Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penambahan Kasus Corona di AS Disebut Bisa Tembus 100.000 Sehari

Perubahan perilaku menjadi kunci utama penanganan penyebaran virus corona di AS
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  01:09 WIB
Suasana di California, Amerika Serikat, pada 22 Juni 2020. Sebagian orang tidak mengenakan masker meskipun negara itu masih didera pandemi Covid-19./Antara - Reuters
Suasana di California, Amerika Serikat, pada 22 Juni 2020. Sebagian orang tidak mengenakan masker meskipun negara itu masih didera pandemi Covid-19./Antara - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA— Kasus baru di Amerika Serikat bisa naik menjadi 100.000 dalam sehari bila tak ada perubahan perilaku.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (1/7/2020), Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, Anthony Fauci mengatakan kemunculan kasus baru di AS bisa semakin masif bila tak ada perubahan perilaku. Menurutnya, beberapa negara bagian di selatan dan barat akan menyaksikan kenaikan kasus baru sehingga diperlukan penundaan pembukaan kembali ekonomi.

“Saya tak puas dengan apa yang sedang terjadi karena

kita berada di arah yang salah. Secara jelas, kita tak memiliki kontrol penuh saat ini,” ujarnya di hadapan senat.

Dia menyebut penambahan kasus baru harian hingga 100.000 tak akan mengejutkan bila kenaikan kasus saat ini tak cukup menggugah. Adapun, saat ini, penambahan kasus corona di AS mencapai 40.000 dalam 24 jam.

“Ini akan menjadi sangat mengganggu, saya jamin,” katanya.

Dia mengaku menjadi saksi bagaimana pertemuan di dalam ruangan masih terjadi padahal kasus baru terus bertambah. Pada Senin, Arizona menghentikan sementara kegiatan di bar, pusat kebugaran dan bioskop.

Sementara itu, Florida melarang konsumsi alkohol di bar. Lalu, Texas bahkan menutup bar. New York, New Jersey dan Connecticut merupakan titik panas penyebaran virus corona menambah 16 negara bagian yang meminta agar para pengunjungnya melakukan karantina mandiri.

Direktur Pusat Kendali dan Pencegahan Penyakit, Robert Redfield mengatakan penambahan kasus baru berimbas pada kenaikan anngka perawatan di 12 negara bagian. Adapun, Negeri Paman Sam mencatatkan lebih dari 2,6 juta kasus corona secara total dengan lebih dari 126.000 meninggal dunia, mengacu pada data gabungan oleh Johns Hopkins University.

Kedua ahli kesehatan ini muncul sebelum komite kesehatan di senat melakukan pembahasan untuk membuka kembali ekonomi AS termasuk sekolah. Fauci menilai sekolah-sekolah perlu mempertimbangkan kelas daring atau membagi jadwal masuk sekolah agar siswa lebih aman saat berada di sekolah.

Dalam perkembangan lain, sejumlah produsen obat berlomba menyelesaikan uji klinis pada beberapa calon vaksin. Proses tersebut diharapkan tuntas dalam hitungan bulan atau lebih cepat dari perkiraan sebelumnya yakni tahunan.

Badan Makanan dan Obat (FDA) telah mengeluarkan standar untuk meloloskan inokulasi yang setidaknya memiliki tingkat efektivitas sebesar 50 persen.

Sementara itu, sejumlah ahli kesehatan justru khawatir dengan langkah FDA yang akan terburu-buru menerima spesimen calon vaksin sebelum bisa menentukan keamanan dan keampuhannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top