Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Nvidia Beli ARM dari Softbank Group Senilai Rp597 Triliun

Nvidia akan membayar US$21,5 miliar dalam bentuk saham dan US$12 miliar dalam bentuk tunai untuk perancang chip yang berbasis di Inggris itu, termasuk pembayaran US$2 miliar saat penandatanganan.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 14 September 2020  |  19:25 WIB
Chip Nvidia Orin yang digunakan untuk platform baru yang diluncurkan perusahaan pada Kamis yang dapat mendukung semuanya, mulai dari teknologi keselamatan berkendara hingga teknologi self-driving untuk robotaxis.  - NVINDIA
Chip Nvidia Orin yang digunakan untuk platform baru yang diluncurkan perusahaan pada Kamis yang dapat mendukung semuanya, mulai dari teknologi keselamatan berkendara hingga teknologi self-driving untuk robotaxis. - NVINDIA

Bisnis.com, JAKARTA - Nvidia Corp. menyatakan setuju untuk membeli divisi chip SoftBank Group, ARM Ltd., senilai US$40 miliar atau Rp597,2 triliun.

Dalam akuisisi senilari Rp597,2 (dengan kurs Rp14.900 per dolar AS) ini, Nvidia sekaligus mengambil kendali dari beberapa teknologi elektronik yang paling banyak digunakan dalam kesepakatan industri semikonduktor terbesar yang pernah ada.

Seperti dikutip Bloomberg Senin (14/9/2020), Nvidia akan membayar US$21,5 miliar dalam bentuk saham dan US$12 miliar dalam bentuk tunai untuk perancang chip yang berbasis di Inggris itu, termasuk pembayaran US$2 miliar saat penandatanganan.

Perusahaan mengatakan SoftBank dapat menerima tambahan US$5 miliar dalam bentuk tunai atau saham jika kinerja ARM memenuhi target tertentu. Adapun tambahan US$1,5 miliar akan dibayarkan kepada karyawan ARM di saham Nvidia.

Saham SoftBank melonjak sebanyak 10 persen seiring dengan berita kesepakatan itu dan memperbarui pembicaraan untuk perusahaan yang go private.

Pembayaran awal dari Nvidia menandai premi kecil di atas US$31,4 miliar yang dibayarkan SoftBank untuk mengakuisisi ARM pada 2016, yang sebelumnya merupakan kesepakatan terbesar industri semikonduktor.

Perusahaan Jepang tersebut diperkirakan memiliki kurang dari 10 persen saham Nvidia setelah transaksi tersebut.

Adapun persetujuan regulasi dapat memakan waktu hingga 18 bulan sebelum transaksi selesai dan kesepakatan tersebut membutuhkan persetujuan dari otoritas Inggris, China, Uni Eropa dan AS

Sementara persetujuan China mungkin sangat sulit mengingat meningkatnya ketegangan dengan AS.

"Sekarang ARM akan menjadi perusahaan AS, dan konflik semikonduktor antara AS dan China menjadi sengit karena China masih mengontrol ARM China," kata Koji Hirai, kepala firma penasihat M&A Kachitas Corp. seperti dikutip Bloomberg.

Chief Executive Officer Jensen Huang mengatakan timnya sepenuhnya berharap untuk menghabiskan waktu dengan badan pengatur di China, tetapi memiliki keyakinan untuk mendapatkan persetujuan untuk pengambilalihan tersebut.

Dia juga membahas kekhawatiran kesepakatan itu akan mengganggu hubungan ARM dengan pelanggan termasuk Apple Inc.

Huang mengatakan dia akan mempertahankan model bisnis netral ARM dan ingin memperluas daftar kliennya. Dia berpendapat Nvidia menghabiskan banyak uang untuk akuisisi dan tidak memiliki insentif untuk melakukan apa pun yang akan menyebabkan klien pergi.

Nvidia mengatakan perusahaan Inggris akan terus menjalankan model lisensi terbuka sambil mempertahankan netralitas pelanggan global yang telah menjadi dasar keberhasilannya.

"Nvidia akan menambahkan teknologinya ke penawaran yang dilisensikan oleh ARM," kata perusahaan yang berbasis di Santa Clara, California.

Akuisisi ini didorong oleh dorongan untuk menghadirkan kecerdasan buatan ke segala hal yang memiliki sakelar. Setelah berhasil menjual chip grafis Nvidia kepada pemilik pusat data untuk mempercepat pengenalan gambar dan pemrosesan bahasa, Huang ingin memastikan teknologinya membantu menyebarkannya ke segala hal mulai dari kendaraan tanpa pengemudi hingga pengukur pintar.

“Ini adalah perusahaan dengan jangkauan yang tidak seperti perusahaan mana pun dalam sejarah teknologi. Kami menyatukan komputasi AI terdepan Nvidia dengan ekosistem ARM yang luas," kata Huang.

ARM yang berbasis di Cambridge, Inggris Raya telah mengukir ceruk sukses untuk dirinya sendiri dengan menjadi mandiri. Saingan sengit seperti Apple, Samsung Electronics Co., Qualcomm Inc., Broadcom Inc., Intel Corp. dan Huawei Technologies Co. semuanya adalah pemegang lisensi.

Akuisisi oleh Nvidia, juga pemegang lisensi, merupakan tantangan bagi kenetralan tersebut. Pembelian SoftBank empat tahun lalu berlangsung tidak terbantahkan karena perusahaan Jepang bukanlah pesaing bagi pelanggan ARM mana pun.

Salah satu klien yang akan ditantang langsung adalah Intel. Huang mengatakan prioritas akan diinvestasikan dalam upaya ARM merancang chip untuk komputasi pusat data. Sementara dia mengukir ceruk US$3 miliar dalam bisnis memasok Alphabet Inc. Google dan Facebook Inc. dengan processor grafis yang membantu beban kerja kecerdasan buatan mereka.

Huang mengatakan dia ingin mempercepat adopsi prosesor pusat berbasis ARM, atau CPU. Itu adalah pasar menguntungkan yang didominasi oleh Intel, yang memiliki sekitar 90 persen pangsa pasar.

Nvidia mengumumkan akan mempertahankan kantor pusat ARM di Inggris dan akan berinvestasi dalam fasilitas baru di sana untuk mendorong penelitian AI, mendidik pelanggan, dan menyediakan tempat untuk eksperimen dalam robotika dan otomatisasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

softbank nvidia
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top