Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Upayakan Rekonsiliasi dengan AS, Menlu China Angkat Bicara

Menlu China Wang Yi mengatakan kedua negara membutuhkan lebih banyak dialog untuk mencegah kebuntuan, dan China siap untuk melanjutkan pembicaraan yang ditunda selama juga AS bersedia.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  15:49 WIB
Menteri Luar Negeri China Wang Yi - Istimewa
Menteri Luar Negeri China Wang Yi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Ketegangan yang terus meningkat antara China dan Amerika Serikat membuat Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyerukan adanya rekonsiliasi kedua negara.

Dilansir dari South China Morning Post, Wang menjadi pejabat China paling senior yang menyuarakan pesan positif untuk hubungan kedua negara. Wang menekankan bahwa China tidak akan menggusur AS sebagai negara adidaya.

Seruan rekonsiliasi ini dilakukan setelah ketengangan kedua negara meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo pada hari Rabu terus menekan pemerintah China dan Presiden Xi Jinping. Poimpeo mengatakan AS akan memulai dialog segera dengan Uni Eropa untuk menghadapi tantangan dari China.

“Pengaruh Xi pada dunia tidak baik bagi orang-orang bebas dan orang-orang yang mencintai demokrasi, dan dunia akan bersama-sama merespons hal itu," kata Pompeo kepada wartawan pada konferensi pers, seperti dikutip Bloomberg.

Pompeo sebelumnya mengadakan pembicaraan rahasia bulan lalu dengan diplomat China dan anggota Politbiro Yang Jiechi di Hawaii. Namun, pertemuan tersebut gagal menurunkan ketegangan di kedua belah pihak.

“Pertemuan itu menunjukkan akan sulit bagi kedua pihak untuk membuat kemajuan dalam memperbaiki hubungan, sekaligus menunjukkan bahwa usulan Wang untuk memulai kembali dialog terlalu idealistis," menurut penasihat kabinet China dan seorang profesor hubungan internasional di Universitas Renmin, Shi Yinhong.

Dalam pembicaraan itu, diplomat China Yang Jiechi juga mengungkapkan keprihatinannya atas tindakan AS terkait Hong Kong, Xinjiang, dan Taiwan kepada Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

"Yang mengkhawatirkan adalah bahwa hubungan China-AS adalah salah satu hubungan bilateral paling penting di dunia, tetapi menghadapi tantangan paling serius sejak pembentukan hubungan diplomatik [pada tahun 1979]," kata Wang dalam sebuah pidato di Beijing, Kamis (9/7/2020).

"Kebijakan China terhadap AS belum berubah, dan kami masih ingin mengembangkan hubungan China-AS dengan tulus," lanjutnya.

Wang mengatakan kedua negara membutuhkan lebih banyak dialog untuk mencegah kebuntuan, dan China siap untuk melanjutkan pembicaraan yang ditunda selama juga AS bersedia.

"Kebohongan hanya dapat dihindari melalui perundingan, dan hanya melalui dialog kita dapat menghindari salah penilaian," katanya.

Tiga Langkah Penting

Dalam kesempatan yang sama, Wang mengatakan lembaga think-tank di China dan AS agar menyusun tiga langkah penting untung mendukung rekonsiliasi kedua negara. Pertama, menguraikan masalah bilateral dan global yang bisa dikerjakan kedua negara. Kedua, merinci poin masalah yang menjadi perselisihan dan yang dapat diselesaikan melalui dialog. Terakhir, merinci masalah yang tidak bisa diselesaikan.

"Maka kita harus mengelola perselisihan itu dengan baik dan meminimalkan kerusakan pada hubungan antara kedua negara berdasarkan semangat mencari titik temu sambil menyimpan perbedaan," katanya.

Kedua pihak juga harus bekerja sama dalam pengendalian pandemi, kata Wang, seraya menambahkan bahwa China bersedia untuk berbagi pengalaman mengenai Covid-19 dan pengembangan vaksin dengan AS.

Ketegangan kedua negara kembali meningkat setelah AS menuduh China menutupi wabah virus corona sebelum menjadi pandemi globa. Presiden AS Donald Trump bahkan sempat menyebut sebagai "virus dari China".

Selain itu, konfrontasi militer kedua negara juga meningkat. AS telah mengirim dua kapal induk, USS Ronald Reagan dan USS Nimitz, ke perairan Laut China Selatan untuk latihan militer pada Sabtu (4/7), di saat China juga tengah melakukan latihan di wilayah tersebut.

Presiden Cina Xi Jinping sempat mengatakan dalam panggilan telepon terbarunya dengan Trump pada bulan Maret bahwa kerja sama adalah satu-satunya pilihan bagi kedua negara.

Namun ketegangan terus muncul. AS mengancam akan menjatuhkan sanksi pada pejabat China karena melanggar kebebasan Hong Kong. Selain itu, AS juga bersikap keras terhadap dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang dan telah memberlakukan pembatasan pada media pemerintah China yang beroperasi di AS.

Sejumlah diplomat dan pakar mengatakan Beijing harus bersiap-siap untuk meningkatkan ketegangan dan bersiap untuk berangsur-angsur terpisah dari AS.

Namun, Wang mengatakan kedua negara tidak harus mengakhiri kerja sama secara paksa, meskipun hubungan tidak akan kembali seperti semula.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat perang dagang AS vs China
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top