Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Brexit Tanpa Kesepakatan, Industri Mobil Eropa dan Inggris Siap-Siap Rugi

Total kerugian yang diperkirakan mencapai 100 miliar poundsterling. Padahal, industri mobil di Uni Eropa telah menerima kerugian hingga 90 miliar poundsterling tahun ini karena Covid-19.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 15 September 2020  |  03:35 WIB
Logo Volkswagen.  - Volkswagen
Logo Volkswagen. - Volkswagen

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen otomotif Inggris dan Eropa telah memperingatkan Brexit tanpa kesepakatan dapat menimbulkan kerugian hingga 100 miliar poundsterling di industri mobil di kawasan itu dalam lima tahun ke depan.

Angka ini akan menambah kerugian besar yang sudah disebabkan oleh Covid-19. Sebuah surat yang ditandatangani oleh 23 kelompok perdagangan di seluruh Eropa mendesak pemerintah untuk membuat kesepakatan dibandingkan membawa posisi default ke meja Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Tanpa kesepakatan artinya akan ada kenaikan tarif yang dahsyat. Dilansir BBC, seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan sedang 'bekerja keras untuk mencapai kesepakatan.

Industri mobil di Uni Eropa telah menerima kerugian hingga 90 miliar poundsterling tahun ini karena Covid-19.

Inggris meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari tetapi akan menikmati perdagangan bebas tarif dengan blok tersebut hingga akhir tahun sebagai bagian dari masa transisi.

Tetapi kekhawatiran berkembang bahwa kedua belah pihak tidak akan dapat mencapai kesepakatan perdagangan jangka panjang saat itu.

Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA), yang ikut menulis surat itu, mengatakan bahwa mengamankan perjanjian perdagangan pada Januari adalah 'keharusan' mutlak bagi Inggris dan Uni Eropa.

"Jika tidak, sektor kami - yang sudah terhuyung-huyung dari krisis Covid - akan terpukul oleh pukulan ganda," kata Direktur Jenderal ACEA Eric-Mark Huitema.

Mike Hawes, Kepala Perkumpulan Pabrikan dan Pedagang Motor Inggris (SMMT), mengatakan kesepakatan perdagangan sangat penting karena industri Inggris dan Uni Eropa sangat terintegrasi.

"Angka-angka ini melukiskan gambaran suram dari kehancuran yang akan terjadi setelah Brexit 'tanpa kesepakatan'," katanya.

Dia melanjutkana guncangan tarif dan hambatan perdagangan lainnya akan menambah kerusakan yang sudah ditangani oleh pandemi dan resesi global, sehingga menempatkan bisnis dan mata pencaharian dalam risiko.

Asosiasi industri di benua itu, termasuk dari Jerman, Prancis, Irlandia, Belanda, Belgia, Swedia, Denmark, Italia, Portugal, dan Eropa Timur juga mengatakan mereka takut kehilangan pekerjaan di negara mereka sendiri.

Berdasarkan ketentuan WTO, diluar perjanjian dagang khusus Uni Eropa, ekspor mobil akan menghadapi tarif 10 persen, naik menjadi 22 persen untuk van dan truk.

Ini akan memukul margin pembuat mobil dan kenaikan tarif akan diteruskan ke konsumen sehingga berdampak pada permintaan. Pemasok otomotif dan produk mereka juga akan terpengaruh.

SMMT mengatakan hal itu dapat menyebabkan hilangnya bisnis senilai 49 miliar poundsterling untuk pabrik mobil Inggris dan 52 miliar poundsterling untuk produsen di seluruh Uni Eropa pada tahun 2025.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

otomotif Brexit
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top