Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pembukaan Sektor Pariwisata di Tengah Pandemi Dinilai Tidak Efektif

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dinilai tidak memiliki rumus pariwisata baru di tengah pandemi Covid-19 yang bertumpu pada protokol kesehatan.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 26 Juni 2020  |  17:15 WIB
Suasana kawasan wisata Pantai Kuta yang ditutup sementara tampak lengang di Badung, Bali, Minggu (31/5/2020). Salah satu destinasi pariwisata utama di Pulau Dewata tersebut masih ditutup dari aktivitas masyarakat dan kunjungan wisatawan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. - Antara/Fikri Yusuf\n
Suasana kawasan wisata Pantai Kuta yang ditutup sementara tampak lengang di Badung, Bali, Minggu (31/5/2020). Salah satu destinasi pariwisata utama di Pulau Dewata tersebut masih ditutup dari aktivitas masyarakat dan kunjungan wisatawan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. - Antara/Fikri Yusuf\\n

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Rumah Reformasi Kebijakan Riant Nugroho mensinyalir pembukaan kembali sektor pariwisata dan penerapan digital tourism tidak efektif untuk meningkatkan ekonomi dalam negeri di tengah pandemi Covid-19.

Riant beralasan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tidak memiliki rumus pariwisata baru di tengah pandemi Covid-19 yang bertumpu pada protokol kesehatan. Menurut Riant, protokol kesehatan di tengah pandemi bertentangan dengan rumusan industri pariwisata yang mensyaratkan mobilitas wisatawan.

“Pariwisisata dalam new normal bakal tidak menyenangkan bagi konsumen dan produsen pariwisata. Mana menyenangkan kita pakai masker lalu foto-foto dan tidak terlihat mulut kita jika senyum atau tidak,” kata Riant saat memberi keterangan dalam Webinar Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jumat (26/6/2020).

Selain itu, Riant mengatakan protokol jaga jarak di dalam pesawat dan juga harga yang lebih mahal bakal menyulitkan wisatawan. “Digital tourism tidak ada duitnya, uang rakyat ikut defisit, kita berpikir apakah rakyat ingin pariwisata ketika mereka tidak ada duitnya,” kata dia.

Seperti diketahui, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memberi izin kepada sektor pariwisata alam untuk dibuka kembali secara bertahap di tengah upaya adaptasi kebiasaan baru akibat pandemi Covid-19.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menegaskan izin tersebut hanya diberikan kepada kawasan pariwisata alam yang berada di 270 kabupaten atau kota yang berada di zona hijau dan kuning.

“Kawasan-kawasan pariwisata alam yang direncanakan akan dibuka secara bertahap untuk melakukan aktivitas berbasis ekosistem dan konservasi dengan tingkat resiko Covid-19 yang paling ringan,” kata Doni saat memberi keterangan di BNPN, Senin (22/6/2020).

Kawasan pariwisata alam itu, menurut Doni, meliputi wisata bahari, konservasi perairan, wisata petualangan, taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya, suaka marga satwa, dan geopark.

Sementara itu, dia menambahkan pariwisata alam nonkawasan konservasi terdiri dari kebun raya, kebun binatang, taman safari, desa wisata, dan kawasan wisata alam yang dikelola oleh masyarakat.

“Kawasan pariwisata alam tersebut dapat dibuka secara bertahap sampai dengan batasan pengunjung maksimal 50 persen dari kapasitas normal,” kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata
Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top