Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penutupan Pabrik Daging di AS Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Global

AS, Brasil, dan Kanada menyumbang sekitar 65 persen dari perdagangan daging dunia.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 April 2020  |  09:48 WIB
Seorang penjual daging mengiris daging sapi di sebuah supermarket di Princeton, Illinois, AS, Kamis (16/4/2020). - Bloomberg/Daniel Acker
Seorang penjual daging mengiris daging sapi di sebuah supermarket di Princeton, Illinois, AS, Kamis (16/4/2020). - Bloomberg/Daniel Acker

Bisnis.com, JAKARTA - Penutupan pabrik akibat wabah Covid-19 membuat Amerika Serikat (AS) dilanda kekhawatiran kelangkaan daging.

Hampir sepertiga dari kapasitas daging babi di AS mengalami penurunan. Bahkan, pabrik unggas besar pertama ditutup pada Jumat pekan lalu.

Alhasil, para ahli memperingatkan bahwa kekurangan pasokan domestik akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan.

Brazil, eksportir daging ayam dan daging sapi terbesar di dunia, baru-baru ini menutup pabrik unggas milik JBS SA yang selama ini menjadi perusahaan pemasok daging di pasar global.

Produksi daging juga menurun di Kanada. Salah satunya, penutupan pabrik unggas British Columbia. Sementara itu, ratusan pabrik di AS masih berjalan, meskipun gangguan pasokan menimbulkan kekhawatiran tentang kekurangan stok global. Secara keseluruhan, AS, Brasil, dan Kanada menyumbang sekitar 65 persen dari perdagangan daging dunia.

"Ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya," kata Brett Stuart, presiden perusahaan konsultan yang berbasis di Denver Global AgriTrends, dilansir Bloomberg, Senin (27/4/2020).

"Ini adalah situasi untung-rugi di mana kita memiliki produsen yang berisiko kehilangan segalanya dan konsumen dengan risiko membayar harga yang lebih tinggi. Restoran dalam seminggu bisa keluar dari daging sapi segar," lanjutnya.

Sementara itu, produsen daging babi nomor 1 di dunia Smithfield Foods Inc. mengatakan Jumat pekan lalu bahwa pihaknya akan menutup operasi di Illinois. Sebelumnya Hormel Foods Corp menghentikan operasi dua pabrik daging kalkun Jennie-O di Minnesota.  JBS akan menutup fasilitas produksi daging sapi di Wisconsin.

"Selama pandemi ini, seluruh industri kita dihadapkan pada pilihan yang mustahil, terus beroperasi untuk mempertahankan pasokan makanan atau menutup operasi dalam upaya sepenuhnya melindungi karyawan dari risiko," kata Smithfield dalam sebuah pernyataan yang dikutip Bloomberg.

Adapun kondisi itu menyebabkan harga melonjak. Daging sapi grosir AS menyentuh rekor harga tertinggi pekan lalu. Sedangkan daging babi grosir melonjak 29 persen, kenaikan mingguan terbesar sejak 2012. Jersey Mike's Franchise Systems Inc., yang memiliki 1.750 gerai di seluruh AS, bekerja sama dengan pemasok ham Clemens Food Group untuk memastikan pasokan daging babi.

Sejumlah pabrik telah kembali memulai operasi setelah menguji pekerja dan memperbaiki kondisi. Sebagian besar fasilitas produksi di Brazil masih beroperasi. Poin lain yang perlu dipertimbangkan yakni belum ada penutupan pabrik besar-besaran di Eropa. Data pemerintah AS menunjukkan, Uni Eropa menyumbang sekitar seperlima dari ekspor daging global.

Namun, para eksekutif dari Tyson Foods Inc., JBS dan Smithfield telah memperingatkan bahwa konsumen cenderung melihat dampak di toko kelontong.

