Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Uni Eropa 'Senggol' China Soal Hong Kong, Covid-19, dan Ekonomi

Uni Eropa melancarkan peringatan kepada China dalam perdebatan soal isu geopolitik dan ekonomi yang berlangsung melalui konferensi video pada Senin (22/6/2020) waktu setempat.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  16:01 WIB
Lambang Uni Eropa terpampang di depan gedung Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (27/5/2020). - Bloomberg/Geert Vanden Wijngaert
Lambang Uni Eropa terpampang di depan gedung Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (27/5/2020). - Bloomberg/Geert Vanden Wijngaert

Bisnis.com, JAKARTA – Uni Eropa melancarkan peringatan kepada China dalam perdebatan soal isu geopolitik dan ekonomi yang berlangsung melalui konferensi video pada Senin (22/6/2020) waktu setempat.

Menurut pejabat Eropa di Brussels, pembicaraan itu diwarnai kritik Uni Eropa (UE) terhadap rencana China untuk mengekang otonomi Hong Kong, tudingan bahwa China telah menyebarkan disinformasi tentang virus Corona (Covid-19), dan pembatasan Beijing terhadap para investor asing.

Pihak UE antara lain diwakili oleh Ketua pertemuan para pemimpin nasional UE Charles Michel dan Kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Mereka berbicara dengan Perdana Menteri China Li Keqiang dan Presiden Xi Jinping.

Ini adalah pertemuan pertama antara pihak China dan para pemimpin baru lembaga-lembaga UE, yang mulai menjabat pada bulan Desember.

“Diskusi kami hari ini bersifat terbuka dan substantif. Kami membahas banyak topik yang kami sepakati tetapi, tentu saja, kami juga membahas topik yang tidak kami setujui,” ungkap Michel kepada awak media, seperti dilansir dari Bloomberg.

Hubungan antara kedua belah pihak terkesan lebih dingin sejak KTT UE-China terakhir pada April 2019. Saat itu, kedua belah pihak berjanji bersatu dalam perjuangan untuk menegakkan tatanan multilateral yang ditantang oleh agenda 'First America' Presiden Donald Trump.

Kendati pertemuan 14 bulan lalu itu menghasilkan pernyataan UE-China, tidak ada deklarasi bersama yang muncul dari pembicaraan pada Senin. Juga, tidak seperti tahun lalu, pihak China pada Senin menolak mengadakan konferensi pers bersama dengan UE.

“Tolong pahami. Kami telah bekerja keras. Tidak setiap pertemuan EU-China telah menghasilkan pernyataan bersama,” ujar Direktur Jenderal Departemen Urusan Eropa di Kementerian Luar Negeri China Wang Luton.

Undang-undang keamanan nasional baru yang kontroversial untuk Hong Kong menjadi perhatian khusus bagi pihak Eropa. Michel mengatakan UE memiliki 'keprihatinan besar' tentang langkah itu, sementara von der Leyen mendesak Beijing untuk mempertimbangkan kembali rencananya.

“Ada diskusi yang terang-terangan dan jujur tentang undang-undang keamanan di Hong Kong,” tambah Wang. Dia menegaskan kembali posisi China bahwa masalah itu adalah urusan internal dan bahwa China menentang segala campur tangan asing.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell, yang bergabung dengan Michel dan von der Leyen untuk pembicaraan itu, telah menolak gagasan sanksi Eropa terhadap Beijing.

Pada 26 Mei, Borrell berpendapat bahwa sanksi terhadap China akan menjadi solusi untuk masalah UE dengan China, yang lebih bersifat politis dan terkait dengan isu-isu strategis. Pandangan ini sebagian mencerminkan status China sebagai mitra dagang terbesar UE setelah Amerika Serikat.

Sumber ketegangan lebih lanjut adalah soal pandemi Covid-19 setelah komisi yang dipimpin von der Leyen menerbitkan laporan tertanggal 10 Juni. Dalam laporan ini, China disebut sebagai 'aktor asing' yang bertanggung jawab menyebarkan disinformasi tentang Covid-19 di UE.

“Uni Eropa sangat aktif dalam membongkar disinformasi. Kami menantang mereka atas fakta-fakta dan angka-angka yang perlu diketahui,” tutur von der Leyen dalam suatu konferensi pers bersama Michel.

Di bidang ekonomi, tujuan utama UE dalam pertemuan pada Senin adalah memberikan dorongan politik untuk negosiasi yang dimulai pada 2013 dengan China mengenai pakta yang akan mengurangi pembatasan China pada perusahaan-perusahaan Eropa.

Dalam pertemuan mereka pada April tahun lalu, kedua belah pihak menetapkan target tanggal akhir 2020 untuk mencapai kesepakatan investasi yang "ambisius".

Sejak itu, Uni Eropa mengatakan tawaran China untuk mengurangi hambatan bagi investor asing tidak cukup banyak menciptakan "lapangan permainan yang lebih adil" bagi perusahaan-perusahaan Eropa.

Uni Eropa, antara lain, mendesak meningkatkan akses di sektor mobil, bioteknologi, telekomunikasi dan layanan komputer, ungkap seorang pejabat senior Eropa kepada wartawan pada Senin.

Von der Leyen mengatakan China perlu memberikan perhatian politik tingkat tinggi jika target akhir tahun untuk adanya sebuah kesepakatan akan memiliki peluang untuk dipenuhi.

“Kami berkomitmen untuk membuat kemajuan yang cepat dan substansial. Kami mengandalkan kepemimpinan China untuk menyamai tingkat ambisi kami,” kata von der Leyen.

Di sisi lain, menurut sebuah pernyataan di situs web Kementerian Luar Negeri China, Presiden Xi mengatakan China dan Uni Eropa harus mempercepat negosiasi pakta investasi. Xi juga mengatakan bahwa kedua belah pihak harus menjaga pasar mereka terbuka satu sama lain.

“Beberapa kemajuan nyata telah dibuat mengenai pakta itu. Kami masih punya waktu setengah tahun sebelum batas waktu yang ditentukan oleh para pemimpin dari dua sisi. Kita harus bersabar,” papar Wang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa china hong kong

Sumber : Antara

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top