Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

53 Kabupaten dan Kota zona Merah, Peta Zonasi masih Bergerak Dinamis

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melaporkan adanya dinamika peta resiko Covid-19 selama diterapkannya upaya adaptasi kebiasaan baru (AKB) melalui skema zonasi Covid-19 sejak akhir Mei lalu.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  17:04 WIB
Warga mengikuti tes diagnostik cepat Covid-19 (Rapid Test) secara
Warga mengikuti tes diagnostik cepat Covid-19 (Rapid Test) secara "drive thru" di halaman Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (28/5/2020). Tes diagnostik cepat gratis yang digelar salah satu rumah sakit swasta di Surabaya itu guna mengetahui kondisi kesehatan warga sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19). - Antara/Didik Suhartono\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melaporkan adanya dinamika peta resiko Covid-19 selama diterapkannya upaya adaptasi kebiasaan baru (AKB) melalui skema zonasi Covid-19 sejak akhir Mei lalu.

“Dilihat dari resiko kenaikan kasus Covid-19 per kabupaten dan kota dapat kami sampaikan bahwa pada saat ini ada 53 kabupaten dan kota dengan resiko kenaikan kasus tinggi, 177 kabupaten dan kota dengan resiko sedang,” kata Wiku Adisasmito, Ketua Tim Pakar Gugus  Tugas Covid-19, saat memberi keterangan pers di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, pada Rabu (1/7/2020).

Sementara itu, Wiku melanjutkan, terdapat 185 kabupaten dan kota dengan resiko rendah dan 99 kabupaten dan kota yang tidak terdampak atau tidak adanya kasus Covid-19 baru.

“Terlihat perubahan dinamika peta zonasi ini paling tidak untuk resiko rendah dan tidak terdampak pada bulan mei ada 46,7 persen, pada 7 Juni turun menjadi 44,36 persen, kemudian membaik menjadi 52,53 persen pada 14 Juni dan meningkat lagi sebesar 58,37 persen pada tanggal 21 Juni, naik sedikit sebesar 55,44 persen pada 28 Juni,” tuturnya.

Dengan demikian, dia mengatakan, gambaran itu menunjukkan dinamika perubahan yang sering terjadi selama sebulan belakang.

“Oleh karena itu pemerintah daerah harus tetap memantau pelaksanaan protokol kesehatan dengan ketat agar kasus menurun sehingga secara nasional perubahan membaik,” ujarnya.

Pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan pendekatan risiko berdasarkan wilayah terkait dengan penilaian status Covid-19 di suatu daerah dapat menggambarkan fakta yang keliru.

“Pendekatan risiko berdasarkan wilayah bisa menyesatkan, karena penyebaran kasus sangat dipengaruhi gerak penduduk,” kata Pandu melalui keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Rabu (10/6/2020).

Pandu menuturkan, temuan kasus baru dipengaruhi oleh kegiatan tes yang masif di tengah masyarakat. “Bahkan ada wilayah yang menolak tes, karena ingin mempertahankan status risiko rendahnya,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top