Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lonjakan Perdagangan Medis Untungkan Negara Kaya Saja

UNCTAD dalam laporan Global Trade Update menemukan bahwa ekspor pasokan medis dari China, Uni Eropa, dan Amerika Serikat naik dari sekitar US$25 miliar menjadi US$45 miliar per bulan antara Januari dan Mei 2020.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Oktober 2020  |  11:01 WIB
Ilustrasi kapal kontainer -  Bloomberg
Ilustrasi kapal kontainer - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Lonjakan permintaan barang-barang medis terkait Covid-19 yang menopang perdagangan dunia selama masa pemulihan, sebagian besar menguntungkan negara kaya.

Pasokan medis yang dimaksudnya meliputi alat pelindung diri, disinfektan, peralatan diagnostik, alat bantu pernapasan oksigen, dan peralatan rumah sakit terkait lainnya.

Analisis United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) dalam laporan Global Trade Update menemukan bahwa ekspor pasokan medis dari China, Uni Eropa, dan Amerika Serikat naik dari sekitar US$25 miliar menjadi US$45 miliar per bulan antara Januari dan Mei 2020. Sejak April, perdagangan produk-produk tersebut telah meningkat dengan rata-rata lebih dari 50 persen.

Menurut laporan tersebut, peningkatan perdagangan semacam itu terutama menguntungkan negara-negara kaya, dengan negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah sebagian besar tidak dapat mengakses pasokan.

Sejak awal pandemi, setiap penduduk negara berpenghasilan tinggi rata-rata mendapat manfaat tambahan sebesar US$10 per bulan dari impor produk terkait Covid-19, dibandingkan dengan hanya US$1 untuk warga negara berpenghasilan menengah dan hanya US$0,10 bagi mereka yang berada di negara berpenghasilan rendah.

Ini berarti bahwa impor per kapita barang medis yang penting untuk mengurangi pandemi, sekitar 100 kali lebih tinggi untuk negara kaya daripada negara miskin.

"Meskipun diperkirakan peningkatan impor per kapita produk Covid-19 akan lebih besar untuk negara-negara kaya, perbedaannya sangat mengejutkan," demikian tertulis dalam laporan yang diakses Bisnis, Selasa (27/10/2020).

UNCTAD memperingatkan, jika vaksin Covid-19 tersedia, kesenjangan akses antara penduduk di negara kaya dan miskin bisa lebih drastis. Sementara beberapa negara berpenghasilan rendah memiliki kapasitas untuk memproduksi beberapa peralatan pelindung secara lokal, ini mungkin tidak terjadi pada vaksin, yang membutuhkan kapasitas manufaktur dan logistik yang lebih kuat.

Oleh karena itu, laporan tersebut menyerukan kepada pemerintah, sektor swasta dan sumber filantropi untuk terus memobilisasi dana tambahan untuk memerangi pandemi Covid-19 di negara berkembang dan untuk mendukung mekanisme keuangan. Misalnya seperti inisiatif Covax global untuk menyediakan vaksin yang aman dan efektif ke negara miskin.

Adapun, penilaian perdagangan di berbagai sektor juga menemukan bahwa pandemi telah menghantam industri energi dan otomotif paling parah. Sementara tanggapan mitigasi termasuk teleworking dan tindakan perlindungan pribadi telah menyebabkan pertumbuhan yang kuat di sektor-sektor seperti peralatan komunikasi, mesin kantor, tekstil dan pakaian jadi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor perdagangan alat kesehatan medis Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top