Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pangan Nasional Masih Belum Populer

Menurut Kepala Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) LIPI Satriyo Krido Wahono, hingga saat ini masih banyak bahan pangan lokal yang dipercaya mendatangkan banyak manfaat tetapi masih belum dibuktikan secara saintifik.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 16 Oktober 2020  |  19:38 WIB
Pekerja menyiapkan gula pasir untuk disalurkan ke operasi pasar dan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Gudang Perum Bulog Sub-Divisi Regional Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (3/4 - 2020). ANTARA
Pekerja menyiapkan gula pasir untuk disalurkan ke operasi pasar dan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Gudang Perum Bulog Sub-Divisi Regional Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (3/4 - 2020). ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Dewasa ini mengonsumsi makanan tidak hanya sekedar penunda lapar. Mulai banyak dari kita yang akan memperhatikan kualitas, manfaat, dan juga nilai gizi makanan yang akan kita konsumsi.

Kita semakin melek dengan kebutuhan tubuh kita dengan mengonsumsi makanan sehat dan juga nikmat. Bahan pangan yang kaya akan gizi yang memberikan manfaat kesehatan yang digunakan untuk diet sehari-hari dan juga lezat ini dinamakan pangan fungsional.

Bertepatan dengan hari pangan sedunia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan webinar bertema Popularitas Pangan Nasional pada Jumat (16/10/2020).

Menurut Kepala Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) LIPI Satriyo Krido Wahono, hingga saat ini masih banyak bahan pangan lokal yang dipercaya mendatangkan banyak manfaat tetapi masih belum dibuktikan secara saintifik.

"Banyak biodiversitas Indonesia yang biasa kita dengar 'kata mbah saya ini bermanfaat' namun belum dibuktikan secara scientific," ungkap Satriyo.

Hal serupa juga diungkapkan peneliti pusat penelitian teknologi tepat guna LIPI Yusuf Andriana saat menjelaskan mengenai potensi pengembangan teh herbal sebagai produk pangan fungsional di Indonesia.

Berdasarkan penelitiannya banyak tanaman-tanaman lokal berpotensi menjadi bahan pangan fungsional. Namun masih belum bisa dipasarkan secara luas dikarenakan masih belum teruji secara klinis.

Dia juga menyatakan bahwa sampai saat ini belum melihat produk-produk teh herbal yang ikut bersaing dengan produsen teh di dunia seperti Organik India, Unilever, Barley Tea, Dilmah, dan sebagainya.

Deputi bidang jasa ilmiah LIPI Mego Pinandito pada acara webinar ini mengajak pelaku-pelaku usaha maupun masyarakat untuk turut serta mengembangkan pangan fungsional dari bahan-bahan lokal.

Dia menambahkan LIPI terbuka untuk melakukan diskusi dan juga ingin membantu terutama UMKM yang tertarik dengan potensi produk pangan fungsional ini.

Dalam webinar ini peneliti-peneliti mempresentasikan beberapa hasil riset terkait dengan produk pangan fungsional lokal yang diharapkan bisa mendorong antusias masyarakat untuk terus mengembangkan pangan lokal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pangan badan pangan nasional (BPN)
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top