Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Begini Respons Menteri Agama atas Tindakan Intoleransi di Solo

Menteri Agama Fachrul Razi meminta jajaran Kakanwil Kemenag Jawa Tengah mengintensifkan dialog menghentikan kekerasan berkedok agama.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 11 Agustus 2020  |  20:27 WIB
Menteri Agama Fachrul Razi - kemenag.go.id
Menteri Agama Fachrul Razi - kemenag.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Agama Fachrul Razi mengecam tindakan kekerasan dan intoleransi beragama di Solo. Dia meminta jajaran Kakanwil Kemenag Jawa Tengah mengintensifkan dialog menghentikan kekerasan berkedok agama.

Pekan lalu, Ratusan warga menyerang kediaman almarhum Segaf Al-Jufri yang sedang menggelar acara Midodareni pada Sabtu (8/8/2020). Tradisi masyarakat Jawa jelang hari pernikahan ini berakhir dengan penyerangan sekelompok oleh orang hingga menimbulkan pengrusakan dan korban luka.

Menag mengecam kejadian ini. Menurutnya kekerasan dan intoleransi tidak dapat dibenarkan atas alasan apapun termasuk agama.

“Saya mengecam intoleransi yang terjadi di Solo. Saya minta jajaran Kanwil Kemenag Jawa Tengah untuk lebih mengintensifkan dialog dengan melibatkan tokoh agama dan aparat sehingga tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama tidak terjadi,” kata Fahcrul melalui keterangan resmi, Selasa (11/8/2020).

Dia menyebut masyarakat harus dapat menunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmat sekalian alam, penebar perdamaian, di manapun dan kapanpun.

Mantan Wakil Panglima TNI ini meminta dialog antartokoh agama dan berbagai lapisan masyarakat, termasuk aparat, harus terus diintensifkan. Upaya diperlukan agar terbangun kesadaran bersama untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan dan kerukunan umat beragama.

“Pusat Kerukunan Umat Beragama dan FKUB di kabupaten kota agar dapat mengambil inisiatif untuk memfasilitasi proses dialog antarpihak dalam menyikapi setiap dinamika kehidupan dan kerukunan, sehingga tidak terjadi anarkisme,” jelas Menag.

Menag Fachrul menegaskan Indonesia adalah negara majemuk. Oleh karena itu, semua pihak harus saling menghormati. "Karenanya, tidak ada tempat bagi intoleransi di negara ini.”

Adapun kekerasan dan tindakan intoleransi terjadi terhadap keluarga yang disebut menganut paham syiah. Saat melakukan aksinya, para pengrusak yang mengenakan jubah itu menyebut kegiatan midodareni sebagai kegiatan keagamaan syiah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

solo kemenag
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top