Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dibandingkan AS, Ekonomi Eropa Lebih Cepat Pulih dari Efek Covid-19. Ini Penjelasannya

Kegagalan AS untuk mengendalikan pandemi telah memperlambat pemulihan ekonomi. Sedangkan di Eropa yang pada awalnya mencatatkan banyak pusat penyebaran virus, aktivitas ekonomi dapat dilanjutkan dengan relatif tanpa menyebabkan lonjakan infeksi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Juli 2020  |  12:37 WIB
Seseorang mengenakan masker untuk melindungi diri dari penyebaran virus corona, membawa bahan makanan berjalan di luar gedung Berlaymont, yang di dalamnya terdapat kantor Komisi Eropa, di Brussels, Belgia, pada 26 Maret 2020./Bloomberg - Olivier Matthys
Seseorang mengenakan masker untuk melindungi diri dari penyebaran virus corona, membawa bahan makanan berjalan di luar gedung Berlaymont, yang di dalamnya terdapat kantor Komisi Eropa, di Brussels, Belgia, pada 26 Maret 2020./Bloomberg - Olivier Matthys

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi kawasan euro lebih cepat pulih dari krisis dibandingkan dengan Amerika Serikat karena keberhasilan pengendalian pandemi.

Kegagalan AS untuk mengendalikan pandemi telah memperlambat pemulihan ekonomi. Sedangkan di Eropa yang pada awalnya mencatatkan banyak pusat penyebaran virus, aktivitas ekonomi dapat dilanjutkan dengan relatif tanpa menyebabkan lonjakan infeksi.

JPMorgan Chase & Co. menilai Eropa telah memutus mata rantai yang menghubungkan mobilitas dan virus sehingga kinerja ekonominya lebih baik. Keberhasilan Eropa menangani pandemi dinilai mendorong permintaan sehingga bisnis bergulir dan investasi mengalir. Benua Biru sejauh ini juga lebih baik dalam perlindungan lapangan kerja dan pendapatan dengan program cuti.

Goldman Sachs Group Inc. menyebutkan kontrol terhadap virus yang efektif merupakan salah satu alasan Eropa akan mengalami pemulihan tajam dibandingkan dengan negara atau regional lain.

"Sangat jelas bahwa kawasan euro turun lebih tajam tetapi kami juga memperkirakan akan bangkit kembali dengan lebih tajam," kata Jari Stehn, kepala ekonom Eropa di Goldman Sachs, dilansir Bloomberg, Senin (27/7/2020).

Menurut data Dana Moneter Internasional atau IMF, sejak 1992 AS telah mengungguli kawasan euro. Meskipun Eropa berhasil tumbuh ketika krisis keuangan melanda pada 2008 dan AS menyusut, pada 2009 kontraksi AS 2,5% lebih kecil daripada 4,5% kawasan euro.

Sementara itu, lockdown yang sangat ketat berarti area euro akan mengalami kontraksi yang lebih tajam daripada AS di kuartal kedua. Angkanya akan terlihat pada PDB yang akan dirilis pekan ini.

Menurut survei Bloomberg, ekonomi kawasan euro diperkirakan menyusut 12 persen pada kuartal kedua 2020. Sedangkan kontraksi AS secara tahunan diperkirakan 35 persen atau sekitar 10 persen penurunan kuartalan.

"Setelah terpukul paling keras, cukup mengesankan bahwa kami berpikir Eropa akan pulih lebih cepat," kata Bruce Kasman, kepala ekonom di JPMorgan.

JPMorgan memperkirakan ekonomi kawasan euro menyusut 6,4 persen tahun ini, sedikit lebih buruk daripada kontraksi 5,1 persen untuk AS. Namun, pada 2021 JPMorgan memperkirakan pertumbuhan 6,2 persen untuk kawasan euro, lebih dari dua kali lipat pertumbuhan AS sebesar 2,8 persen.

Di AS, lonjakan kasus di Selatan dan Barat telah menyebabkan beberapa negara menghentikan atau bahkan membalikkan rencana pembukaan kembali. Lebih dari 1 juta aplikasi untuk tunjangan pengangguran terus diajukan setiap minggu. Sementara itu, indeks manajer pembelian kawasan euro melonjak lebih dari perkiraan pada Juli. Di AS, angkanya lebih rendah dari yang diharapkan, terutama untuk jasa.

Situasi ekonomi AS terancam memburuk jika anggota parlemen tidak memperpanjang tunjangan pengangguran sebesar US$600 per minggu yang telah mendukung pendapatan dan pengeluaran dalam beberapa bulan terakhir.

Pemimpin Senat dari Partai Republik Mitch McConnell akan merilis usulan stimulus setelah partai itu dan Presiden Donald Trump berselisih pekan lalu mengenai rincian rencana tersebut.

Perbedaan ini tercermin juga di pasar. Saham dan obligasi Eropa telah diuntungkan berkat komitmen blok ekonomi itu untuk stimulus senilai 750 miliar euro (US$ 860 miliar). Mata uang euro meningkat lebih dari 6 persen terhadap dolar dalam dua bulan terakhir dan bisa berlanjut lebih jauh.

Di Eropa, subsidi pinjaman dan program cuti membendung lonjakan pengangguran. Namun kini Eropa masih dalam tahap pemulihan dan negara-negara tidak dapat terlalu lama mempertahankan dukungan pendanaan. Jika permintaan tidak kembali cukup kuat, perusahaan pada akhirnya mungkin harus memotong biaya, yang berarti Eropa hanya menunda peningkatan pengangguran.

Namun, menurut Michael Gapen, kepala ekonom AS di Barclays Plc., hanya karena Eropa berada dalam posisi yang relatif lebih baik untuk keluar dari ini pada paruh kedua tahun ini, tidak berarti AS tidak dapat mengejar ketinggalan.

Di AS, paket stimulus US$2 triliun yang disahkan Kongres pada Maret lalu merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah meskipun distribusinya tidak merata. Kantor-kantor pengangguran dipenuhi klaim dan banyak warga yang menganggur belum menerima tunjangan.

Pada saat yang sama, alokasi pinjaman untuk usaha kecil dan menengah memiliki tantangan tersendiri yang mengakibatkan kekacauan di antara pemilik bisnis untuk mendapatkan bantuan pemerintah. Meski begitu, menurut sebuah studi oleh Massachusetts Institute of Technology dan peneliti Federal Reserve, program perlindungan gaji telah menyelamatkan sebanyak 3,2 juta pekerjaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as eropa amerika serikat ekonomi eropa

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top