Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cerita Korporasi Thailand, Butuh Uang tapi Sulit Jual Surat Utang

Sejumlah korporasi di Thailand menghadapi tantangan berupa kesulitan jual surat utang padahal membutuhkan uang
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Mei 2020  |  06:49 WIB
Bangkok, Thailand. - Brent Lewin/Bloomberg
Bangkok, Thailand. - Brent Lewin/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA— Cerita korporasi Thailand yang membutuhkan uang tetapi sulit menjual surat utang akibat kontraksi ekonomi dan pandemi vorus corona.

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (12/5/2020), Direktur Keuangan Ananda Development Pcl, Chaiyuth Chunnahacha mengatakan pihaknya terkejut saat bulan lalu hanya bisa menggalang dana separuh dari nilai yang ditargetkan. Salah satu pengembang kondominium terbesar di Thailand itu menggalang dana melalui instrumen surat utang.

Kendati hanya mendapat separuh dari target yang ditetapkan, dia bakal menjajal kesempatan berikutnya melalui penawaran instrumen lain di pasar modal.  

Noble Development Pcl, salah satu pengembang hunian kembali menggunakan pinjaman bank untuk mendanai bisnis dan pembiayaan kembali utangnya setelah menggalang 25 persen dari dana yang ditargetkan.

Adapun, perusahaan berambisi menggalang dana 2 miliar baht atau setara dengan US$62 juta pada April. Kegagalan penawaran surat utang tersebut membuat perusahaan kapok dan enggan menawarkan surat utang lagi hingga akhir tahun.

Presiden Pasar Surat Utang Thailand, Tada Phutthitada mengatakan sebagian besar perusahaan yang memiliki kredit utang rendah akan menghadapi tantangan saat menjual surta utangnya. Alasannya, kondisi ekonomi saat ini sulit bagi kemampuan membayar utang perusahaan.

“Namun, hal ini bukan masalah karena kesehatan finansial sebagian besar bank lokal terjaga dan mampu memberikan dukungan,” katanya.

Direktur Investasi SCB Asset Management Co, Nunmanus Piamthipmanus mengatakan di tengah pandemi sebagian besar investor sangat berhati-hati dengan surat utang korporasi. Padahal, mengacu pada data kasus virus corona di Thailand, kasus positif virus corona hanya sekira 3.000 kasus.

Angka ini tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain dan penambahan kasus hariannya pun tergolong minim. Negara Gajah Putih itu telah mengangkat status karantina wilayah sejak akhir Maret namun hambatan pada perjalanan domestik dan luar negeri masih terjadi.

“Ini akan berlanjut dalam kurun waktu tertntu sampai pandemi ini selesai,” katanya.

Kendati terdapat perusahaan yang sulit menawarkan surat utangnya, beberapa perusahaan mengantre untuk menggalang dana. Perusahaan seperti Charoen Pokphand Foods Pcl, Berli Jucker Pcl dan True Corp. merupakan perusahaan kakap di Thailand yang telah mengumumkan rencana penerbitan surat utang pada akhir Juni.

Adapun, langkah pemerintah untuk menjalankan kembali roda perokonomian akan sangat krusial untuk mendorong minat investor karena beberapa perusahaan Thailand tak pernah menghadapi situasi seperti saat ini dan sekarang tengah memprioritaskan pendapatan dibanding laba.

Bank sentral Thailand telah menyusun program pembelian surat utang untuk mendukung pembiayaan kembali oleh perusahaan. Bank sentral Thailand pun memangkas suku bunga ke 0,75 persen.

Presiden Tris Rating Co, Sakda Pongcharoenyong mengatakan menjalankan kembali beberapa bisnis akan membutuhkan dana segar untuk memenuhi kewajiban utangnya.

“Namun beberapa perusahaan akan menghadapi prospek pendanaan yang sangat sulit karena perlambatan ekonomi melemahkan kemampuan membayar utang,” katanya.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) pada April memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Thailand akan terkontraksi 6,7 persen tahun ini, terparah dibanding negara berkembang lain di Asia. Oleh karena itu, yield premium surat utang denominasi baht telah menyentuh level tertingginya dalam 10 tahun.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

thailand perlambatan ekonomi obligasi korporasi Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Duwi Setiya Ariyanti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top