Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS dan China di Pusat Dominasi Teknologi Global

Perang dominasi AS dan China semakin sengit setelah Presiden Trump memojokkan TikTok. Perang ini diperkirakan akan kembali berlanjut seiring dengan lahirnya teknologi baru 5G.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 06 Agustus 2020  |  05:58 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\n
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Rivalitas Amerika Serikat dan China tak berhenti pada perdagangan semata. Perang kekuatan antara dua ekonomi terbesar di dunia itu telah meluas ke area yang tidak terprediksi, dari penguasaan teknologi yang melibatkan raksasa Huawei dan aplikasi video TikTok, hingga status Hong Kong sebagai pusat finansial global.

Ketegangan teranyar dimulai ketika Presiden Donald Trump berencana memblokir operasi TikTok milik ByteDance Ltd. dari AS, sebelum perusahaan itu kemudian membicarakan akuisisi dengan raksasa software Microsoft.

TikTok sangat populer di AS terutama di kalangan remaja. Pejabat AS mengatakan ada potensi ancaman keamanan jika data yang dikumpulkannya digunakan oleh pemerintah China untuk membuat profil perilaku orang AS. Sebaliknya, platform AS termasuk Facebook Inc. dan Twitter Inc. telah lama dilarang dari daratan China karena aturan sensor negara itu.

AS telah menyelidiki TikTok selama berbulan-bulan dan mengungkapkan bahwa aplikasi ini dapat menyedot data pribadi pengguna di AS untuk pemerintah China. Klaim itu dengan tegas dibantah oleh TikTok.

Pembicaraan terkait dengan rencana ByteDance untuk menjual operasi TikTok di AS telah memanas sejak Juni. Perusahaan ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa untuk dapat melakukan bisnis di AS, TikTok perlu memutuskan hubungan dengan China.

Sementara itu, Trump menegaskan bahwa pemerintah AS harus mendapatkan persentase saham lebih besar dari penjualan TikTok. Trump memberi tenggat penjualan hingga 15 September 2020 jika aplikasi itu tak ingin didepak dari AS.

"Pemotongan akan datang dari penjualan [saham], apa pun angkanya", ujar Trump dalam briefing di Gedung Putih, dilansir Bloomberg.

Dalam keterangan terbaru perusahaan, Microsoft berjanji bakal menjamin keamanan. Perusahaan itu yakin bisa menjembatani perbedaan pandangan antara rezim Trump dengan pihak perusahaan yang sejak awal menegaskan tak terafiliasi dengan Beijing.

Microsoft juga menyampaikan tak berniat membeli TikTok secara keseluruhan, melainkan hanya akan mengambil alih operasional di empat negara, yakni AS, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Bytedance tampaknya lebih memih menjual TikTok daripada bernasib sama dengan Huawei Technologies yang telah diblokir Trump dan sejumlah negara sekutu. Huawei mengalami penurunan penjualan di luar China karena efek blokir Trump mendorong Google, raksasa teknologi dunia, mencabut dukungannya terhadap perangkat-perangkat perusahaan teknologi tersebut.

Pemerintahan Trump telah mengkategorikan Huawei Technologies Co. dan ZTE Corp sebagai ancaman keamanan nasional dengan mengatakan penggunaan perangkat dari dua perusahaan itu akan membuat jaringan komunikasi rentan terhadap mata-mata. Kedua perusahaan menyangkal, sedangkan China mengatakan AS sedang berusaha menekan perkembangan perusahaan negara itu.

Selain itu, AS juga melarang Huawei membeli suku cadang dari pemasok negara itu. Setelah tahun lalu memasukkan Huawei ke daftar hitam, Departemen Perdagangan AS pada 15 Mei 2020 memberlakukan pembatasan lebih lanjut pada pembuat chip yang menggunakan perlengkapan AS dalam mendesain atau memproduksi semikonduktor. Hal ini berarti pemasok seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. harus memutus hubungan dagang dengan Huawei.

Komisi Komunikasi Federal melarang penggunaan subsidi federal untuk membeli peralatan yang dibuat oleh Huawei dan ZTE.

Selain AS, baru-baru ini Inggris menyatakan bergabung dengan gerakan pemblokiran terhadap perangkat Huawei pada jaringan 5G negara itu. Keputusan itu merupakan pembelokan dari kesepakatan pada Januari lalu dimana Inggris berjanji mengikutsertakan Huawei dalam pembangunan jaringan 5G-nya dengan syarat ketat, termasuk 35 persen pembatasan keterlibatan dan larangan penggunaan sedang digunakan di bagian jaringan yang dianggap sensitif.

Keputusan itu tak ayal membuat Trump berang. Dia mengimbau PM Inggris Boris Johnson untuk menarik keputusannya. Kini, dengan berbalik arahnya Inggris, hubungan dengan China juga ikut mamanas. Duta Besar China untuk Inggris Liu Xiaoming mengatakan jika pemerintah Inggris memblokade Huawei, hal itu akan menunjukkan bahwa Negeri Ratu Elizabeth itu tidak dapat lagi mengikuti kebijakan luar negeri yang independen.

Hal yang sama juga diputuskan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. Alih-alih memasukkan Huawei dalam proyek 5G, negara itu hanya akan melibatkan Ericsson AB dan Nokia Oyj.

Untuk semua tuduhan dan sanksi AS, China mengatakan bahwa batasan tersebut bukan tentang keamanan siber melainkan upaya untuk melindungi dominasi AS terhadap teknologi global. Huawei berulangkali membantah berafiliasi dengan Pemerintah China sebagai mata-mata.

Tak hanya Huawei yang terkena imbas memanasnya hubungan Washington dan Beijing. Pada Oktober lalu, pemerintahan Trump menempatkan delapan raksasa teknologi China lainnya dalam daftar hitamnya, menuduh keterlibatan dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim minoritas di wilayah Xinjiang.

Diantara perusahaan-perusahaan itu yakni Hangzhou Hikvision Digital Technology Co dan Zhejiang Dahua Technology Co, yang mengendalikan sepertiga pasar global untuk pengawasan video; SenseTime Group Ltd., startup kecerdasan buatan paling berharga di dunia; dan AI Megvii Technology Ltd.

Sementara itu, tidak hanya TikTok, Trump juga berencana memblokir aplikasi lain dari China terkait isu keamanan nasional. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Michael Pompeo membenarkan bahwa rencana itu merupakan perluasan dari wacana larangan TikTok di AS.

"Pemerintah akan mengambil tindakan dalam beberapa hari mendatang sehubungan dengan beragam risiko keamanan nasional yang disajikan oleh perangkat lunak yang terhubung dengan Partai Komunis China," kata Pompeo.

Bulan lalu Amazon.com Inc. mengatakan kepada karyawan untuk menghapus TikTok dari perangkat seluler yang mereka gunakan untuk mengakses email perusahaan. Namun kemudian perusahaan mengatakan instruksi tersebut merupakan kesalahan. Penasehat Gedung Putih Peter Navarro menuduh keputusan Amazon untuk mundur menunjukkan kekuatan Partai Komunis China pada perusahaan AS.

Perang dominasi teknologi antara Negeri Panda dan Negeri Paman Sam tampaknya masih akan panjang. Apakah akan bernasib sama seperti perang dagang? Kita nantikan bersama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi china amerika serikat
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top