pergeseran kekuasan dari peta politik sebelum pilkada berlangsung.

PDIP tercatat menang di wilayah Kota Blitar, pasangan calon keoala daerahnya yakni Santoso - Tjutjuk Sunario berhasil meraih suara sebanyak 57,4 persen. Meski menang di kota, namun dalam pilkada tahun ini PDIP harus kehilangan kekuasaannya di Kabupaten Blitar.

Jagoan partai banteng yang juga petahana Rijanto - Marhaenis kalah dari Rini Syarifah - Santoso. Rijanto - Marhaenis hanya memperoleh suara sebanyak 41 persen. PDIP juga kalah di Pacitan yang menjadi basis pendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Meski kalah di Pacitan dan Blitar, PDIP berhasil merebut posisi Bupati Ponorogo. Pasangan yang diusung PDIP yakni Sugiri Sancoko - Lisdyarita berhasil menggulingkan petahana Ipong Muchlissoni - Bambang Triwahono. Sugiri - Lisdyarita berhasil meraup suara sebanyak 61,4 persen.

Selain itu PDIP juga berhasil mengamankan wilayah Mataraman Selatan lainnya seperti Trenggalek, Kediri, Ngawi. Di Trenggalek, pasangan inkumben Mochamad Nur Arifin - Syah Muhamad Netanegara berhasil memperoleh suara sebanyak 68,1 persen.

PDIP juga tercatat tak memiliki pesaing di Pilkada Kediri dan Ngawi. Di Kediri, putra Sekretaris Kabinet Promono Anung, Hanindhito Himawan Pramana yang berpasangan dengan Dewi Mariya Ulfa meraup suara 76,5 persen. 

Sementara di Ngawi, Ony Anwar Harsono dan Dwi Rianto Jatmiko menang melawan kotak kosong. Total perolehan suara Ony - Dwi mencapai 94,3 persen. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pdip jawa timur Pilkada 2020
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top