Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Timteng Jalur Baru Narkoba, Tantangan Bagi Atase Polri di KBRI

Atasi Kepolisian di Kedutaan Besar Republik Indonesia diminta menjalankan fungsinya untuk melakukan deteksi dini penyebaran narkoba internasional.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  06:01 WIB
Ilustrasi-Barang bukti narkoba jenis sabu yang diselundupkan enam warga negara Malaysia ke Indonesia. - Bisnis/Sholahuddin Al Ayubbi
Ilustrasi-Barang bukti narkoba jenis sabu yang diselundupkan enam warga negara Malaysia ke Indonesia. - Bisnis/Sholahuddin Al Ayubbi

Bisnis.com, JAKARTA - Timur Tengah disinyalir menjadi jalur baru penyebaran narkoba sindikat internasonal.

Atase Polri di KBRI dinilai perlu memaksimalkan keberadaannya dalam melakukan deteksi dini guna memerangi peredaran narkoba ke Indonesia.

Hal itu disampaikan Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy Shiskha Prabawaningtyas, Senin (22/6/2020).

“Jalur baru [penyelundupan narkoba] semakin meningkat dari Timur Tengah. Penting membuat early warning system dalam fungsi KBRI di negara-negara yang terindikasi [produsen narkoba]. Early warning system dengan fungsi interpol dan atase polisi,” kata Shiskha saat menjadi pembicara Webinar Series Geopolitik dan Ancaman Transnasional Narkotika di Tengah Pandemi yang diadakan Universitas Paramadina.

Early warning system Indonesia dalam mengatasi penyelundupan narkoba dari kawasan Timur Tengah, katanya, dapat dengan memaksimalkan keberadaan atase polisi di Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Sayangnya, kata Shiskha, di kawasan Timur Tengah, Atase Polri hanya terdapat di KBRI Jeddah, Arab Saudi.

"Di Timur Tengah yang baru ada atase polisi di Arab Saudi. Bagaimana dengan Iran," kata wanita yang akrab disapa Icha tersebut.

Icha menekankan pentingnya keberadaan atase polisi di perwakilan negara di luar negeri sehingga patut menjadi kajian atau pembahasan mendalam.

Selain dapat menjadi sistem deteksi dini, katanya, atase polisi juga dapat membantu pemulihan hubungan bilateral Indonesia dengan negara lain, karena perbedaan politik negara, misalnya penerapan hukuman mati terpidana narkoba yang mengakibatkan sempat renggangnya hubungan dengan Brasil dan Australia beberapa waktu lalu.

Menurut Icha saat ini jalur baru penyelundupan narkoba ke Indonesia semakin meningkat dari kawasan tersebut, khususnya dari Iran.

Icha menyampaikan pada 2020 saja penyelundupan sabu-sabu dari jaringan internasional Iran yang diungkap penegak hukum melebihi 1,6 ton.

Pernyataan Icha itu terkait keberhasilan tim khusus Satgasus Merah Putih mengungkap penyelundupan sabu jaringan Iran di Sukabumi, Jawa Barat.  pada awal Juni 2020. Tim menangkap lima pelaku beserta barang bukti 402 kilogram narkotika jenis sabu.

Sepanjang 2020, Satgasus Merah Putih berhasil menggagalkan peredaran lebih dari 1,6 ton sabu-sabu. Selain pengungkapan 402 kg sabu-sabu di Sukabumi, dua kasus besar yang berhasil terbongkar yakni 288 kg sabu di Serpong, Tangerang, pada 30 Januari, dan 821 kg sabu di Banten pada 25 Mei 2020.

Dalam kesempatan yang sama, Icha mengingatkan Polri dan instansi terkait untuk tak lengah terhadap penyelundupan narkoba. Apalagi, lanjut Icha, di tengah pandemi ketika seluruh negara di dunia tengah berupaya menstabilkan ekonomi yang terpuruk, termasuk Timur Tengah.

"Perlu antisipasi dan kebijakan untuk antisipasi. Saat ini yang sudah bisa dilakukan Indonesia adalah mencegat. Trennya meningkat, hampir menyentuh 1,7 ton sabu dari Iran beberapa waktu terakhir," katanya.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irine Gayatri menyebutkan selama ini perempuan rentan menjadi korban dalam industri narkoba, baik digunakan sebagai kurir hingga sasaran penyalahgunaan agar pangsa pasar tetap besar.

"Perempuan rentan menjadi korban. Tidak hanya di Asia, tapi juga Eropa dan Amerika Latin. Mereka [perempuan] menjadi transporter," tegas kandidat doktor dari Monash University, Australia tersebut.

Sementara psikolog yang juga Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Tia Rahmania menyebutkan pentingnya penanganan lanjutan bagi para pecandu yang telah menjalani rehabilitasi.

Penangan lanjutan diperlukan agar mereka yang telah menjalani rehabilitasi tak terjerumus kembali ke lingkaran setan narkoba.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

narkoba

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top