Perlu dicatat bahwa output dari pabrik di mana infeksi muncul tidak menimbulkan masalah kesehatan karena virus corona bukan penyakit yang disebabkan oleh makanan. Produk dari pertanian atau pabrik produksi dengan kasus yang dikonfirmasi masih dapat dikirim untuk didistribusikan. Namun penghentian produksi berarti tidak ada pasokan baru.

Penutupan ini juga terjadi pada saat pasokan daging global sudah ketat. China, produsen babi utama dunia, telah berjuang melawan wabah Demam Babi Afrika, yang menghancurkan jutaan babi di negara itu. Beberapa perusahaan daging mengambil langkah-langkah memperlambat produksi karena penutupan restoran di seluruh dunia.

Persediaan diperkirakan tidak akan bertahan lama. Total pasokan daging Amerika di fasilitas penyimpanan dingin sama dengan sekitar dua minggu produksi. Sebagian besar penutupan pabrik berlangsung sekitar 14 hari untuk alasan keamanan, yang semakin menggarisbawahi potensi defisit.

Sementara itu, dengan penutupan rumah jagal, petani tidak punya tempat untuk menjual ternak. Hal itu memaksa beberapa produsen ternak untuk membuangnya. Pabrik juga menghadapi krisis tenaga kerja karena karyawan jatuh sakit. Dilaporkan bahwa perusahaan pengolahan ayam besar terpaksa membunuh 2 juta unggasnya awal bulan ini karena kekurangan pekerja.

Situasi untuk peternakan AS sangat parah sehingga Layanan Inspeksi Kesehatan Hewan dan Tanaman sedang mendirikan sebuah pusat untuk membantu mengidentifikasi pasar alternatif yang potensial dan membantu metode depopulasi dan pembuangan.

Sementara itu, sulit untuk mengatakan mengapa virus menyebar begitu cepat di antara karyawan pabrik daging. Beberapa analis mengutip fakta bahwa pekerjaan ini biasanya bergaji rendah dan sering diisi oleh imigran dan migran. Itu berarti para pekerja dapat hidup di tempat yang sempit dengan terkadang lebih dari satu keluarga berbagi tempat tinggal yang sama. Jadi jika satu orang sakit, penyakit tersebut dapat menyebar dengan cepat.

Para karyawan juga berada dalam jarak yang dekat satu sama lain di pabrik. Bahkan jika kecepatan penyebaran virus melambat, pekerja berpotensi besar menyebarkan virus itu dan masih ada peluang untuk berbaur di ruang istirahat dan lorong.

Pada saat yang sama, karyawan federal AS yang bertanggung jawab untuk memeriksa pabrik daging juga jatuh sakit. Lebih dari 100 karyawan layanan inspeksi telah diuji positif virus corona. Setidaknya dua kematian petigas inspeksi telah dilaporkan.

Petugas inspeksi AS melakukan perjalanan antarfasilitas. Hal itu menambah kekhawatiran bahwa penutupan akan terus terjadi jika karyawan federal yang sakit membawa infeksi ke pabrik yang masih bersih dari virus.

Di Brazil, menurut Priscila Schvarcz, seorang jaksa penuntut di kota tersebut, pabrik unggas Passo Fundo JBS di negara bagian Rio Grande do Sul diperintahkan untuk ditutup. Ada sekitar 48 kasus di antara karyawan, dengan 27 tes positif dan lainnya dikonfirmasi melalui kriteria epidemiologis.

JBS mengatakan langkah-langkah yang diterapkan di pabrik didukung penuh oleh laporan dan rekomendasi teknis dari lembaga kesehatan dan spesialis medis. Perusahaan meyakini operasi akan segera dimulai kembali. Penutupan itu terjadi di tengah lonjakan 19 kasus Covid di Brasil.

"Perusahaan daging Brasil telah mengambil banyak langkah pencegahan, tetapi kami tidak melihat kemajuan. Mereka tidak mau mengubah jumlah pekerja dalam shift yang sama, dan kami khawatir tentang itu," kata Jose Modelski Junior, juru bicara Contac, yang mewakili pekerja industri makanan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top