Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biden Jadi Presiden AS, Ini Dampaknya Bagi Hubungan AS-China

Meskipun sebagian besar analis berharap AS akan mengubah pendekatannya dalam hubungan dengan China, mereka juga mengatakan persaingan antara dua ekonomi terbesar dunia akan tetap ada.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 09 November 2020  |  14:54 WIB
Capres AS Joe Biden merayaan kemenangannya dalam Pilpres AS di Wilmington, Delaware, AS, Sabtu (7/11/2020). - Antara/Reuters\r\n
Capres AS Joe Biden merayaan kemenangannya dalam Pilpres AS di Wilmington, Delaware, AS, Sabtu (7/11/2020). - Antara/Reuters\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat ke-46 diharapkan memberikan perubahan terhadap hubungan ekonomi dan politik dengan China.

Sejumlah analis berfokus bagi dampak kemenangan Joe Biden bagi ekonomi dan pasar China setelah hubungan dengan AS anjlok ke level terendah di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Meskipun sebagian besar berharap AS akan mengubah pendekatannya dalam hubungan dengan China, mereka juga mengatakan persaingan antara dua ekonomi terbesar dunia akan tetap ada.

Kepala ekonom Asia-Pasifik S&P Global Ratings Shaun Roache memperkirakan pemerintahan Biden nantinya akan mengadopsi strategi ekonomi dan keuangan China yang lebih dapat diprediksi dan multilateral.

“Namun, masalah ekonomi inti pusat ketegangan kedua negara, terutama akses pasar dan kebijakan industri, kemungkinan besar akan tetap sulit diselesaikan,” ungkap Roache, seperti dikutip Bloomberg.

Berikut ini adalah gambaran lebih lanjut mengenai reaksi analis terhadap hubungan AS-China pada pemerintahan Biden nantinya:

Bermata Dua

Ekonom Zhongtai Securities Ltd. Xu Chi dan Zhang Wenyu mengatakan, dengan friksi yang kemungkinan akan tetap terjadi dalam jangka menengah hingga jangka panjang, China akan terus mengejar kebijakan kemandirian ekonomi yang lebih besar.

"Kami yakin kami tidak boleh membuat asumsi yang terlalu optimistis terhadap hubungan AS-China jangka menengah hingga panjang setelah Biden menjabat," tulis mereka dalam salah satu posting di WeChat.

“Masih diperlukan percepatan pembentukan pola pembangunan baru dengan pasar domestik sebagai andalan dan pasar internasional dan domestik yang saling mendukung satu sama lain, guna mengantisipasi kemungkinan risiko eksternal dan tantangan dalam proses pembangunan,” lanjut mereka.

Berlanjutnya Persaingan

Hal itu digaungkan oleh Bo Zhuang dari firma riset TS Lombard, yang mengatakan China akan terus bermain dengan jangka waktu, terutama di bidang teknologi.

“AS dan China akan semakin bersaing secara langsung di berbagai bidang mulai dari teknologi hingga keamanan. Pemerintah di Beijing melihat China terlibat dalam perjuangan jangka panjang dengan AS, yang harus dikejar sebagai inti dari klaimnya atas kekuasaan, sehingga mengurangi ketergantungan pada AS untuk mendukung 'Model China'."

Penundaan Tarif Perdagangan

Ekonom Senior di Maybank Kim Eng Research Pte, Chua Hak Bin, mengatakan presiden AS yang akan datang diperkirakan menerapkan pendekatan yang lebih multilateral untuk perdagangan dibandingkan yang dilakukan Trump, sehingga kecil kemungkinan AS menerpkan tarif perdagangan lain dalam waktu dekat.

"Pemerintahan Biden diperkirakan akan menekan China melalui aliansi dan liberalisasi lebih lanjut dibandingkan melalui sanksi, tarif dan biaya manipulasi mata uang. Perang dagang AS-China mungkin mereda di bawah Biden," katanya.

Mata Uang Yuan

Kepala penelithan di Asutralia & New Zealand Banking group Ltd, Khoon Goh, mengatakan ekspektasi terhadap pendekatan Biden yang kurang agresif terhadap China akan memberikan dorongan terhadap mata uang yaun, bahkan ketika ketegangan AS-China belum mereda.

Mata uang yuan offshore kini sudah menjadi jawara di Asia sepanjang tahun ini setelah menguat sekitar 6 persen terhadap dolar AS. Hal ini didukung oleh pemulihan ekonomi yang solid dan imbal hasil positif atas aset AS.

"Yuan offshore telah menguat melewati 6,60 dan memiliki potensi untuk reli lebih lanjut, terutama jika kita melihat berlanjutnya pelemahan dolar. Yuan mungkin naik menjadi 6,45-6,5 pada akhir tahun atau awal tahun depan,” katanya.

Dorongan Bagi Sektor Teknologi

Managing Director Peaceful Investment Co. Ltd William Ping mengatakan meskipun pemerintahan Biden akan terus memandang China sebagai pesaing, akan ada ruang untuk kerja sama antara kedua negara. Terlebih, kebijakan perdagangan AS diperkirakan tidak akan bergejolak seperti ketidak saat pemerintahan Trump.

"Saya berencana untuk menambah eksposur ke saham telekomunikasi dan perusahaan lain yang terkait dengan teknologi 5G, guna mengantisipasi kondisi yang lebih menguntungkan untuk sektor teknologi. Setidaknya, itu berarti Huawei bertahan," ungkapnya.

Kendala

Ekonom Evergrande Research Intitute yang dipimpin oleh Ren Zeping mengatakan baik AS maupun China perlu menahan diri karena ketegangan antara kedua belah pihak akan berlangsung dalam jangka panjang.

“Tanggapan terbaik China adalah mempromosikan reformasi dan membuka diri dengan tekad yang lebih besar dan upaya yang lebih besar. Itu berarti China perlu fokus pada infrastruktur baru, urbanisasi, dan kebijakan keluarga berencana untuk mendorong swasembada,” tulis mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China Joe Biden

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top