Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Risiko Kredit Meningkat, China Khawatirkan Kinerja Perbankan Tertekan

Pemburukan kualitas kredit menyebabkan penyusutan margin dan kemampuan profilitas perbankan di tengah wabah Covid-19 yang masih terus berlanjut.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 26 Mei 2020  |  18:10 WIB
Properti di Guangzhou, China, terlihat dari bawah Jembatan Liede di atas Sungai Mutiara./Bloomberg - Qilai Shen
Properti di Guangzhou, China, terlihat dari bawah Jembatan Liede di atas Sungai Mutiara./Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Regulator perbankan dan asuransi China menyampaikan kredit bermasalah di perbankan saat ini berada pada level yang tinggi akibat dampak dari pandemi virus corona.

Pemburukan kualitas kredit ini menyebabkan menyusutnya margin dan kemampuan profilitas perbankan di tengah wabah Covid-19 yang masih terus berlanjut.

"Kualitas aset di bank-bank kecil juga akan berada di bawah tekanan tahun ini, dan risiko kredit di beberapa lembaga akan terus menumpuk," menurut pernyataan China's Banking and Insurance Regulatory Commission (CBIRC), yang dilansir melalui nytimes.com, Selasa (26/5/2020).

Regulator perbankan dan asuransi China telah memberikan kelonggaran bagi debitur untuk menunda angsuran dan bunga, untuk membantu arus kas debitur terdampak karena penerapan lockdown selama pandemi mewabah.

Kinerja kredit perbankan China pada kuartal pertama tahun ini masih terjaga stabil terepas dari dampak pandemi Covid-19.

Namun dikhawatirkan bank kecil yang memiliki modal tipis, yang juga tidak terlalu ekspansif dalam menyalurkan kredit, akan lebih rentan terhadap dampak yang ditimbulkan dari perlambatan ekonomi.

Di samping itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) ribuan perbankan di daerah pedesaan telah mencapai 4,9 persen per Maret 2020.

Sementara data rasio NPL dari 134 bank komersial di China tercatat naik menjadi 2,49 persen. Kedua data tersebut menunjukkan rasio NPL yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri yang sebesar 2,04 persen.

Namun demikian, para analis memperkirakan jumah piutang yang tidak tertagih jauh lebih besar dari angka yang dilaporkan tersebut.

"CBIRC akan menetapkan target yang dibuat khusus untuk penyelesaian NPL berdasarkan kondisi masing-masing bank, dan bekerja sama dengan biro pajak, bank sentral dan regulator keuangan lokal untuk mempercepat proses penyelesaian NPL," kata CBIRC.

Adapun, CBIRC teah menangani risiko likuiditas pada 109 bank di daerah pedesaan yang dinilai memiliki risiko tinggi pada 2019.

Disebutkan, CBIRC akan terus membantu menyelesaikan risiko bank kecil yang menghadapi krisis likuiditas, dan akan mendesak pemerintah daerah untuk bertanggung jawab mengatasi risiko bank dan lembaga-lembaga di daerah pedesaan.

Tidak hanya di China, sebelumnya Bloomberg melaporkan industri perbankan di Eropa bersiap menghadapi tekanan akibat virus corona (Covid-19). Sektor ini telah berada dalam kondisi yang kurang baik, bahkan sebelum corona mewabah.

Di Jerman, Deutsche Bank AG melihat kinerja penyaluran kredit berpotensi memberatkan pendapatan, sementara Commerzbank AG disebutkan mulai menyisihkan dana yang lebih besar untuk pencadangan.

Bank-bank di Italia pun menghadapi kemungkinan kenaikan kredit bermasalah setelah bertahun-tahun menyelesaikan kondisi ini.

Sementara itu, bank-bank di Swiss menunjukkan pengecualian karena UBS Group AG dan Credit Suisse Group AG telah mengindikasikan jika pendapatan bakal tumbuh.

Bank-bank di Benua Biru bersiap melaporkan kontraksi akibat lockdown yang berdampak pada pendapatan debitur korporasi mereka, dengan ketidakpastian kapan krisis corona berakhir dan jumlah bantuan yang akan diberikan oleh pemerintah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan china Virus Corona
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top