Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Empat Bank besar China Berpotensi Kekurangan Modal US$940 Miliar pada 2024

Keempat perbankan tersebut yakni Industrial and Commercial Bank of China Ltd., Bank of China Ltd., China Construction Bank Corp. dan Agricultural Bank of China Ltd.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 26 Agustus 2020  |  14:55 WIB
Pengendara motor melintasi jalan di dekat bangunan hunian yang sedang dibangun di Ningde, Provinsi Fujian, China./Bloomberg - Qilai Shen
Pengendara motor melintasi jalan di dekat bangunan hunian yang sedang dibangun di Ningde, Provinsi Fujian, China./Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - S&P Global Ratings menyatakan empat bank terbesar China menghadapi kesenjangan pendanaan dalam triliunan yuan untuk memenuhi persyaratan modal global yang dirancang untuk melindungi publik dan sistem keuangan dari kegagalan besar-besaran.

Keempat perbankan tersebut yakni Industrial and Commercial Bank of China Ltd., Bank of China Ltd., China Construction Bank Corp. dan Agricultural Bank of China Ltd. Dalam laporannya, S&P menyebut keempatnya dianggap penting secara global, dimana tahun lalu mengalami kekurangan total 2,25 triliun yuan (US$323 miliar) untuk memenuhi kapasitas serap kerugian total.

Perusahaan pemeringkat itu memperkirakan kekurangan akan tumbuh menjadi 6,51 triliun yuan atau sekira US$940 miliar pada 2024 karena pandemi mengikis kapasitas pendapatan mereka.

"Sinkronisasi The Big Four dengan standar penyerapan kerugian global adalah topik utama bagi investor, karena hal itu memengaruhi struktur modal, biaya pendanaan, dan yang terpenting, mekanisme untuk dukungan yang luar biasa," tulis analis S&P, Michael Huang dalam laporannya, dilansir Bloomberg, Rabu (26/8/2020).

Penghasilan gabungan di lebih dari 1.000 bank komersial China merosot paling tajam dalam setidaknya satu dekade pada kuartal kedua karena kredit macet melambung.

Bank-bank besar milik negara termasuk yang paling terpukul karena mereka diminta oleh pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi dan membantu usaha kecil yang berjuang. Pihak berwenang mendesak pemberi pinjaman untuk mengumpulkan dana dan memperkuat penyangga modal.

Bank penting secara sistemik global di pasar negara berkembang pada 1 Januari 2025 harus memiliki liabilitas dan instrumen yang tersedia untuk ditebus, setara dengan setidaknya 16 persen dari aset tertimbang menurut risiko.

Menurut Dewan Stabilitas Keuangan yang dibentuk G20, ketentuan itu naik menjadi 18 persen pada 2028. Sedangkan, bank-bank di pasar negara maju memenuhi fase pertama pada 2019. Tenggat itu dapat dipercepat dalam kondisi tertentu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan china likuiditas

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top